• News

  • Opini

Nasionalisme dan Cinta Rupiah, Senjata Penguatan Nilai Tukar Rupiah

Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
NNC/Anhar Rizki Affandi
Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

JAKARTA, NNC - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kini mendapat sorotan tajam. Hal tersebut terjadi menyusul terus melemahnya nilai tukar mata uang rupiah yang telah menyentuh 15 ribu rupiah per dollar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa hari belakangan ini.

Pihak Bank Indonesia (BI) pun telah mengeluarkan berbagai “jurus”, namun pelemahan nilai tukar rupiah masih terus berlanjut. Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (JISDOR), nilai tukar rupiah mendekati kisaran Rp15.000, telah melenceng jauh dari asumsi rupiah di APBN-2018 di level Rp13.400 per dolar AS.

Periodisasi pelemahan nilai tukar rupiah
Harus diakui bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang terjadi saat ini bukan hal yang mengejutkan. Faktanya, sejak tahun 2000, nilai tukar rupiah memang cenderung melemah. Sepanjang periode tahun 2000—2001, rupiah melemah selama 16 bulan.

Memasuki periode tahun 2008—2009, pelemahan rupiah sedikit lebih cepat, yaitu hanya 10 bulan. Namun, memasuki periode 2011—2018, pelemahan rupiah makin lebih lama, yaitu 65 bulan. Dengan mencermati data historis ini, maka nilai tukar rupiah diperkirakan cenderung melemah.

Di satu sisi, pelemahan nilai tukar rupiah bisa menjadi berkah. Dengan nilai tukar rupiah yang melemah akan membuat daya saing produk ekspor Indonesia lebih kompetitif. Dengan demikian akan dapat menarik devisa untuk menopang kinerja rupiah.

Sayangnya, upaya untuk mengenjot ekspor bisa tersandung seiring dengan meningkatnya eskalasi perang dagang antara Tiongkok dan AS, serta rencana AS untuk mencabut fasilitas Generalized System of Preferences (GSP).

Itulah sebabnya BI memperkirakan bahwa defisit transaksi berjalan (Current Accout Defisit/CAD) berpotensi melonjak menjadi US$25 miliar dari 2017 sebesar US$17,53 miliar. Kondisi ini tentu bukan berita baik bagi rupiah.

Dampak pelemahan nilai tukar rupiah
Di sisi lain, menyitir Desmon Silitonga, seorang analis dari PT Capital Asset Management, dalam Bisnis.com, bahwa pelemahan nilai tukar rupiah yang terus terjadi bisa memicu dampak yang tidak baik terhadap perekonomian secara luas.

Pertama, pelemahan rupiah akan mendorong naiknya harga barang/jasa di pasar domestik. Dunia usaha, khususnya yang bergerak di sektor otomotif, konsumsi, dan farmasi yang notabene memiliki kandungan impor yang cukup besar, telah menyatakan akan menaikkan harga. Imbasnya, akan mengungkit inflasi yang sejauh ini cukup mampu dijaga di level rendah.

Kedua, sebagai negara net importir minyak, pelemahan rupiah akan menggerus devisa yang sangat besar. Bahkan, devisa yang dikeluarkan bisa jauh lebih besar lagi seiring dengan makin merangkaknya harga minyak mentah dunia sebagai imbas supply shock global.

Ketiga, akan memicu bertambahnya beban pembayaran bunga utang pemerintah dan korporasi. Sepanjang semester I/2018, beban pembayaran bunga utang pemerintah sebesar Rp120,61 triliun. Jumlah ini meningkat dari periode yang sama tahun 2017 sebesar Rp106,8 triliun.

Keempat, mendorong turunnya kepercayaan (confidence) investor asing, khususnya di pasar portofolio. Turunnya kepercayaan ini akan memicu investor asing menarik (pull out) dananya dari Indonesia. Padahal dana ini dibutuhkan sebagai sumber pembiayaan ekonomi.

