• News

  • Politik

Pemecatan BBP Janggal? Kapitra ke Kubu Prabowo: Makanya Kurang-kurangi Buat Hoaks

Surat Pemecatan Bagus Bawana Putra yang beredar luas
Istimewa
Surat Pemecatan Bagus Bawana Putra yang beredar luas

JAKARTA, NNC - Beredar di media sosial surat pemecatan Bagus Bawana Putra (BBP) sebagai Wakil Ketua Umum Dewan Koalisi Relawan Nasional (Kornas) Prabowo. Surat pemecatan itu ditandatangani oleh Ketua Umum dan Sekjen Kornas Prabowo, Lefiandi Airlangga dan Ricky Sebastian Hafis.

Surat ini beredar luas setelah BBP diringkus aparat kepolisian dan menjadi tersangka kasus hoaks tujuh kontainer surat suara tercoblos untuk capres-cawapres nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin.

Namun surat ini justru menjadi perhatian dan perbincangan hangat sejumlah pihak, terutama soal tanggal pemecatan BBP dan logo dua jari yang menjadi nomor urut capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Pasalnya, surat tersebut dikeluarkan 24 Juli 2018 dan sudah dibubuhi stempel salam dua jari, sedangkan penetapan nomor urut capres-cawapres baru dilakukan pada 21 September 2018.

Hal ini juga mendapat sorotan dari politisi PDIP, Kapitra Ampera. Ia berpendapat, surat pemecatan BBP terlalu dipaksakan dengan tujuan untuk menyangkal BBP sebagai relawan Prabowo-sandi, sayangnya pembuat surat tersebut kurang cerdas.

"Sayang ya, buat surat pemecatan dengan tanggal mundur tapi kurang sempurna dan cerdas dan terlalu dipaksakan, jadi seolah olah BBP itu bukan relawan kubu sebelah," kata Kapitra lewat pesan singkat kepada NNC, Jumat (11/1/2019).

"Untunglah masyarakat sudah cerdas dan nggak percaya begitu saja karena pengundian nomor urut Capres kan  tanggal 21 September 2018, tapi disurat tanggal 24 Juli 2018, itu kok sudah ada logo dan stempel dua jari gitu?" sambungnya.

Karenanya, mantan kuasa hukum Imam Besar FPI Habib Rizieq Syihab ini menyarankan agar kubu Prabowo-Sandi tak lagi membuat hoaks, karena hal tersebut akan menjadi bumerang buat diri sendiri.

"Makanya, kurang-kurangi bikin hoaks. Karena kebohongan memerlukan kebohongan lainnya untuk menutupi kebohongan," tegas Kapitra.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Firman Qusnulyakin

Apa Reaksi Anda?