Minggu, 23 Juli 2017 | 21:35 WIB

  • News

  • Nasional

Denny Siregar: Perang Besar Jokowi (3)

 Penulis Denny Siregar dan Jokowi (salafynews)
Penulis Denny Siregar dan Jokowi (salafynews)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Penulis Denny Siregar mencoba menganalisa dampak diterbitkannya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas), terhadap Presiden Joko Widodo.

"Jadi sangat beralasan ketika kita melihat bahwa akan ada gerakan-gerakan besar untuk menurunkan Jokowi atau minimal menghadang langkahnya di Pilpres 2019 nanti. Jika Jokowi menang lagi, situasi tidak akan menjadi lebih baik dari sebelumnya," tulis Denny di akun Facebooknya, Jumat (14/7/2017).

"Kopi saya mendadak pahit membayangkan bahwa Pilpres 2019 akan menjadi Pilpres terpanas kita sesudah sekian lama kita menghadapi situasi pemilu yang berlangsung aman. Saya selalu berharap analisa saya salah dan semoga salah," tandasnya.

Berikut analisa lengkap Denny soal Perppu Ormas dan dampaknya bagi Presiden Jokowi.

PERANG BESAR JOKOWI (3)

Benar saja, isu Islam vs PKI mulai bergerak kemana-mana..

Isu "Islam vs PKI" yang sempat menghangat dan diredam oleh perintah gebuk dari Presiden Jokowi, kembali dihangatkan sesudah keluarnya Perppu pembubaran ormas radikal.

Sejarah pertikaian partai Masyumi dan PKI kembali diangkat ke permukaan..

Sebagai catatan, Partai berbasis Islam Masyumi dan Partai Komunis Indonesia, pada tahun 1954, mempunyai hubungan yang sangat panas..

Panasnya hubungan mereka waktu itu bahkan dikaitkan dengan konfrontasi perang dingin AS dan Uni Sovyet. Masyumi menuding PKI sebagai antek Sovyet, sedangkan PKI menuding lawannya sebagai tangan Amerika.

Selain bentrok besar yang terjadi di Malang dan Jakarta, mereka juga melakukan perang media. Masyumi dengan majalah Hikmah dan koran Abadi, sedangkan PKI menggunakan harian Rakjat. Dalam perang Media itu mereka sama-sama "mensesatkan" lawannya..

Konflik itu semakin panas ketika Presiden Soekarno membubarkan Masyumi. Alasan Soekarno adalah karena partai itu terlibat dalam pergerakan PRRI atau Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia.

Maka keluarlah Keppres no 200 tahun 1960, sebagai pembubaran Masyumi..

Disinilah dimulai penggorengan isu bahwa Soekarno adalah bagian dari PKI dan musuh Islam. Isu ini dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga 5 tahun kemudian terjadilah peristiwa fenomenal pembantaian PKI..

Melihat sejarahnya, ada kemiripan yang diangkat sebagai senjata dengan keluarnya Perppu pembubaran ormas radikal...

Keluarnya Perppu itu membangun stigma kepada Presiden Jokowi bahwa ia mirip dengan Soekarno - sebagai musuh Islam.

Isu ini dikaitkan dengan isu bahwa Jokowi dan istana sekarang ini dikuasai oleh PKI. Tudingan oleh Alfian Tanjung kepada Teten Masduki bahwa ia PKI adalah bagian dr propaganda bahwa istana sudah dikuasai.

Isu ini akan dihangatkan kembali berkaitan dengan panasnya perundingan tentang penguasaan Freeport oleh pihak pemerintah. Pemerintahan Jokowi akan dituding pro kebijakan Timur - Rusia & China.

Dan Amerika akan masuk melalui partai yang selama ini pro dengan mereka. Dan kita tahu, Gerindra dan Demokrat sangat kuat hubungannya dengan Amerika..

Pemanfaatan nama "umat Islam" akan semakin dikuatkan, berkaitan dengan terancamnya HTI dan ormas radikal lain dibubarkan dengan keluarnya Perppu. Pesantren-pesantren yang menjadi basis dukungan mereka selama ini akan dirapatkan barisannya.

Tidak mudah memang tugas pemerintah saat ini. HTI sudah berakar lama di semua elemen pemerintahan karena memang ruang mereka dibuka selama ini sebelum Jokowi berkuasa. Mulai dari institusi pendidikan sampai lembaga kehakiman dikuasai mereka.

Bahkan TVRI - sempat mengadakan siaran langsung Muktamar Khilafah HTI. Bayangkan, stasiun televisi pemerintah menayangkan siaran gerakan anti pemerintah..

Jadi sangat beralasan ketika kita melihat bahwa akan ada gerakan-gerakan besar untuk menurunkan Jokowi atau minimal menghadang langkahnya di Pilpres 2019 nanti...

Jika Jokowi menang lagi, situasi tidak akan menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Kopi saya mendadak pahit membayangkan bahwa Pilpres 2019 akan menjadi Pilpres terpanas kita sesudah sekian lama kita menghadapi situasi pemilu yang berlangsung aman..

Saya selalu berharap analisa saya salah dan semoga salah..

Seruput dulu ah..

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Wulandari Saptono

Apa Reaksi Anda?