Selasa, 12 Desember 2017 | 11:25 WIB

  • News

  • Pendidikan

KPAI: SDN Sadah Tak Penuhi Delapan Standar Nasional Pendidikan

SDN Sadah tak penuhi delapan standar nasional pendidikan.
Titiknol
SDN Sadah tak penuhi delapan standar nasional pendidikan.

SERANG, NNC - Komisioner Bidang Pendidikan Komisi Perlindungan Anak Indonesia ( KPAI) mengatakan, SDN Sadah yang terletak di Keluruhan Keserangan, Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang, Banten memprihatinkan.

Untuk diketahui, kunjungan ini dilakukan KPAI pasca viralnya surat “Sekolahku Bekas Kandang Kerbau” yang ditulis oleh seorang siswi SDN Sadah berinisial D. Surat terbuka ini kemudian diberikan D pada Bupati Serang Tatu Chasanah, namun ada dugaan Bupati merasa isi surat terbuka tersebut upaya untuk membunuh karakter Bupati.

" KPAI menilai kondisi sarana prasarana SDN Sadah masih jauh dari standar minimum jika didasarkan pada Delapan Standar Nasional Pendidikan (SNP). Misalnya ukuran ruang kelasnya yang rata-rata hanya 4 x 4 meter berlantai plester, WC (toilet) hanya satu untuk seluruh siswa, guru dan karyawan, dan tidak memiliki ruang perpustakaan," kata Retno dalam keterangan tertulis yang NNC terima, Jumat (8/12/2017).

Kata Retno, ruang guru juga berada di ruangan yang ukurannya sekitar 2 x 4 meter dengan hanya beralaskan karpet berwarna hijau, tak ada meja dan kursi. Kapasitas listrik sekolah juga hanya 450 watt .

Seluruh ruang kelas, kecuali ruang kelas 6 (enam) merupakan bangunan semi permanen dengan bahan bangunan seadanya. Atap sekolah yang terbuat dari Asbes menjadikan ruangan kelas menjadi sangat panas ketika matahari sudah tinggi, terutama ruang kelas 4 (empat) yang atapnya hanya berjarak sekitar 2 jengkal dari  kepala orang dewasa.

Mayoritas ruang kelas menggunakan papan tulis hitam dengan kapur dan ada 2 ruang kelas yang menggunakan whiteboard.  Ada lapangan cukup luas di belakang sekolah yang berhadapan dengan sawah warga, hanya saja lapangan tersebut terganggu dengan pembuang sampah warga yang berada di sisi kanan lapangan dengan sampah yang menumpuk dan menimbulkan aroma tak sedap.

Jarak teras rumah peduduk yang terdekat dengan teras kelas hanya sekitar 2 meter, sehingga proses pembelajaran memang sangat tidak kondusif. Bahkan, ada ruang kelas yang bersebelahan dengan dapur warga sehingga tercium aroma masakan  saat pembelajaran sedang berlangsung, karena ada ventilasi dapur yang langsung berhubungan dengan ruang kelas.

"Tidak ada kantin sekolah, anak-anak jajan saaat istirahat adalah di warung-warung yang di buka penduduk di teras rumahnya.  Jajanan di dominasi oleh gorengan dan makan semacam chiki," kata Retno.
 
Ruang kelas  1, 2, 3, dan 5 satu deret, sedangkan ruang kelas 4 berada di sisi kanan dan ruang kelas 6 terpisah cukup jauh, bahkan harus melewati kadang bebek jika hendak menuju ke ruang kelas 6 dan ruang Tata Usaha.  Kandang bebek milik warga cukup luas dan berisi ratusan bebek, sehingga menimbulkan aroma yang kurang sedap juga. 

Bahkan, karena keterbatasan ruang, awalnya ruang kerja kepala sekolah untuk sementara menumpang ruang tamu warga yang disekat. Warga sekitar memang bergotong royong membantu berjalannya sekolah, seperti meminjamkan tanah wakaf untuk ruang kelas 6, meminjanmkan gudang padi untuk ruang kelas 4 dan ruang guru. Sebagian tanah dan lapangan sekolah juga dipijamkan warga yang biasa disapa degan “Pak Haji”.  

Komputer dan printer sekolah juga diletakan dirumah salah satu guru yang kebetulan jaraknya dekat dengan sekolah, sehingga semua administrasi yang memerlukan diketik dilakukan dari rumah tersebut.

Sebelum di gusur SDN Sadah memiliki sarana prasarana yang memadai untuk pendidikan. Seperti ruang kelas yang luas, ruang guru, ruang kepala sekolah, memiliki 5 WC (toilet), punya ruang perpustakaan dan sejumlah koleksi buku.
 
"Tujuan pengawasan langsung KPAI adalah  untuk melihat kondisi dan fakta yang sebenarnya,  apakah sesuai dengan yang di tulis Ananda D dalam suratnya atau malah kondisinya lebih memprihatinkan jika didasarkan pada delapan standar nasional pendidikan," kata Retno.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani

Apa Reaksi Anda?