• News

  • Lingkungan

Demi Perubahan Iklim, Bank di ASEAN Wajib Lakukan Hal Ini

Ilustrasi
dok.Istimewa
Ilustrasi

SINGAPURA, NNC – WWF mengeluarkan laporan tahunan yang menyatakan bahwa bank-bank terbesar di kawasan ASEAN semakin sadar akan dampak bisnisnya terhadap lingkungan dan masyarakat, namun kesadaran itu lambat ditransformasikan menjadi tindakan, padahal potensinya besar untuk mengatasi perubahan iklim dan membiayai sistem ketahanan pangan, energi dan infrastruktur yang berkelanjutan.

Kawasan ASEAN sangat rentan terhadap perubahan iklim yang bisa memperburuk ketahanan pangan dan air. Semakin lambat bertransformasi, bank-bank akan kehilangan kesempatan ikut mendorong pembangunan berkelanjutan dan mitigasi risiko perubahan iklim yang dapat mempengaruhi arus neraca mereka.

Laporan tersebut mengungkapkan bahwa sektor perbankan ASEAN tidak menginformasikan cara mengelola risiko perubahan iklim sesuai rekomendasi Taskforce for Climate-related Financial Disclosure (TCFD)—sebuah satuan tugas yang digagas oleh negara G-20.

Dari 34 bank yang diriset, hanya empat yang memiliki pengawasan terhadap risiko dan peluang perubahan iklim dalam jajaran manajemen seniornya.

Selain itu, tidak ada bank yang mengungkapkan untuk meninjau ulang portofolionya atau mengungkapkan apakah portofolio mereka sejalan dengan Paris Agreement atau Sustainable Development Goals(SDGs).

“Isu keberlanjutan merupakan tantangan nyata bagi sektor keuangan, karenanya pemerintah telah mengeluarkan aturan keuangan berkelanjutan di tahun 2017. Sudah seharusnya para lembaga jasa keuangan bertindak serius dan mendemonstrasikan komitmen melalui pengungkapan dan transparansi dalam strategi, kebijakan serta implementasinya,” ucap Rizkiasari Yudawinata, Manajer Keuangan Berkelanjutan, WWF-Indonesia.

Empat bank Indonesia yang dinilai dalam laporan ini, yakni BCA, Bank Mandiri, BNI dan BRI yang tergabung dalam First Movers on Sustainable Banking, telah menunjukkan kepemipinannya melalui perbaikan kebijakan dan prosedur Lingkungan, Sosial dan Tata Kelola (LST).

Sebagai contoh, BNI dan BRI telah mengungkapkan resume kebijakan pembiayaan sawit dan BNI telah membangun struktur organisasi yang mengakomodir fungsi dan tugas keuangan berkelanjutan.

Hanya lima bank yang mengakui adanya resiko deforestasi sebagai penyumbang utama perubahan iklim dalam aktivitas klien mereka dan hanya dua risiko ketersediaan air yang diakui. Peter Ferket, Kepala Investasi Robecoyang mengelola aset sebesar EUR 167 miliar menyampaikan ekspektasinya,

“Kami mendahulukan keberlanjutan dalam sektor minyak sawit melalui perusahaan, juga dialog konstruktif dengan bank-bank di ASEAN yang membiayai industri ini. Strategi ini memungkinkan kita mencapai solusi bersama untuk menghentikan laju kehilangan hutan, mencegah eksploitasi pekerja dan berkontribusi pada pembangunan ekonomi berkelanjutan di ASEAN.”

“Lembaga jasa keuangan dapat bergabung untuk mulai menerapkan keuangan berkelanjutan dan mendapatkan berbagai akses manfaat termasuk peningkatan kapasitas guna mendukung penerapan keuangan berkelanjutan efektif secara operasional,” tambah Rizkiasari.

Untuk memenuhi sebuah komitmen iklim dan keberlanjutan, para bank harus mengambil tindakan kongkrit. Mereka harus mengembangkan dan mengungkapkan kebijakan dan prosedur LST yang terperinci, termasuk kriteria berbasis sains spesifik untuk risiko kunci LST. Misalnya, bank menerapkan kebijakan ‘tidak membuka hutan’ untuk komoditas berbasis lahan dan infrastruktur.

Reporter : Vito Adhityahadi
Editor : Tommy Satria Ismaya Cahya

Apa Reaksi Anda?