• News

  • Opini

Pentingnya Kebersatuan Advokat Indonesia

Paskalis Pieter
Istimewa
Paskalis Pieter

JAKARTA, NNC - Belum lama ini para advokat dari berbagai organisasi profesi secara spontanitas berkumpul dan bersatu dalam rangka membela advokat Firman Wijaya, kuasa hukum Setya Novanto, sehubungan dengan Laporan Polisi yang dilaporkan oleh Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Bareskrim Polri atas dugaan tindak pidana pencemaran nama baik.

Dalam waktu yang singkat, 400 advokat dengan sukarela bergabung dalam Tim Advokasi untuk Kehormatan Profesi yang dipimpin oleh Dr Juniver Girsang SH MH. Kehadiran 400 advokat, adalah suatu jumlah yang fantastis dan tentu di luar dugaan.

Opini hukum berkembang dari berbagai kalangan dan para advokat pada saat itu bahwa melaporkan Firman Wijaya ke polisi atas dugaan pencemaran nama baik SBY menjadi perdebatan, meskipun itu merupakan hak hukum SBY dan untuk menjaga kehormatan dan nama baik pribadi, tetapi perlu diuji langkah hukum yang dilakukannya.

Sikap dasar advokat dan kepentingan yang diperjuangkan oleh Advokat Firman Wijaya adalah dalam kapasitas diri sebagai advokat untuk kepentingan menegakkan hukum dan keadilan dengan penuh itikad baik dan kebebasan sebagai advokat dalam menjalankan tugas profetis atau tugas pembelaannya.

Apa yang mau Saya katakan di sini, bahwa kebersatuan para advokat dalam membela kasus hukum yang dihadapi Advokat Firman Wijaya merupakan sesuatu yang sangat baik dan harus diapresiasi. Gerakan para advokat, baik secara pribadi maupun dari berbagai organisasi advokat, membela Firman Wijaya tidak boleh dipandang sekadar untuk membela kehormatan profesi semata, tetapi juga merupakan wujud dalam rangka penegakan keadilan dan kebenaran (truth and justice).

Menurut Ketua Umum Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) RBA Dr Luhut MP Pangaribuan SH LLM, bersatunya para advokat, kualitas penegakan hukum akan lebih baik. Bersatunya advokat juga merupakan pertanda bahwa advokat tetap mengedepankan kepentingan penegakan hukum dan keadilan sebagai bagian dari kepentingan umum yang harus diutamakan, ketimbang kepentingan pribadi atau golongan. Sikap advokat dan masyarakat ini hendak menunjukkan bahwa advokat dan siapa pun warga bangsa tidak takut berbicara atas nama kebenaran dan ingin mematrikan keadilan.

Bersatunya advokat dalam Tim Advokasi untuk Kehormatan Profesi merupakan satu kekuatan besar, ingin mengajak semua advokat untuk tidak takut terhadap ancaman dalam menjalankan profesinya.

Tetapi, menjadi sangat disayangkan jika kebersatuan advokat hanya ditunjukan dalam kasus Advokat Firman Wijaya, atau dalam kasus per kasus. Yang paling penting adalah kebersatuan advokat secara menyeluruh, terutama bersatunya organisasi advokat itu sendiri, di mana Indonesia saat ini terdapat bermacam-macam organisasi advokat.

Dengan bersatunya organisasi advokat Indonesia, di samping untuk menjaga kehormatan dan martabat profesi advokat, juga sebagai satu kekuatan dalam memperjuangkan kebenaran dan menegakkan keadilan yang dapat mengangkat harkat dan martabat bangsa.

Posisi advokat sebagai corong penegakan keadilan di Indonesia dalam sebuah negara hukum, merupakan sesuatu yang sangat strategis, apalagi advokat sendiri memiliki hak imunitas yang diberikan oleh undang-undang terhadap profesi advokat.

Imunitas yang dimiliki oleh advokat (Pasal 16 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013) itu, bukan saja dalam hal pembelaan terhadap klien, tetapi juga supaya segala profesi dan karyanya dalam penegakan hukum demi masyarakat, bangsa, dan negara, dilindungi dengan undang-undang tersebut.

Pentingnya persatuan advokat adalah untuk meyakinkan masyarakat agar percaya pada advokat saat menegakkan hukum dan membuat keputusan yang adil di dalam penanganan masalah-masalah hukum.

Kebersatuan advokat yang dimaksudkan di sini, bukan saja menyatukan berbagai organisasi advokat, tetapi juga menyatukan semangat atau spirit kerja dalam membela kebenaran dan menegakkan keadilan itu sendiri, yakni kebersatuan dan persatuan dalam kebersamaan profesi advokat demi masyarakat, bangsa, dan negara.

Memang, tidak dapat dimungkiri bahwa alangkah lebih baik juga kalau organisasi advokat yang saat ini sudah begitu banyak, apalagi ada yang sebelumnya berada dalam satu induk organisasi seperti Peradi, dan kini Peradi sendiri sudah terpecah menjadi tiga.
 
Selain Peradi, juga ada Kongres Advokat Indonesia (KAI) dan Persatuan Advokat Indonesia (Peradin), ketiga organisasi advokat yang diakui oleh Mahkamah Agung. Belum lagi persatuan advokat lainnya yang tidak disebutkan di sini, yang semuanya memiliki landasan dan tujuan yang boleh dikatakan sama.

Di atas kebersatuan dan persatuan itu, dapat dibentuk sebuah lembaga hukum terhormat yang menjadi payung dalam melindungi organisasi yang bersatu itu, dengan berperan sebagai penjaga gawang "Kode Etik Profesi Advokat".

Pernah disepakati tentang dibolehkan untuk tetap eksisnya ketiga perkumpulan advokat itu, oleh Peradin, dan dibentuknya Dewan Advokat Indonesia untuk menjaga atau membidangi kode etik untuk melindungi ketiga organisasi tersebut. Tetapi, alangkah baiknya itu dileburkan jadi satu, lalu dibentuk semacam Dewan Advokat Indonesia untuk menjadi penjaga gawang kode etik advokat.

Dengan demikian, spirit pembelaan kebenaran dan penegakan keadilan di negeri ini lebih berjalan secara maksimal. Kenapa itu dianjurkan? Jawabannya, karena organisasi advokat adalah sebuah wadah profesi advokat yang didirikan dengan tujuan meningkatkan kualitas profesi advokat dengan mengedepankan moral dan etika.

Penulis : Paskalis Pieter
Editor : Y.C Kurniantoro

Apa Reaksi Anda?