• News

  • Opini

Mengapa Dosen PT Minim Karya Ilmiah?

Ilustrasi: Karya ilmiah dosen
Istimewa
Ilustrasi: Karya ilmiah dosen

JAKARTA, NNC - Pertanyaan sebagai judul tulisan ini terlihat sederhana, tetapi jawabannya memerlukan perenungan yang cukup mendalam. Karena hal itu berkaitan sangat erat dengan budaya, sistem pendidikan (tinggi), struktur dan kebiasaan di negeri ini. Selain itu, setelah diketahui akar masalahnya yang tali temali itu, belum tentu juga kita bisa menyelesaikannya. Atau belum tentu mau. Soalnya, tidak sedikit orang yang menikmati keadaan dari berbagai kesemrawutan masalah.

Saya melihat pendidikan kita masih berbasis transfer ilmu pengetahuan atau peningkatan keterampilan seseorang dalam hal keteknikan. Hampir tidak pernah kita menanyakan untuk apa sebenarnya pendidikan itu, secara mendasar. Saat ini, pada umumnya menghubungkannya dengan tenaga kerja. Walaupun ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diberikan itu bisa saja tidak relevan dengan dunia kerja. Buktinya? Diskonektifitas antara dunia kerja dan pendidikan terus menerus terjadi.

Saya menduga diskonektifitas ini akan sulit diputus selama kita belum bisa menjawab apa esensi pendidikan. Memang jawaban terhadap pertanyaan ini bukan merupakan bagian perguruan tinggi saja, tetapi tanggung jawab semua komponen pendidikan sejak usia dini.

Selain itu, pendidikan sangat berkaitan erat dengan kebudayaan. Itulah sebabnya pada saat pendirian negara ini pendidikan dan kebudayaan ditangani oleh satu kementeriaan. Secara kelembagaan memang masuk akal, walaupun dalam prakteknya penyatuan ini tidak bersifat organik alias hanya struktural organisasi saja. Akhirnya terjadilah  kegiatan berbasis proyek yang syarat dengan laporan teknis, parsial, pragmatis, dan asal selesai.

Kebiasaan buruk itu terus terbawa ke kelembagaan pendidikan tinggi. Ditambah lagi, sekarang semakin menjadi-jadi akibat tuntutan transparansi semu, transaksional, ketakpercayaan, absensi, dan pelaporan berbasis kertas. Semua itu menguras energi ke tingkat permukaan alias superfiasisasi yang tidak menukik pada esensi pendidikan dan kemanusiaan yang di dalamnya ada riset.

Efek langsung dari model pendidikan transaksional ini adalah malas berbuat hal-hal mendasar yang menuntut pemikiran dan pendalaman untuk menjawab persoalan dunia, seperti krisis kemanusiaan. Artinya, kalaupun ada riset, cenderung hanya untuk memenuhi tuntutan kenaikan pangkat. Padahal, pangkat adalah efek manajemen dan sistem yang baik, bukan tujuan. Inilah yang harus sama-sama dibenahi baik oleh birokrasi kampus ataupun oleh kemenristekdikti.

Akibat lainnya adalah dalam perilaku dosen yang umumnya pintar, tetapi terlalu mementingkan diri sendiri yang dilindungi oleh sistem industrialisasi pendidikan. Mereka menjadi terbiasa menjalankan tugas karena takut sangsi atau ingin insentif. Bukan karena passion atau keikhlasan dalam berbuat sesuatu. Banyak juga para dosen yang awalnya penuh dedikasi, lama kelamaan terbawa oleh sistem administrasi transaksional. Dalam hal ini juga sering universitas terganggu oleh berbagai kepentingan. Sehingga, otonomi kampus sulit ditegakkan.

Karuan saja situasi model itu akan mempersulit dosen mempunyai jiwa pemikir, peneliti, dan secara akumulatif tumpulnya budaya riset di perguruan tinggi. Akhirnya karya ilmiah di perguruan tinggi sangat minim. Sebagai jalan keluar yang dilakukan oleh para pengambil kebijakan adalah kewajiban menulis bagi para profesor dan dosen, tanpa menelaah persoalan dasarnya. Tidak mustahil model ini hanya akan meningkatkan jumlah paper selama ada insentif, bukan bagian dari kultur riset dan inovasi. Setelah itu, sepi lagi.

Model insentif yang bukan bagian dari kegiatan riset ini sepertinya murah, padahal boros. Karena obyektifnya hanya sekedar pemenuhan kuantitas, bukan riset untuk solusi suatu persoalan. Paper ilmiah itu sendiri sebenarnya bagian ujung dari riset. Jadi yang harus dibangun adalah kultur riset untuk menjawab persoalan yang terus menerus. Pendekatan inilah yang kurang terbangun.

Tidak bisa dipungkiri, keadaan ini akibat sistem keuangan negara yang tidak pro terhadap riset. Akhirnya persoalan riset dan publikasi para dosen di universitas tidak pernah selesai. Untuk persoalan mendasar ini diperlukan revolusi mental secara total dalam memandang pendidikan, inovasi, riset, dan publikasinya (paper).

Turunan dari persoalan di atas adalah mindset dalam pendidikan. Kita masih menganggap bahwa “banyak” berarti bagus. Sehingga anak didik dijejali dengan banyak sekali mata ajaran untuk membentuk manusia seutuhnya. Padahal kondisi ini bisa kontra produktif terhadap kualitas seseorang. 

Di Perguruan Tinggi Indonesia para mahasiswa wajib mengambil banyak sekali SKS. Untuk S1 misalnya diperlukan minimum 144 kredit. Hal ini berefek terhadap kesibukan dosen dalam pengajaran. Ini pun tentu akan menyebabkan sempitnya kesempatan dosen untuk melakukan riset dan menuliskan hasilnya. Akhirnya dosen Indonesia dikenal miskin publikasi.

Tambahan lagi, dalam kegiatan riset itupun para dosen dihadapkan pada persoalan dana yang jarang tepat waktu. Walaupun sudah ada pola laporan berbasis hasil (output base report) bukan proses lagi, tetap saja menyulitkan peneliti bila aliran uang tersendat. Ujung dari masalah ini adalah mutu riset yang tidak memadai. Akhirnya sulit dijadikan paper untuk jurnal. Sebagai konsekwensinya, dosen kita minim karya ilmiah seperti yang beberapa hari ini diangkat media.

Kalau dilihat dari pendekatan sistem,  persoalan riset dan karya ilmiah ini kait mengait dengan faktor lainnya. Birokrasi yang ribet, tidak cepat, dan bertele-tele. Kekuasaan DPR dan Kementerian Keuangan yang mendominasi sistem keuangan negara. Koordinasi antar instansi yang lemah. Dan banyak lagi, termasuk korupsi. Untuk perbaikan itu semua, diperlukan revolusi mental yang bukan sekedar proyek. Semoga.

Penulis adalah Rektor Universitas Al Azhar Indonesia/Guru Besar Statistika FMIPA IPB.

 

Penulis : Prof Asep Saefuddin
Editor : Farida Denura

Apa Reaksi Anda?