• News

  • Opini

Sepak Bola, Piala Dunia dan Politik Penguasa

Bola
Istimewa
Bola

JAKARTA, NNC - Sepak bola modern saat ini dalam sejarahnya, telah berproses lama sejak ribuan tahun lalu, melintasi ruang dan waktu. Beberapa dokumen menjelaskan bahwa sepak bola lahir sejak masa Romawi, sebagian lagi menjelaskan sepak bola berasal dari Tiongkok.

Sebuah versi sejarah kuno tentang sepak bola, dikatakan bermula dari negeri Jepang, sejak abad ke-8, masyarakat di sana telah mengenal permainan bola. Ada sejarawan yang mengatakan sepak bola terjadi juga pada masyarakat Mesir kuno dan Yunani purba. 

Pada masa Yunani Purba mengenal sebuah permainan bola yang disebut episcuro. Bukti sejarah ini tergambar pada relief-relief museum yang melukiskan anak muda memegang bola dan memainkannya dengan memasukkan ke dalam sebuah jaring yang dipasang di antara dua tiang. 

FIFA sebagai badan sepak bola dunia secara resmi menyatakan bahwa sepak bola lahir dari daratan Tiongkok yaitu berawal dari permainan masyarakat Tiongkok abad ke-2 sampai dengan ke-3 SM, yang dikenal dengan sebutan  “tsu chu “.

Sepak Bola sebagai Alat Politik

Sepak bola yang telah tumbuh dan berkembang bagaikan pohon kehidupan yang melintas lebatnya hutan sejarah dunia tersebut, kini di era modern ini semakin menjelma menjadi sebuah entertaint, bisnis, dan politik, bahkan menjadi sebuah perhelatan budaya. 

Sepak bola sebagai bisnis, dimana dalam perhelatannya yang akbar, selalu dijadikan sebagai lahan bisnis dalam mencari peruntungan ekonomi. Lihat, berapa keuntungan ekonomi yang diperoleh pada perhelatan Piala Dunia di Rusia saat ini, mulai dari biaya transportasi, perhotelan, aneka jenis hidangan makanan, berbagai atribut, kostum, hak siar media, dan lain-lain? 

Lalu, bagaimana sepak bola dijadikan sebagai ajang politik?  Itu tidak lain, sepak bola dalam momentum akbar seperti Piala Dunia ini dapat dipandang sebagai suatu ukuran yang menunjukkan sejauh mana suatu bangsa di mata dunia. 

Piala Dunia yang dihelat secara akbar juga tidak lain merupakan sebuah bentuk budaya politik dan sebagai momentum untuk membangun daya kekuatan potensi-potensi bangsa. Piala Dunia juga sebagai momentum  dalam membangun kebersamaan, dan menjadikan negaranya sebagai wadah pembentukkan solidaritas antara bangsa-bangsa di dunia.

Sejarah juga menunjukkan bahwa sepak bola baik dalam pembangunan klub maupun dalam menghelat sebuah pertandingan, misalnya, kerap dijadikan sebagai alat legitimasi politik dan kekuasaan dari para politisi atau penguasa.

Jika ditelusuri, banyak politisi atau penguasa yang menggunakan sepak bola untuk memperkuat dan menaikkan pamor politik, juga tidak jarang politisi memiliki klub sepak bola sendiri untuk menambah legitimasi politiknya. Mantan Perdana Menteri Italia Berlusconi, adalah contoh yang paling pas dengan memiliki klub AC Milan, yang kini sebagian besar sahamnya sudah dijual ke pihak lain. 

Diktator Adolf  Hitler, pernah memanfaatkan Federasi Sepak Bola (DFB) untuk propaganda politik Nazi. Hitler mengatakan, “Orang besar adalah pemain bola hebat dan pelari marathon sejarah”. 

Sepak bola bagi Hitler adalah simbol keperkasaan seorang manusia dalam menunjukkan eksistensi diri, kelompok dan bangsanya di hadapan publik politik. Tak jarang Hitler mengoperasikan politik kekuasaan  lewat sepak bola.

Hal itulah kemudian dalam sejarah sepak bola Jerman, tim nasionalnya dijuluki Ueber Alles, sebagai tim super. Timnas Jerman selalu memosisikan diri sebagai klub superior atas klub-klub lainnya. Sayang, pada perhelatan akbar Piala Dunia di Rusia kali ini mereka tak berdaya.

Selain Hitler, diktator Bennito Mussolini, penguasa Italia dan diktator Spanyol, Franco. Franco pernah memanfaatkan klub sepak bola Real Madrid sebagai alat politik dan legitimasi kekuasaannya. Mussolini Italia kerap merasa dirinya penting ditampilkan dalam pose-pose olahraga, terutama selalu berada di antara tim-tim sepak bola yang hebat.

Bagi seorang politikus sejati, kata Mussolini, haruslah serentak merupakan simbol kejantanan sportif, seperti halnya seorang pesepak bola. Karena itulah pada Piala Dunia 1934, sang diktator memaksakan untuk digelar di Italia, dan kesebelasan nasional Italia dipaksa harus menang meski harus mati di lapangan. 

Di negeri ini pun Bung Karno pernah menjadikan sepak bola sebagai alat legitimasi politik kekuasaannya. Itu diimplementasikannya secara pas lewat pembangunan Gelora Bung Karno. Bangsa ini pun diharumkan namanya lewat pembangunan Gelora Bung Karno itu. Meski, dengan itu Bung Karno dikritik terlalu mengabaikan aspek ekonomi dalam pembangunan bangsa.

Pembelajaran Politik

Kini adalah bagaimana kita memfungsikan atau memaknai sepak bola ke dalam ranah politik. Dalam hal ini, bukan hanya sepak bola dijadikan sebagai alat politik ala Hitler, Mussolini, Franco dan Bung Karno, tetapi sebagai sumber pembelajaran politik. 

Dari perhelatan Piala Dunia kita bisa belajar sejauh mana Negara-negara peserta menunjukkan kebolehannya dalam berdiplomasi politik lewat sepak bola itu. Kehebatan, kebesaran dan harga diri sebuah bangsa juga dapat dilihat dari kehebatan timnasnya dalam beraksi di perhelatan akbar Piala Dunia. 

Di sini, para politisi juga bisa belajar bagaimana memenangkan pertandingan politik lewat kerja sama, saling melayani, dengan sikap yang jujur dan sportifitas yang tinggi untuk kemuliaan bangsa, bukan dengan sikap egoistik, saling menelikung dan saling menjatuhkan hanya untuk kepentingan pribadi dan kelompok partainya. 

Penulis : Thomas Koten
Editor : Firman Qusnulyakin

Apa Reaksi Anda?