Minggu, 24 September 2017 | 10:11 WIB

  • News

  • Opini

Memberi Keadilan tanpa Merugikan

Prof. Dr. Haryono Suyono
knibonline.wordpress
Prof. Dr. Haryono Suyono

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Hari ini ada seminar yang sangat diharapkan oleh para pensiunan yang sejak menjabat sebagai pegawai negeri telah bertekad menjadi abdi negara sepanjang hayatnya. Tekad berjuang mengantar anak bangsa itu tidak pernah surut bahkan sampai usianya yang sangat tua. 

Dalam masa pensiun, biarpun suasana dan kehidupannya berubah, yang mengerubuti sangat berkurang, kuasanya berubah, banyak yang tetap cinta dan melanjutkan baktinya membangun keluarga, negara dan bangsanya menjadi keluarga yang bahagia dan sejahtera serta negara dan bangsa yang adil, makmur, jaya, terhormat dan bermartabat.

Harapan terhadap hasil Seminar ini sungguh tinggi karena Menteri Keuangan, Dr. Sri Mulyani Indrawati, berjanji menjadi Pembicara Kunci dan memberi sinyal akan mempertimbangkan perbaikan sistem jaminan sosial bagi pensiunan pegawai negeri.

Sesungguhnya, selama masa pensiun banyak sekali mantan pegawai negeri yang tetap bekerja cerdas dan keras menjabat pada jabatan penting di lingkungan negara, perguruan tinggi atau membantu rakyat banyak sebagai pemimpin formal dan non formal di lingkungan masyarakat luas. 

Tidak jarang menjadi pemimpin masjid, gereja, pusat agama lain atau bahkan pinisepuh dari dan pimpinan organisasi masyarakat dengan pengaruh yang sangat luas di masyarakat kita.

Biarpun pada saat menerima Surat Keputusan pensiun, pikiran seorang pegawai negeri biasanya berbaur dan bermacam, ada yang gembira merasa mendapat kesempatan libur panjang tidak perlu harus bangun pagi-pagi pergi ke kantor. Ada pula yang berpikiran putus asa dan habis tugasnya di dunia, merasa hidupnya akan segera berakhir karena segala-galanya sudah tamat. 

Sebagian beranggapan rasanya hidup tidak lagi ada gunanya, habis manis, sepah dibuang, pasti tidak akan ada lagi perhatian karena seorang pensiunan hampir pasti dianggap tidak bisa lagi melakukan sesuatu yang berharga. 

Semasa pensiun mantan pegawai negeri tetap cinta terhadap tiga generasi, banyak kegiatan yang bisa dilakukan untuk masyarakat karena sehari hari bersama masyarakat.

Para pensiunan yang baru menerima surat pensiunnya tidak perlu kawatir karena pensiunan yang dipercaya sebagai pimpinan RT, RW atau organisasi masyarakat secara sukarela ternyata memiliki pilihan yang sangat luas dan umumnya berkiprah dengan hasil yang baik.

Kadang banyak aspirasi dan cita-cita yang semasa muda belum terlaksana bisa diraih sebagai sukses yang membesarkan hati. Tidak jarang pensiunan mendapatkan penghargaan yang tinggi.

Penduduk lansia, di Indonesia jumlahnya makin membengkak. Jumlah lansia saat ini lebih dari 20 juta. Dari jumlah itu sebagian kecil, lebih dari 5 juta adalah pensiunan pegawai negeri sipil, anggota PWRI. Penduduk Lansia tersebut 80 persen masih segar bugar, mempunyai potensi untuk turut serta dalam pembangunan bangsa dan negara. 

Selama ini para pensiunan merasa syukur dan gembira karena apabila menderita sakit mendapatkan pelayanan kesehatan biarpun sederhana tetapi dianggap memadai.

Pada akhir bulan, biarpun jauh dari mencukupi, para pensiunan menerima uang pensiun untuk menyambung hidup dan dianggap sebagai masih dihormati atau dihargai oleh negara yang sangat dicintai dan selama lebih dari 30 – 40 tahun dibela dengan sepenuh hati.

