Rabu, 13 Desember 2017 | 06:35 WIB

  • News

  • Hukum

Kapolri Yakin Pembentukan Densus Tipikor Tak Pengaruhi Soliditas di Polri

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian.
Jagratara
Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kapolri Jenderal Tito Karnavian mewacanakan pembentukan Detasemen Khusus Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Bahkan Polri memberikan gaji untuk anggota Densus Tipikor setara dengan penyidik KPK.

Dengan perbedaan gaji antar anggota dikepolisian, Tito memastikan bahwa hal itu tidak akan menggangu soliditas di internal kepolisian. Justru akan memacu anggota Kepolisian untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya sebagai aparat penegak hukum.

"Ada assessment sama seperti KPK. Ada assessment dalam rangka rekrutmen sehingga yang dipilih adalah betul-betul memiliki integritas dan komitmen kepada tugasnya," kata Tito di Mabes Polri, Jumat (13/10/2017).

Menurut Tito, adanya perbedaan gaji dengan satuan kepolisian lainnya merupakan hal yang wajar.

Sebab, nantinya penyidik kepolisian yang bergabung dalam Densus Tipikor akan melalui proses rekrutmen yang ketat.

"Wajar juga kalau mereka yang lulus mendapatkan previlage untuk mendapat sistem penggajian lebih dari yang lain," tambah dia.

Detasemen Khusus (Densus) Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) rencananya akan dijalankan oleh 3.560 polisi.

Tito sebelumnya juga menyatakan keinginanya agar sistem anggaran Densus Tipikor sama seperti KPK, yakni menggunakan system at cost.

Bukan sistem indeks seperti saat ini. Adapun system at cost adalah sistem anggaran berdasarkan anggaran yang dibayarkan berdasarkan kebutuhan.

Nantinya, Densus Tipikor akan dipimpin seorang bintang dua.

Kepala Densus akan bertanggungjawab langsung kepada Kapolri. Satgas Tipikor tersebut akan dibagi kepada tiga tipe, yakni tipe A (enam satgas), tipe B (14 satgas) dan tipe C (13 satgas).

Adapun anggaran untuk membentuk Densus Tipikor mencapai sekitar Rp 2,6 triliun. Tito merinci, anggaran tersebut termasuk untuk belanja pegawai 3.560 personel sekitar Rp 786 miliar, belanja barang sekitar Rp 359 miliar, dan belanja modal Rp 1,55 triliun.

Reporter : Wahyu Praditya Purnomo
Editor : Nazaruli

Apa Reaksi Anda?