Minggu, 25 Februari 2018 | 20:36 WIB

  • News

  • Ekonomi Mikro

Indonesia Proyeksi Jadi Negara Digital Terbesar di Asia Tenggara

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI), Ngakan Timur.
Kemenperin
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI), Ngakan Timur.

JAKARTA, NNC - Kementerian Perindustrian menyatakan komitmennya untuk terus mengembangkan teknologi yang dibutuhkan oleh industri nasional dalam rangka menghadapi era digital saat ini. Mendorong kerja sama antara Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) dengan beberapa perusahaan rintisan (startup) merupakan langkah yang untuk mewujudkan hal tersebut.

“Kolaborasi lembaga litbang dan startup menjadi kata kunci agar talenta-talenta muda yang merupakan aset bangsa mendapatkan kesempatan untuk masuk dalam global value chain dan mampu bersaing di tingkat internasional,” kata Kepala BPPI, Ngakan Timur Antara dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (15/2/2018).

Menurutnya, Kemenperin senantiasa mendorong pengembangan startup dalam negeri terutama yang mendukung sektor industri digital. “Mereka bisa memperoleh akses terhadap sumber daya yang dimiliki oleh Kemenperin,” kata Ngakan.

Ia mengungkapkan bahwa Kemenperin berupaya menggandeng DTECH Engineering untuk kolaborasi dengan Balai Besar Logam dan Mesin (BBLM) di Bandung, Jawa Barat. BBLM sebagai lembaga litbang di bawah BPPI Kemenperin yang telah berpengalaman mengembangkan berbagai desain produk seperti corn combine harvester, track link tank, landing gear pesawat dan sebagainya.

DTECH Engineering beroperasi di Salatiga, Jawa Tengah. Startup yang didirikan oleh Arfian Fuadi tersebut telah mengerjakan desain untuk ratusan proyek dari perusahaan kelas dunia, mulai dari ultra light aircraft, pulpen, jembatan, chasis mobil, jet engine bracket design, dan jet engine inspection design.

Selain itu, BBLM memiliki kemampuan dalam membina wirausaha baru di bidang teknik desain dan manufaktur. “BBLM siap untuk bekerja sama dalam hal peningkatan kompetensi sumber daya manusia industri maupun sinergi penggunaan sarana litbang,” tambahnya.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat menghadiri World Economic Forum 2018 di Davos, Swiss, beberapa waktu lalu menyatakan, Pemerintah Indonesia tengah fokus menjalin kerja sama dengan sejumlah pihak untuk bersinergi menumbuhkan startup yang bisa menjadi unicorn di Indonesia. “Jadi, ada program link and match untuk entrepreneur dengan startup,” jelasnya.

Pemerintah memproyeksikan Indonesia akan menjadi negara ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara pada tahun 2020 dengan menargetkan 1.000 technopreneur, valuasi bisnis mencapai US$100 miliar, dan total nilai e-commerce sebesar US$130 miliar. “Backbone-nya research center yang aplikatif, seperti Techno Park,” ujar Airlangga.

Menperin meyakini, dengan jumlah populasi yang sangat besar, Indonesia menyimpan potensi ekonomi digital di masa yang akan datang seiring berkembangnya teknologi dan media sosial. Misalnya penetrasi pengguna internet di Indonesia mencapai 133 juta jiwa atau sekitar 50 persen dari total populasi.

Selanjutnya, pengguna aktif media sosial mencapai 115 juta jiwa atau sekitar 44 persen dari total populasi. Penggunaan smartphone juga sudah mencapai 371 juta atau 141 persen dari total populasi. Artinya, sebagian orang yang menggunakan smartphone berjumlah lebih dari satu unit.

Reporter : Irawan Hadi Prayitno
Editor : Lince Eppang

Apa Reaksi Anda?