• News

  • Opini

Wajah Politik Indonesia, Tak Seindah Pelangi

Ilustrasi partai politik di Indonesia
Bimadvies
Ilustrasi partai politik di Indonesia

JAKARTA, NNC - Politik di Indonesia adalah politik yang penuh warna. Banyaknya partai, ditambah lagi dengan para pengelolanya yang beraneka latar belakang suku, budaya, pendidikan, sungguh memberi warna tersendiri dalam perpolitikan nasional.

Bersamaan dengan itu pula, wajah politik Indonesia pun terus bertaburan niat, cita-cita, bahkan juga ambisi. Kerap kali ambisi-ambisi itu terlihat begitu tajam di jalan perjuangan menuju panggung kekuasaan, baik dalam pilkada dan pemilihan anggota legislatif, maupun dalam pemilu.

Itu pula yang menambah warna atau bahkan semakin mengentalkan warna dalam kancah perpolitikan nasional. Apabila, semua permainan politik tersebut dilakukan secara baik dan elegan, warna-warni pada wajah politik nasional akan indah dipandang mata dan nikmat dirasakan publik.

Tak seindah pelangi
Masalahnya, persaingan dalam memperebutkan kekuasaan dan aneka macam materi yang bertaburan di panggung kekuasaan itu kerap terlihat kurang sehat, penuh nafsu, dan ambisi yang kelewatan. Sehingga, politik yang di zaman Yunani kuno dikatakan indah pun seperti gugur begitu saja.

Lebih daripada itu, dengan membuncahnya persaingan yang penuh nafsu dan ambisi, membuat warna-warni politik Indonesia tidak terlihat indah seperti pelangi. Namun, yang terlihat adalah wajah politik yang kurang elok dipandang, membosankan, bahkan kerap terasa menjijikkan lalu memuncratkan sinisme publik.

Dengan kata lain, persaingan yang terlihat begitu tajam di jalan menuju panggung kekuasaan, ikut memberi atau mengentalkan warna dalam kancah perpolitikan nasional itu sendiri.

Sayangnya, dalam persaingan politik yang pragmatis itu, hampir tak pernah luput dari cara-cara primordialistik, seperti sentimen suku dan agama, yang digencarkan kelompok-kelompok tertentu dengan label-label khusus. Sehingga, bukan saja ikut mengentalkan warna politik yang ada, tetapi juga cukup membonsai kehidupan demokrasi an sich.

Belum lagi berbagai pernyataan elite politik belakangan ini yang kerap terdengar kontroversi, yang mengubah wajah politik menjadi sangat destruktif. Sehingga, apabila itu tidak dikelola dengan baik, terutama menjelang Pemilu 2019, bukan tidak mungkin dapat menimbulkan kegaduhan di level elite dan kemudian bermuara pada konflik sosial di tengah masyarakat sebagai risikonya.

Apabila keadaan ini tidak segera ditangani dengan sikap dan perilaku yang bijak, semuanya akan semakin bermuara pada kemerosotan kultur mulia elite politik. Itu sesuatu yang tidak boleh terjadi, karena hal itu bisa terus meluncur ke jurang kebangkrutan moral atau terciptanya politik tunamoral.

Padahal, suatu yang sangat membahayakan akan terjadi jika pragmatisme politik itu terus membuncah, sehingga spirit besar kebangsaan menjadi sangat penting untuk digelorakan, seperti patriotisme, nasionalisme, demokrasi, melepaskan cengkeraman asing atas sumber-sumber ekonomi bangsa, mental budak yang semakin masif, dan nilai-nilai luhur Pancasila.

Apabila spririt besar kebangsaan itu tidak digelorakan, bukan tidak mungkin bangsa ini mulai dan akan terus menggali kuburan masa depannya sendiri. Sebuah bayangan ke depan yang memang sangat mengerikan bagi bangsa dan negara ini.

Perlu komitmen baru
Partanyaannya, masih adakah harapan bagi bangsa ini, terutama para elite politik, untuk mengurangi kebobrokan agar tercipta wajah politik yang mencerahkan?

Harapan tentu masih terbuka lebar jika ada komitmen baru dan kemauan politik dari elite politik untuk mengubah dan memperbaikinya. Pasalnya, perubahan ke arah yang lebih baik bagi perbaikan wajah politik negeri ini harus dipejuangkan, karena wajah dan citra politik yang baik dan bersahaja, tak akan pernah turun begitu saja dari langit.

Penulis : Thomas Koten
Editor : Y.C Kurniantoro

Apa Reaksi Anda?