Menjelang Hari Raya Idul Fitri masih ada harapan memperoleh hadiah lebaran sebagai abdi negara yang dengan penuh dedikasi dan ketekunan membela negara dengan sepenuh hati. 

Umumnya tidak mengeluh dan merasa bersyukur karena selama sebagai pegawai negeri telah menabung kepada negara sebagai modal yang dikembalikan sebagai dana pensiun untuk “hiburan” selama masa pensiun.

Akhir-akhir ini pemerintah mengembangkan pelayanan kesehatan yang makin baik bagi rakyat banyak dengan jaminan BPJS, yang penduduk biasa membayar iuran dan kalau sakit dijamin oleh pemerintah. Program itu disambut baik oleh para pensiunan. 

PWRI sebagai organisasi induknya segera melakukan kerja sama untuk sosialisasi program baru itu di seluruh negeri. Semua pensiunan bersyukur karena selama menjabat belum bisa memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik biarpun telah berusaha membuka Puskesmas, mendirikan Posyandu dan, memberikan pelayanan KB ke rumah penduduk dan mengajarkan rakyat hidup sehat.

Keputusan pemerintah menjamin penduduk yang sakit dengan dana BPJS sungguh menggembirakan. Tapi pujian itu makin memudar karena ternyata pelayanan kepada rakyat yang kelihatan sebagai tindakan simpatik dan adil itu membawa korban. 

Para pensiunan yang biasa mendapatkan pelayanan kesehatan yang lumayan, pada waktu ini kalau sakit terpaksa bekerja keras modar mandir dari Puskesmas ke pusat pelayanan sebelum dilayani dengan sederhana. Bahkan sering mendapatkan obat yang tidak menyembuhkan karena dibatasi pemberiannya.

Dalam suasana seperti itu, para pensiunan merasa terhibur karena para junior yang pegawai negeri, begitu juga para dosen dan guru besar, mendapatkan gaji dan tunjangan yang cukup besar sehingga hidupnya menjadi lebih sejahtera tanpa harus keliling mencari kerja tambahan yang melelahkan. Hati para senior berbunga-bunga karena pemerintah memberikan penghargaan kepada pegawainya. 

Para pensiunan bersyukur karena selama menjadi pegawai negeri pemerintah pada jamannya belum sempat memberikan penghargaan seperti itu. Tetapi begitu dekat dengan Hari Raya Idul Fitri, para pensiunan menjerit sedih dan merasa “dipojokkan” oleh pernyataan segelintir penjabat yang sedang berkuasa bahwa dana untuk bayar pensiun sangat besar dan membebani anggaran.

Pejabat itu barangkali tidak merasa bahwa jabatan adalah amanah dan akan berakhir. Para pensiunan sedih bahwa sesungguhnya anak muda yang mungkin diangkat atau menaikkan pangkatnya oleh pejabat sebelumnya yang sudah pensiun. Pejabat itu dibayar oleh rakyat yang dananya dikumpulkan dari pajak oleh negara yang selama puluhan tahun dipelihara dengan penuh kasih sayang oleh pejabat yang sekarang pensiun.

Para pejabat tidak boleh beranggapan bahwa uang pensiun mengganggu pendapatan pegawai yang aktif. Dana pensiun yang dipersiapkan tidak harus dikorbankan. Keadilan yang dikembangkan tidak boleh digantikan pengorbanan para sesepuh yang selama puluhan tahun telah berjuang. 

Pernyataan pejabat seakan para pensiunan merugikan negara sungguh sangat menyakitkan dan sebagai bangsa yang menganut falsafah Pancasila dan budaya luhur bangsa sungguh sangat tidak sopan. 

Seorang pejabat seharusnya tidak seenaknya mengucapkan kata-kata atau mengambil tindakan semaunya, tanpa sopan santun dan kepatutan pada senior yang memelihara negara dan bangsanya penuh kasih sayang. Upaya perbaikan yang beralasan keadilan memang perlu ditegakkan, tetapi tanpa harus merugikan.

Penulis adalah mantan Menko Kesra dan Taskin RI, Ketua Umum PWRI

 

Penulis : Prof. Dr. Haryono Suyono
Editor : Thomas Koten

Apa Reaksi Anda?