Perlu transformasi ekonomi
Dengan tren nilai tukar rupiah yang masih terus melemah menunjukkan bahwa belum banyak perubahan (tranformasi) yang terjadi terhadap perekonomian Indonesia. Betul bahwa faktor eksternal, khususnya kebijakan pengetatan moneter oleh bank sentral AS (The Fed) berkontribusi terhadap pelemahan nilai tukar rupiah.

Namun, kembali menyitir Silitonga, harus diakui juga bahwa lambatnya Indonesia untuk melakukan transformasi ekonominya turut berkontribusi pada pelemahan rupiah. Padahal, transformasi merupakan senjata yang ampuh untuk memperkuat otot rupiah.

Hingga kini, Indonesia memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap ekspor komoditas dan bahan mentah dengan daya saing rendah. Padahal, dengan kekayaan alam yang dimilikinya, Indonesia seharusnya bisa menjadi basis bahan baku.

Indonesia juga memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap bahan bakar fosil (BBM). Padahal, dengan kekayaan alam yang dimilikinya, Indonesia sangat mampu untuk mendiversifikasi sumber energinya, khususnya sumber energi baru dan terbarukan.

Bukan itu saja, Indonesia lambat untuk meningkatkan kualitas iklim investasinya untuk menarik devisa yang bersifat jangka panjang dan berkesinambungan. Devisa seperti inilah yang dibutuhkan untuk ikut memperkuat otot rupiah. Bukan aliran investasi jangka pendek (hot money) yang bersifat spekulatif dan sangat dipengaruhi sentimen pasar.

Pemerintahan Jokowi dalam empat tahun terakhir memang telah mencanangkan reformasi untuk merealisasikan transformasi ekonomi ini, mulai dari reformasi fiskal, reformasi regulasi dan birokrasi, dan lain sebagainya.

Hasilnya mulai terlihat dengan perbaikan peringkat berusaha, peringkat daya saing, dan perbaikan peringkat utang. Hal ini cepat atau lambat Indonesia bisa keluar dari aneka ketergantungan ekonominya dengan Amerika Serikat.

Gerakan Cinta Rupiah
Selain transformasi ekonomi, langkah lain yang perlu dilakukan adalah mencangkan gerakan cinta rupiah. Gerakan ini sebenarnya sudah digalakkan oleh BI beberapa waktu lalu, dengan mengajak masyarakat menunjukkan rasa bangga terhadap Indonesia.

Gerakan Cinta Rupiah merupakan salah satu wujud nyata semangat nasionalisme, karena rupiah merupakan salah satu simbol kedaulatan Negara Indonesia dan sudah sewajibnya segenap warga negara Indonesia bangga dan cinta rupiah.

Kecintaan terhadap rupiah tentu juga akan berdampak terhadap kestabilan nilai mata uang rupiah. Ini bisa dimulai dengan hal sederhana seperti menjaga dan memperlakukan uang rupiah dengan tidak dilipat, tidak dicoret, tidak distapler, tidak diremas, dan tidak dibasahi.

Selain itu, cinta rupiah juga dilakukan dengan jalan menggunakan rupiah untuk setiap transaksi keuangan di dalam negeri dan menyimpan tabungan kita dalam bentuk rupiah.

Mengapa gerakan cinta rupiah dapat berpengaruh terhadap kestabilan nilai mata uang kita? Untuk dipahami, nilai tukar rupiah ditentukan oleh besarnya penawaran dan permintaan. Contohnya, apabila permintaan terhadap USD lebih tinggi, maka USD akan menguat dan menekan laju nilai tukar rupiah.

Jadi, jika kita ingin menjadikan nilai tukar rupiah lebih stabil dan menguat, jawaban sebenarnya sederhana, yaitu kurangi permintaan USD dan tingkatkan permintaan atau penggunaan nilai tukar rupiah. Di sinilah pentingnya kesadaran kita untuk cinta terhadap rupiah.

Penulis : Thomas Koten
Editor : Y.C Kurniantoro

Apa Reaksi Anda?