Selasa, 21 November 2017 | 07:46 WIB

  • News

  • Kesehatan

Konsumsi Air Gambut dalam Jangka Panjang Bisa Ganggu Kesehatan

Air gambut yang berwarna hitam kecoklatan tidak layak untuk dikonsumsi.
Riau Online
Air gambut yang berwarna hitam kecoklatan tidak layak untuk dikonsumsi.

SIAK, NETRALNEWS.COM - Desy Yarsita, seorang tenaga medis di Kecamatan Sungai Apit Kabupaten Siak, Riau, berhasil merancang pengolahan air gambut menjadi air baku yang sehat untuk dikonsumsi sebagai wujud pelayanan kesehatan pada masyarakat.

"Syarat air bersih adalah tidak berwarna,tidak berbau ataupun memiliki rasa, jadi air gambut itu tidak memenuhi syarat, karena warna dan rasanya payau (tidak enak)," ujar Desy di Siak, Rabu (15/11/2017).

Desy Yarsita adalah seorang perawat yang bertugas di Puskesmas Sungai Apit, Siak. Hasil inovasinya ini mengantarkannya menjadi Tenaga Kesehatan Teladan Kategori Paramedis tingkat Provinsi Riau pada 2016, serta mewakili Riau dalam pemilihan perawat teladan tingkat nasional.

Ia melakukan semua itu karena termotivasi kondisi lingkungan tempatnya mengabdi. Kecamatan Sungai Apit sebagai kawasan gambut memiliki air berwarna hitam kecoklatan, banyak sekali diantara masyarakat wilayah setempat yang masih menggunakannya untuk kebutuhan sehari-hari karena kesulitan memperoleh air bersih.

Apalagi jika kemarau datang, masyarakat akan kesulitan mendapatkan air bersih. Terkadang tidak jarang juga diantara mereka (warga) yang meminum air gambut secara langsung tanpa di masak. Air gambut yang berwarna hitam kecoklatan itu mengandung senyawa organik trihalometan yang bersifat karsinogenik (memicu kanker).

Selain itu, air gambut mengandung logam besi dan mangan dengan kadar cukup tinggi. Konsumsi dalam jangka panjang bisa mengganggu kesehatan. Demikian dikutip dari laman Antara.

Apalagi kondisi air gambut di wilayah setempat saat ini sudah tercemar, baik dari usaha perkebunan perusahaan maupun masyarakat sendiri. Alasan itulah yang membuat Desi untuk tergerak hatinya mencoba menciptakan inovasi dalam penjernihan air (air bersih) secara sederhana yang disebutnya "Water Peat Purification Siak" atau WPPS). Dengan peralatan yang terbilang murah senilai Rp200 ribu, ia pun memulainya pada tahun 2016.

Menurut dia, dalam menciptakan penyaringan air bersih itu ia mencoba mengkombinasikan teori kimiawi dengan teori alir rambat sebagai filtrasinya dengan cara pengendapan.

Setelah terjadi pengendapan asam humat gambut ke dalam sebuah wadah besar atau ember, air tersebut kemudian dialirkan ke dalam pipa filtrasi berisikan pasir dan karbon aktif (arang). Selanjutnya, air bersih dapat dipergunakan.

Editor : Lince Eppang

Apa Reaksi Anda?