• News

  • Nusantara

Kemensos Satukan Kembali Keluarga yang Terpisah saat Gempa dan Tsunami

Kemensos gelar reunifikasi anggota keluarga korban hilang dampak gempa dan tsunami Sulteng.
Humas Kemensos
Kemensos gelar reunifikasi anggota keluarga korban hilang dampak gempa dan tsunami Sulteng.

PALU, NNC - Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial (Kemensos) Harry Hikmat yang tengah berada di Sulawesi Tengah (Sulteng) memantau proses penanganan kroban bencana pada masa tanggap darurat. Dia mengatakan perlindungan terhadap kelompok rentan yakni anak-anak, lansia, ibu hamil dan penyandang disabilitas menjadi prioritas Kemensos pada masa tanggap darurat bencana.

Proses menyatukan kembali atau reunifikasi dilakukan Satuan Bakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos) dan Tim Rehabilitasi Sosial Anak Kemensos ini bisa menjadi pembelajaran semua pihak.

"Upaya untuk memastikan reunifikasi tidak mudah. Banyak pihak yang harus terlibat dalam pencegahan atas keterpisahan anak dengan keluarga. Maka peran masyarakat sangat penting," kata Harry, seperti keterangan tertulis yang NNC terima, Minggu (14/10/2018).

Sekretariat Bersama Perlindungan Anak yang didirikan Kemensos dengan dukungan UNICEF membuka pos pelaporan untuk masyarakat jika menemukan anak yang terpisah dari orangtua atau keluarganya.

Setelah laporan diterima, Pekerja Sosial mencatat data si anak untuk dicocokkan dengan laporan kehilangan anak yang biasanya didagtarkan oleh orangtua atau keluarga terdekat.

Selain pencocokan data, foto anak tersebut juga akan disebarluaskan disertai dengan informasi kontak Sekretariat Bersama di nomor 1500771 yang merupakan hotline service Telepon Pelayanan Sosial Anak (TEPSA).

Proses reunifikasi, Kemensos berhasil mempertemukan Fikri (7) dengan Marta (65) nenek dari Fikri yang keduanya terpisah saat gempa dan tsunami terjadi di Kota Palu.

"Alhamdulillah saya bersyukur dan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak akhirnya cucu saya bisa ditemukan. Saya keliling mencari dia di tenda-tenda pengungsian, saya ke rumah sakit, saya buka kantong-kantong mayat mana tau dia ditemukan meninggal. Tapi ternyata dia masih hidup," tutur Martha seraya memeluk cucunya.

Fikri adalah anak hilang keempat yang berhasil dipertemukan kembali dengan orangtuanya setelah dilakukan pelacakan dan penelusuran oleh Sakti Peksos.

Martha menuturkan sesaat sebelum gempa, Fikri dan kakaknya Mufti (10) bersiap untuk salat maghrib. Fikri hendak berganti celana panjang ketika gempa mengguncang. Sang nenek lantas menarik tangan Fikri dan ketiganya keluar rumah dan lari menembus kerumunan orang yang juga berlari menyelamatkan diri ke jalan raya.

"Saat lari itulah Fikri terlepas dari genggaman saya," ucap Martha dengan mata berkaca-kaca seraya memeluk Fikri. 

Direktur Rehabilitasi Sosial Anak Kemensos Nahar mengatakan menurut pengakuan Fikri, ia hanyut terbawa arus air dan tersangkut di trotoar. Selama semalam ia tak sadarkan diri dan kemudian tertidur.

"Keesokan harinya ia dibangunkan seseorang lalu dibawa untuk ditolong. Yang menolong juga berusaha mencari orang tuanya yang kemudian pulang ke daerah asalnya di Morowali. Setelah saling mencari antara yg menolong anaknya dan ayahnya yang juga mencari, selanjutnya informasi tersebut ditindaklanjuti Sakti Peksos," katanya.

Sejak kecil Fikri tinggal bersama dua kakaknya dan neneknya di Palu. Orangtuanya berada di Gorontalo bersama tiga saudara kandungnya yang lain. Saat reunifikasi, ayah Fikri yang bernama Iqbal juga hadir.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Irawan.H.P

Apa Reaksi Anda?