• News

  • Opini

Menyikapi Ekonomi Disrupsi

Prof Asep Saefuddin
Istimewa
Prof Asep Saefuddin

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Akhir-akhir ini kita sering mendengar berbagai disrupsi (penghancuran) perusahaan besar yang tidak mampu merubah paradigma disertai implementasi teknologi.

Dengan kecepatan teknologi digital yang hampir tidak mengenal waktu dan ruang itu tentu sangat berbeda dengan kondisi masa lalu yang serba terlihat dengan jumlah relatif kecil.

Saat ini, kecepatan arus lalulintas informasi, transaksi, berbagai model aplikasi, dan dalam jumlah yang sangat besar telah melahirkan fenomena big data (data besar).

Data besar ini sebenarnya juga harus menjadi bagian dari paradigma berpikir dan bertindak. Karena karakteristik volume, ukuran, model sirkulasi, dan pencatatannya menjadi berbeda dengan tipe data kecil.

Bila fenomena data besar ini didekati dengan paradigma data kecil, sulit kita akan bertahan. Sudah pasti akan tergilas oleh kecepatan arus data besar yang dilengkapi dengan teknologi digital. Di sinilah fenomena disrupsi terjadi, banyak perusahaan pada tumbang.

Kejadian institusi berguguran itu tidak saja di kelompok bisnis dan ekonomi. Tetapi juga menggerus lembaga nir laba yang begitu-begitu saja, termasuk Perguruan Tinggi. Sivitas akademika yang terlena dan terninabobokan oleh kejayaan masa lalu, sulit untuk mengikuti perubahan yang dahsyat ini.

Seharusnya, para saintis di kampus paham bahwa perubahan ini secara alamiah musti terjadi. Bukankah Thomas Kuhn (1963, 1972) pernah mengingatkan adanya ilmu-ilmu normal dan revolusi keilmuan. Dia menyodorkan konsep, bahwa basisnya terletak dalam paradigma, pola pikir. Bagaimana kita memandang dan mengantisipasi perubahan itu. 

Mungkin saat ini perubahan begitu cepat, sehingga sulit diantisipasi, apalagi bila masih memakai kacamata (konsep) lama. Niscaya para pengelola kampus akan pusing.

Dalam istilah Kuhn, keadaan disrupsi ini berupa anomali sebelum terbentuknya struktur normal, atau ilmu normal dengan konsep yang kokoh. Tetapi hal ini pun terus berubah, baik cepat atau lambat. 

Prediksi terhadap big data, digitalisasi, dan disrupsi ini oleh kampus-kampus luar (misalnya USA) disiapkan dengan penguatan kurikulum di satu pihak, serta model pembelajaran di pihak lain. Beberapa kampus membuka program-program yang relevan dengan kebutuhan zaman, seperti S2 analisis data besar, atau lebih luas lagi tentang data science.

Mahasiswa dikenalkan dengan kasus-kasus riel yang harus didekati, dianalisis, dan diprediksi menggunakan metode-metode canggih campuran berbagai ilmu. Secara alat, peranan matematika, statistika, dan komputasi sudah menjadi makanan pokok para mahasiswa. Apapun program studinya. 

Untuk model delivery pembelajarannya pun sudah tidak berbasis pada pendekatan konvensional yang bersifat transaksional berbasis kehadiran fisik yang ditandai dengan absensi. Praktik-praktik seperti ini tentu akan mengganggu proses kecepatan berpikir mahasiswa yang umumnya lahir di abad teknologi.

Tentu pola konvensional berupa tatap muka, untuk hal-hal tertentu masih diperlukan. Tetapi musti dalam konteks kemanusiaan yang berkaitan dengan aspek motivasi, inspirasi, dialog, pertukaran ide, penulisan-penulisan analisis yang memerlukan pendapat berbeda. Dengan demikian, universitas sebenarnya bisa melakukan model campuran dalam pembelajaran (hybrid learning).

Jadi, fenomena disrupsi yang menggerus ekonomi itu sebenarnya terjadi karena ketidaksiapan kita sendiri. Termasuk dalam hal regulasi. Akhirnya disrupsi menjadi benang kusut yang sulit diurai. Pada saat yang sama, kelompok intelektual di kampus masih memegang buku-buku lama karena tidak terdedah melalui riset-riset frontier dan masa kini.

Tidak salah Presiden Jokowi pusing menghadapi kenyataan bahwa di Indonesia masih banyak regulasi yang membelit. Pada keadaan seperti ini, jarang universitas mampu keluar dengan terobosan baru disertai kekuatan nalar metodologi. 

Hal di atas, bukan berarti kita kekurangan orang pintar, tetapi kurang sistematis dan berani mengantisipasi keadaan. Dominasi birokrasi menjadi sangat kental. Para intelektual dan birokrat kena serangan rheumatik paradigma yang membuat pikiran menjadi kaku serta enjoy di zona nyaman.

Kesimpulannya, untuk mengantisipasi keadaan disrupsi ini, berdayakan lembaga pendidikan dengan model pembelajaran baru, terbuka terhadap perubahan, adakan mobilitas mahasiswa dan dosen ke berbagai negara, berikan materi-materi diskusi yang real time dengan melibatkan sektor swasta, praktisi, dan industri.

Kampus jangan terlalu dikekang. Serta, di sektor pemerintah, longgarkan regulasi, birokrasi, dan jangan terlalu sering rapat meminta arahan atasan. Percayalah Indonesia bisa.

Penulis adalah Rektor Universitas Al Azhar Indonesia/Guru Besar Statistika FMIPA IPB.

 

 

Penulis : Prof Asep Saefuddin
Editor : Farida Denura

Apa Reaksi Anda?