Kamis, 19 Oktober 2017 | 12:29 WIB

  • News

  • Opini

Pentingnya Sikap Altruistik

Sugeng Teguh Santoso
peradi
Sugeng Teguh Santoso

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Suatu aktivitas kerja bisa disebut profesi, setidaknya harus memiliki 5 komponen; berbasis keilmuan; independen, altruistik, diikat oleh tata nilai etis ( etika profesi ) dan akhirnya harus ada garda yg menjaga kepastian pada nilai-nilai etika, yaitu dewan kehormatan. Ini melekat pada profesi dokter, advokat, notaris dan hakim.

Mengapa seorang dokter di ruang UGD harus cepat menangani pasien segera sebagai tindakan penyelelamatan, tanpa diperbolehkan mempertanyakan biaya pada pasien atau keluarganya?  

Seorang advokat juga  wajib memberikan  bantuan hukum gratis atau cuma-cuma pada pencari keadilan  yang tidak mampu (miskin, tertindas, tidak mampu mengakses hak-hak nomatifnya).  Sikap dokter dan advokat tersebut adalah pengegejawantahan  dari sifat Sifat altruistik atau faham altruisme ini adalah suatu tata nilai yang mewajibkan penyandang profesi melayani nilai-nilai kemanusiaan. 

Nilai-nilai  yang melekat pada tiap individu sebagai mahluk Tuhan; yaitu hak untuk hidup, hak untuk dijauhkan dari rasa takut,  dijauhkan dari perlakuan kekerasan dan perlakuan yang merendahkan harkat dan martabat manusia . 

Dalam melayani nilai-nilai kemanusiaan, penyandang profesi tidak boleh membedakan perlakuan berbasis suku, ras, agama, warna kulit dan bahasa. Karenanya , seperti dalam profesi advokat, maka sejak ia menyandang status advokat, ia adalah human right defender (pembela hak asasi manusia) . 

Dalam UU Advokat 18 tahun 2013 pasal 22 dan kode etik advokat, nilai altruistik ini ditanamkan. Karena nilai normatif ini maka seorang advokat berhak menyandang status Nobile Officium (profesi yang mulia). 

Sifat altruistik ini memerlukan bahan  baku dasar dari individu itu sendiri, yang tumbuh berkembang dan menguat dalam proses hidup individu jauh sebelum ia memasuki profesi. Bahan baku dasar itu adalah sifat empati yang terasah, rela berkorban, dan tidak kalah penting adalah keberanian menghadapi resiko (bernyali). 

Bahan baku dasar ini sudah setidaknya harus melekat , karena sebelum menyandang profesi , ia adalah individu yang sama dengan individu lain. Kalau tidak ada bahan  dasar ini akan sulit diharapkan sikap altruistik terwujud pada penyandang profesi. Tidak  bisa ujug-ujug seorang yang indivudilistik, materialis, dan selfish akan mampu bersikap altruistik pada saat menjadi advokat.

Dari mana bahan baku itu? Pendidikan budi pekerti dan penanaman nilai-nilai agama menjadi sangat penting.

 Persfektif altruistik ini sejalan dengan dasar negara Pancasila; kemanusiaan yang adil dan beradab dalam wilayah nilai Ketuhanan Yang Maha Esa. 

Seorang advokat akan mampu menjadi agent perubahan; politik, sosial dan hukum bila mengembangkan dengan baik prinsip-prinsif nilai altruistik ini. 

Keahlian berpikir analitis, sistimatik, terstruktur yang diasah pada jalan profesi akan menempatkan advokat menjadi primus interpares. 

Pada belahan dunia yang menerapkan demokrasi para advokat menjadi pioner perubahan; AS, Korea, Philipina, Eropa. Di Indonesia? Sangat mungkin karena sejak didirikan oleh founding father, kita menganut prinsip negara hukum demokratis. 

Kalau para dvokat atau pengacara membaca tulisan ini , mari kita sama-sama lakukan instropeksi.  Apabila  Anda adalah seorang warga biasa, tulisan ini dapat menjadi informasi yang baik untuk dibaca. 

Buat Anda kaum muda yang mau memilih profesi, ikutlah jalan ini. Jalan-jalan yang akan membawa Anda pada pergumulan membela kemanusiaan. Kemuliaan menanti Anda . 

Di atas comuter line Jakarta bogor. 19 agustus 2017.

Salam sang Pembela.

Penulis, Sugeng Teguh Santoso, Sekjen Peradi, Pengurus Advokat Pengawal Pancasila, dan Pendiri Front Pembela Indonesia

 

Penulis : Sugeng Teguh Santoso
Editor : Thomas Koten

Apa Reaksi Anda?