• News

  • Hukum

Ini Empat Fakta Membuat Aman Abdurrahman Dihukum Mati

Terdakwa Aman Abdurrahman saat jalani sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan
NNC/Anhar Rizki Affandi
Terdakwa Aman Abdurrahman saat jalani sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan

JAKARTA, NNC - Sedikitnya ada empat alasan krusial yang membuat yang menjadi alasan hukuman mati bagi pelaku teror bom di 7 wilayah Indonesia oleh Aman Abdurrahman.

Aman dituduh telah membuat warga masyarakat 'tidak aman dan nyaman' seperti sikapnya yang membumihanguskan berbagai fasilitas bahkan nyawa manusia di muka bumi. Tercatat ada 7 wilayah yang dipetakah untuk dibom oleh Aman Cs. 

Jaksa dalam surat tuntutan menyebut sedikitnya ada empat alasan krusial yang telah dilakukan oleh terdakwa dalam merencanakan aksi teror bom di sejumlah wilayah di Indonesia melalui kelompok JAD. 

Fakta Pertama, aksi teror bom di gereja Samarinda pada 13 November 2016, Pelaku teror ini menurut jaksa ikut dalam pertemuan JAD di Malang.

Fakta Kedua, teror bom Kampung Melayu pada 24 Mei 2017 yang dilakukan Muhammad Iqbal alias Kiki.

Dalam aksi tersebut kata Jakasa Penuntut, Muhammad Iqbal adalah murid terdakwa dan berada dalam satu sel tahanan dengan terdakwa di Lapas Nusakambangan yang dipesankan terdakwa untuk meneruskan dakwah tentang tauhid, kata jaksa.

Fakta Ketiga, peristiwa teror pada 25 Juni 2017. Dalam teror penyerangan terhadap polisi di Polda Sumatera Utara. Dalam teror ini, satu orang polisi gugur karena diserang menggunakan senjata (Sajam). 

"Syawaluddin Pakpahan dan teman-temannya melakukan amaliyah dengan menyerang Mapolda Sumatera Utara dan membunuh anggota polisi. Syawaluddin Pakpahan meskipun tidak pernah bertemu muka dengan terdakwa namun sudah lama mengenal nama terdakwa dari buku Seri Materi Tauhid yang dikarang terdakwa dan dibaca dan dipahami Syawaluddin Pakpahan," kata jaksa dalam membacakan tuntutan di PN Jakarta Selatan, Jumat (18/5/2018). 

Fakta Keempat, pada Senin 11 September 2017, teror penembakan anggota polisi di Bima NTB dengan pelaku Muhammad Iqbal Tanjung alias Iqbal alias Usamah bersama temannya.

Jaksa menyebut, Muhammad Iqbal Tanjung juga mendapatkan pemahaman tauhid sebagaimana yang disampaikan terdakwa, antara lain tentang syirik demokrasi.

"Bahwa terdakwa juga menganjurkan para pengikut untuk hijrah ke Suriah untuk bergabung dengan Daulah Khilafah Islamiyah," papar jaksa.

Dijelaskan,  teror bom dan penyerangan ke anggota polisi menurut jaksa terjadi setelah dibentuknya Jamaah Ansharut Daulah (JAD) pada pertemuan di Malang pada November 2014 lalu.

"Setelah acara di Malang yang berhasil membentuk pengurus, maka seluruh amir wilayah mulai melaksanakan kegiatan-kegiatan mendukung Daulah Islamiyah serta mempersiapkan kegiatan amaliah jihad memerangi kaum kafir seperti halnya di Indonesia sebagaimana ceramah terdakwa," papar jaksa.

Sebelumnya, Jaksa menyatakan Aman melanggar Pasal 14 jo 6 dan Pasal 14 jo 7 UU No 15/2003 tentang pemberantasan tindak terorisme. Perbuatan Aman juga menghilangkan nyawa anak dalam peristiwa bom Samarinda.

Ada pun, sejumlah teror yang digerakkan Aman di antaranya bom Gereja Oikumene di Samarinda, bom Thamrin, bom Kampung Melayu, serta penembakan polisi di Sumatea Utara dan Bima, Nusa Tenggara Barat.

Reporter : Dominikus Lewuk
Editor : Firman Qusnulyakin

Apa Reaksi Anda?