• News

  • Nusantara

Inilah Singkawang, Kota Paling Toleran di Indonesia

Salah Satu Sudut Kota Singkawang
istimewa
Salah Satu Sudut Kota Singkawang

JAKARTA, NNC – Setara Institue menempatkan Kota Singkawang di Kalimantan Barat menjadi kota paling toleran dalam kehidupan warganya. Seperti apa profil kehidupan kota ini yang sebenarnya?

Kota yang dalam bahasa mandarin hakka disebut San Khew Jong (artinya gunung mulut laut) ini memiliki jarak 145 kilometer arah utara Ibu Kota Kalimantan Barat, Pontianak. Kota ini dibentuk pada 2001 lewat Undang-Undang Nomor 12 tahun 2001. Dengan mengggunakan kendaraan roda empat dari Pontianak, Singkawang yang berpenduduk 300-an ribu jiwa ini bisa ditempuh dengan waktu 2,5 jam.

Profil demografi keagamaanya terdiri dari Islam 53,80%, Buddha 29,96%, Protestan 5,21%, Kong Hu Cu 2,68%, Hindu 0,02%, Katolik 7,97%, dan lain-lain 0,6%.

Sebelum menjadi sebuah kota yang ramai seperti sekarang, Singkawang adalah sebuah desa di bawah Kesultanan Sambas. Desa ini dulunya adalah tempat singgah pedagang dan penambang emas dari etnis Tionghoa yang ingin ke Monterado, Kabupaten Bengkayang pada awal abad ke-19.

Dari waktu ke waktu, Singkawang menjadi ramai, sehingga penambang emas itu memilih menetap di desa itu. Mereka melihat Singkawang punya masa depan yang baik, karena memiliki pantai dan berbatasan langsung dengan laut Natuna yang strategis.

Sekarang Singkawang sudah maju. Perekonomian berkembang pesat, sehingga menjadi kota terbesar kedua di Kalimantan Barat setelah Pontianak. Di mana-mana tumbuh pusat perekonomian, terutama kulinernya. Masyarakatnya pun beragam. Mulai dari etnis melayu, dayak, tionghoa, bahkan sekarang jawa juga sudah berkembang.

Tidak bisa dipungkiri bahwa Singkawang amat didominasi budaya tionghoa, karena etnis tionghoa berperan besar dalam mengembangkan kota ini. Dominannya budaya tionghoa pun ikut menyuburkan berdirinya tempat ibadah mereka, kelenteng dan wihara.

Di kota ini, tumbuh kelenteng-kelenteng sebagai pusat keagamaan Kong Hu Cu dan wihara sebagai tempat ibadah Buddha. Tidak salah jika Singkawang juga dijuluki Kota Seribu Klenteng. Itulah sebabnya, Singkawang sangat meriah dalam merayakan hari besar etnis tionghoa, seperti Cap Go Meh, Ceng Beng, Tatung, dan Imlek.

Dan, festival Tatung di Singkawang menjadi yang terbesar di dunia. Tatung adalah perpaduan budaya tionghoa dan dayak.

Selain warna budaya tionghoa yang menonjol, Singkawang juga diwarnai adat dayak. Berbagai upacara adat dayak seperti Naik Dango yang menjadi kegiatan ritual seputar panen padi adalah ungkapan syukur masyarakat dayak kepada Sang Pencipta digelar meriah.

Di kota yang bangunannya didominasi warna merah dan keemasan ini nyaris tenteram. Tiada gesekan berarti antarwarganya, apalagi gesekan karena perbedaam suku, agama, ras, dan antargolongan. Inilah yang menarik kalangan investor untuk berusaha di sana.

Industri wisata, khususnya kuliner pun berkembang pesat di kota ini. Mudah sekali menemukan pusat wisata yang menarik mata dan lidah untuk dikunjungi dan dirasakan.

Mereka yang menyukai laut dan keindahan alam bisa mengunjungi air terjun Sibohe.

Air terjun yang terletak  di Desa Pejintan ini merupakan air terjun yang masih alami dan belum banyak orang yang tahu. Air terjun Sibohe ini terletak sekitar  7 km dari pusat kota Singkawang. 

Waktu terbaik untuk mengunjungi Sibohe adalah pada  waktu siang. Karena saat siang hari terik matahari akan secara otomatis masuk ke dalam kolam yang berada pada air terjun tersebut. Di sekitar air terjun tersebut ada akar pohon besar dan batang pohon yang tentunya menambah keindahan dari air terjun ini.

Ada juga Palm Beach. Tempat wisata ini berada tepat di Jalan Raya Singkawang. Palm Beach mempunyai pemandangan perbukitan kecil yang indah dan anda juga dapat menikmati matahari terbenam di tempat tersebut.

Mereka yang suka belanja sambal wisata religi Kong Hu Cu bisa berkunjung ke Pasar Hong Kong dan Kelenteng. Waktu terbaik untuk mengunjungi kelenteng di sini adalah menjelang sore, karena tidak akan menganggu orang yang sedang beribadah di siang harinya.

Tempat beribadah lain seperti masjid dan gereja tetap tersedia, namun jumlah kelenteng masih jauh lebih banyak. Itu karena mayoritas penduduk Singkawang adalah keturunan tionghoa yang memeluk agama Kong Hu Cu.

Ada juga Masjid Raya Singkawang yang dibangun sejak 1885. Masjid ini lokasinya berdekatan dengan wihara Tri Darma Bum Raya. Walau berbeda ajaran, namun dua tempat ibadah itu tenteram berdampingan. Ini menandakan bahwa kehidupan umat beragama di kota ini penuh tenggang rasa.

Editor : Krista Riyanto

Apa Reaksi Anda?