• News

  • Pendidikan

Soal Sel SMK di Batam, Besok KPAI akan Awasi Langsung

Ilustrasi penjara.
Evening Report
Ilustrasi penjara.

JAKARTA, NNC - Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan Retno Listyarti mengatakan, pihaknya akan melakukan pengawasan langsung kekerasan siswa SMK di Batam.

Retno mengatakan, KPAI mengapresiasi Gubenur Kepulauan Riau (Kepri) atas kesediaannya memfasilitasi rapat koordinasi antar lembaga terkait kasus dugaan kekerasan dan adanya ruangan konseling yang mirip ruang tahanan di salah satu SMK di Batam. Rapat koordinasi tertutup akan dilaksanakan pada Senin (17/9/2018), pukul 11.00 WIB bertempat di kantor Gubenur Kepri.

"Rapat koordinasi akan dihadiri KPAI, Kompolnas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan  Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait seperti Dinas Pendidikan, Dinas PPA/P2TP2A, dan Inspektorat  Provinsi Kepulauan Riau, KPPAD KEPRI dan perwakilan Kapolda KEPRI. KPAI sendiri diwakili oleh saya sendiri dan didampingi seorang asisten," kata Retno, Minggu (16/9/2018).

Menurutnya, setelah rapat koordinasi di kantor Gubenur, KPAI dan Kompolnas akan langsung menuju Batam, karena Selasa (18/9/2018) KPAI dan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) akan bertemu ananda RS (17) dan keluarganya. Pada siang harinya, KPAI dan Kompolnas akan pengawasan langsung ke sekolah.

Seperti diketahui RS merupakan korban sel tahanan SMK swasta di Batam. RS yang diduga melakukan pelanggaran berat mengalami kekerasan dengan sampai tangannya di borgol dan mengalami tekanan psikologis karena merasa di permalukan di media social (cyber bully).

RS telah dituduh mencuri uang saat Praktik Kerja Lapangan (PKL), namun RS tidak mau mengakui karena merasa bukan dia yang mencuri. RS kemudian berusaha kabur dan tertangkap oleh pelaku kekerasan yakni pemodal sekolah berinisial ED yang merupakan anggota kepolisian.

ED juga membawa serta "siswa istimewa" yakni anak-anak yang dianggap sebagai tangan kanan nya. Saat ditangkap RS menerima tindak kekerasan dari ED dan didokumentasikan oleh siswa istimewa.

Hasil dokumentasi juga disebarluaskan melalui gawai pribadi RS yang disita ED. Menggunakan gawai RS, ED sebarkan dokumentasi kekerasan dan dibagikan ke keluarga RS, berbagai media sosial RS dan dijadikan foto profile WhatsApp RS.

"Baru kali ini (sel di dalam sekolah). Ada yang paling lama dimasukkan dalam sel adalah dua malam," tegas Retno.

Editor : Lince Eppang

Apa Reaksi Anda?