• News

  • Opini

Memaknai Ramadan dan Idul Fitri Menjelang Tahun Politik

Ilustrasi saling memaafkan untuk kembali pada hati yang fitri.
Timor Express
Ilustrasi saling memaafkan untuk kembali pada hati yang fitri.

JAKARTA, NNC - Ramadan sudah setengah jalan, Idul Fitri akan segera tiba. Bulan penuh berkah tersebut semoga menjadi bekal mumulai hajat nasional, yaitu Pilkada serentak. Tahun politik sudah menunggu antrean.

Seluruh rakyat Indonesia tentunya patut bersyukur bahwa selama bulan Ramadan, semua relatif berlangsung kondusif, adem, dan khidmat. Kita sebelumnya sempat was-was akibat adanya sejumlah aksi bom bunuh diri menjelang Ramadan.

Selama sebulan, umat muslim menjalani puasa lahir dan batin. Jiwa dan raga ditempa dalam olah spiritual menjauhi segala hal yang dilarang dan melaksanakan segala hal yang diperintahkan Allah SWT.

Dalam hal ini, olah rasa, olah spiritual, olah hati, oleh kemanusiaan, dan lain-lain, juga ikut ditempa dalam hal mengolah, menilai, hingga memutuskan sikap di segala bidang kehidupan. Tentu, termasuk pula dalam sikap dan pilihan politik.

Lintas Nilai dalam Ramadan dan Idul Fitri
Saat berpuasa selama sebulan tuntas, hari kemenangan tiba. Kembali kita semua, khususnya umat muslim, dipersatukan dalam ritual saling memaafkan. Selama hidup, manusia tak lepas dari goda, salah, menyakiti hati orang lain, baik disengaja atau pun tidak. Melalui Idul Fitri, kita dikembalikan pada posisi yang fitri.

Idul Fitri selalu spesial karena selalu diwarnai dengan tradisi mudik, kumpul anggota keluarga yang merantau, saling berkunjung ke rumah tetangga, saudara jauh, dan lain-lain. Konteksnya sama, yaitu untuk saling memaafkan. Tradisi ini begitu mulia dan luhur serta harus kita jaga. 

Di Jawa, saat berkunjung, dihidangkan banyak jenis makanan. Ada salah satu makanan yang tak pernah absen karena pesan filosofi yang mendalam. Makanan itu tak asing bagi kita, yaitu ketupat.

Dalam Bahasa Jawa sering disebut “kupat” yaitu kepanjangan dari “ngaku lepat”. Artinya, mengakui segala kekhilafan yang sering dilakukan oleh manusia yang tak pernah sempurna tetapi dikaruniai kemampuan untuk terus memperbaiki diri agar semakin sempurna.

Selain itu, ada baiknya kita tidak boleh lupa. Dalam perayaan tersebut, hati kita juga diingatkan dan dipertegas untuk berani melapangkan dada, membuka hati, dan melebarkan wawasan atas kenyataan hidup di sekitar kita.

Artinya, Idul Fitri tidak hanya sekadar kemenangan, silahturahmi, saling memaafkan, tetapi momen penting untuk berani membuka pintu toleransi.

Toleransi adalah sikap berani menerima perbedaan. Toleransi adalah sikap dengan lapang dada memberikan kebebasan kepada orang lain yang berbeda dengan kita. Selama tidak mengganggu ketertiban, perbedaan itu patut kita maklumkan. Dengan demikian, kita memanusiakan manusia lain.

Maka tepat bila Idul Fitri diartikan pula sebagai “lebaran” yaitu melebarkan atau melapangkan jiwa kita atas keberagaman budaya dan latar belakang rakyat Indonesia. Karena hanya dengan itulah, negeri ini bisa dirawat dalam bingkai persatuan dan kesatuan.

Dengan demikian, makna Idul Fitri tak tanggung-tanggung lagi. Idul Fitri menjadi momen untuk mempersatukan berbagai nilai atau lintas nilai, baik secara transenden (vertikal) juga secara sosial atau antarumat manusia (horizontal). Dalam dua arah itu, cinta kepada negara tak luput di dalamnya.

Tahun Politik Menguji Keteguhan Hati yang Fitri
Perayaan Idul Fitri berdempetan dengan pelaksanaan Pilkada. Tentu kedua hal itu akan saling mempengaruhi antara satu dan lainnya. Seperti diungkapkan Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo kepada NNC, 31 Januari 2018, “Diperlukan sinergi yang baik dari pihak terkait.” 

Pilkada Serentak 2018 akan digelar pada 27 Juni 2018. Artinya, sepuluh hari setelah Idul Fitri, Pilkada akan segera dilaksanakan. Pilkada serentak kali ini meliputi pemilihan kepala daerah, sebanyak 171 daerah yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Bila Pilkada tahun sebelumnya mempunyai potensi konflik yang tinggi, diduga tahun ini akan cenderung jauh lebih kecil. Salah satu penyebabnya adalah berdempetan dengan Idul Fitri.

Idul Fitri menjadi sangat baik untuk membekali para pemilih maupun yang akan dipilih, agar menentukan sikap dan pilihan politik secara benar, serta menjunjung tinggi niali-nilai yang fitri, fitrah, atau suci. Fitrah yang telah diraih selama Ramadan dan Idul Fitri, jangan sampai ternodai.

Rentang waktu sepuluh hari setelah Idul Fitri semestinya tidak mengikis kefitrian hidup kita. Untuk itu diperlukan sikap keteguhan hati menjaga nilai-nilai suci itu.  Lagi-lagi, sikap toleransi menjadi penting kita ingat dan perkuat.

Dalam Pilkada serentak, tidak bisa kita menghindar atas segala perbedaan pilihan politik di sekitar kita. Semoga sikap dan pilihan politis itu dilangsungkan dengan cara-cara yang tetap menjunjung tinggi kemanusiaan. Jiwa lapang dada dan berwawasan luas jangan pula dilalaikan.

Salah satu faktor yang rentan menodai adalah sikap politis yang menggunakan isu SARA. Sudah waktunya kita berpolitik secara dewasa. Kalaupun isu SARA masih digunakan, semoga kita berani bersikap untuk segera meredam dan mengingatkan saudara dan tetangga kita.

Kita bisa bergerak dari mulai lingkup terkecil, yaitu keluarga, RT, RW, dan seterusnya. Demikianlah hal kecil ini bisa memberi kontribusi besar, agar nilai fitri yang kita peroleh selama Ramadan dan Idul Fitri mampu secara teguh kita jaga.

 

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro

Apa Reaksi Anda?