• News

  • Sisi Lain

Tidak Diterima Keberadaannya, Arwahnya Menggerayangi dan Mencakar Kaum Ibu

Satu kantong plastik diduga janin ditemukan di belakang rumah Yamini, Magelang
tribratanews
Satu kantong plastik diduga janin ditemukan di belakang rumah Yamini, Magelang

MAGELANG, NNC - Nasib sial dialami seorang ibu berdarah Manado, yang mengaku bernama Ratna (49). Saat ia berkunjung ke rumah saudaranya di Desa Ngargoretno, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, tak diduga ia mengalami kejadian misterius.

Kepada NNC, pada Minggu (10/02/2019) ia menuturkan, “Saya ke Magelang, berniat membuka usaha baru di sana. Kebetulan di situ ada kakak saya. Dan suatu sore, menjelang maghrib, saya  mengalami penampakan mistis.”

Saat melintasi jalanan yang gelap, dari kaca mobil yang dikendarai suaminya, Ratna melihat sesosok anak balita sedang merangkak di pinggir jalan. Karena penasaran dan tergerak hatinya, Ratna meminta suaminya menghentikan mobil mereka.

Maksud hati, Ratna ingin menggendong dan mencarikan orang tuanya. Ratna pun turun dari mobil. Namun begitu sosok itu diangkat, Ratna terperanjat. Wajah anak itu pucat, bagian matanya hitam berlubang.

“Belum hilang kaget saya, anak itu meronta, berusaha menjambak, mencakar, dan menggigit saya,” kata Ratna mengenang kejadian tersebut. Sontak, Ratna melepas gendongannya dan mengindar dari serangan anak itu.

Sosok itu kemudian melompat dan merangkak dengan cepat, kemudian menghilang di balik semak belukar.  Ratna segera berlari ketakutan dan masuk ke mobil. Mereka pun segera meninggalkan tempat itu.

Setelah merasa tenang, Ratna dan suaminya sadar dan merasa yakin, mereka baru saja berjumpa dengan hantu cibbiu.

Dalam tradisi lisan di Manado, Sulawesi, sosok hantu cibbiu bukanlah sesuatu yang asing. Menurut Ratna, sosok hantu cibbiu memang biasanya mengganggu kaum ibu. Konon roh halus itu sebenarnya merindukan kasih sayang seorang ibu.

“Hantu cibbiu dalam kepercayaan masyarakat Sulawesi adalah perwujudan arwah bayi korban aborsi atau anak yang mati akibat tindak kekerasan atau akibat ditelantarkan orang tuannya,” papar Ratna.

Bagi Ratna, kisah mengenai hantu cibbiu pada hakikatnya merupakan pesan agar jangan pernah sekali-kali melakukan kesewenangan kepada anak yang lemah, misalnya dengan melakukan aborsi.

Banyak kejadian, bayi dalam rahim perempuan, ternyata tidak dikehendaki. Ibu dan ayahnya menolak keberadaannya. Aborsi pun ditempuh. Dan kalau aborsi tidak berhasil, anak itu mengalami penganiayaan. Tak jarang hingga mengalami ajal.

“Sosok bayi dalam kandungan maupun yang sudah lahir namun tidak diterima keberadaannya, sungguh tragis. Saya ikut prihatin. Makanya, setelah kejadian yang saya alami tersebut, saya langsung menuju gereja, khusus untuk mengirim doa,” kata Ratna.

Menurutnya, hantu cibbiu tidak perlu dikutuk. Roh halus itu justru membutuhkan doa-doa khusus agar bisa membuatnya tenang dan mati dengan sempurna menuju alam akhirat.

Saat Ratna ditanya, siapa sesungguhnya hantu cibbiu yang ia jumpai. Ia berusaha menghindar. Hal ini justru membuat penasaran.

Setelah didesak, baru ia mau berkomentar. “Sebenarnya saya tidak tahu secara pasti tentang asal-usul sosok cibbiu yang menampakkan diri kepada saya. Namun bila didesak, saya hanya bisa berpendapat, bisa jadi, roh itu adalah korban aborsi di daerah  sekitar Magelang.”

Jawaban Ratna mengingatkan kenangan kelam pada Juni 2018. Adakah hubungannya?

Seperti diberitakan banyak media massa, di Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, pernah terjadi kasus menghebohkan. Yamini (67), seorang nenek yang dikenal sebagai tukang pijat dan dukun beranak, ditangkap dan ditahan polisi karena kasus aborsi ilegal.

Dalam penyelidikan di belakang rumahnya, ditemukan 20 kantong berisi janin yang telah menjadi korban praktik aborsi. Atas perbuatannya, Yamini harus menjadi pesakitan dalam penjara di masa tuannya.

Namun, saat mengaitkan antara berita Yamini dengan penampakan sosok cibbiu, sekali lagi Ratna tidak bisa menjawab dan berusaha menghindari pertanyaan itu.

“Wah maaf, saya bukan paranormal. Saya hanya berharap, semoga kasus Yamini tidak terulang lagi. Setiap anak dalam kandungan, hendaknya diterima dan dibesarkan oleh kedua orang tuannya. Itu saja harapan yang bisa saya sampaikan,” pungkas Ratna.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?