• News

  • Opini

Ketika Tuhan Hadir di Atas Puing-puing Itu

Petugas Basarnas mengevakuasi korban yang tewas dari reruntuhan bangunan di Palu.
Kabar News
Petugas Basarnas mengevakuasi korban yang tewas dari reruntuhan bangunan di Palu.

JAKARTA, NNC - Sebelum lenyap dalam ingatan kita tentang dahsyatnya bencana gempa bumi yang melanda Lombok, Nusa Tenggara Barat, dan pedihnya masyarakat yang tertimpa bencana tersebut, kita kembali dikagetkan dengan bencana gempa bumi dan tsunami yang meluluhlantakkan Palu, Sigi, dan Donggala, di Sulawesi.

Ribuan nyawa yang dapat dievakuasi kemudian dikuburkan secara massal. Belum lagi ribuan warga yang menderita akibat kehilangan materi, seperti rumah, tempat usaha, dan harta benda lainnya yang tentu tak dapat terhitung banyaknya.

Semua itu jelas menyembulkan kepedihan dan kepiluan Indonesia yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Penderitaan itu tentu bukan saja dialami secara fisik, tetapi pasti juga derita mental dan batin yang penyembuhannya memakan waktu yang sangat lama.

Di balik bencana dan penderitaan itu, tentu muncul juga berbagai pertanyaan, mengapa bencana-bencana itu tak henti-hentinya menyergap manusia? Apa salah dan dosa manusia? Apakah bencana-bencana itu sebagai hukuman atas dosa manusia?

Pertanyaan-pertanyaan itu oleh teolog Elisabeth Kulber-Ross dalam bukunya "On Death and Dying" (1968), disebut sebagai pertanyaan-pertanyaan pokok dalam “situasi batas” atau “situasi tanpa jalan keluar”.

Situasi batas adalah situasi yang menunjukkan keterguncangan, frustrasi, dan ketidakberdayaan manusia dalam menghadapi keperkasaan alam dan kemahakuasaan Sang Pencipta.

Kemahakuasaan Tuhan dan ketakberdayaan manusia
Manusia di era modern dengan kemajuan teknologi yang begitu hebat, telah menunjukan pula betapa hebatnya manusia dengan kecerdasan intelektual yang dimilikinya. Pesawat super canggih, alat perang berteknologi tinggi, teknologi informasi, dan lain-lain yang kesemuanya sungguh mengagumkan.

Namun, tatkala gempa bumi mengguncang dan tsunami meluluhlantakkan kehidupan manusia, hingga jatuhnya korban nyawa yang begitu banyak, sungguh memotretkan tentang betapa tak berartinya semua itu jika dibandingkan dengan kebesaran dan kemahakuasaan Tuhan.

Kehebatan manusia sebesar apa pun seperti tak berarti apa-apa tatkala Sang Maha Kuasa menegaskan kewibawaan-Nya lewat bencana alam dahsyat sebagai penguasa yang berdaulat atas seluruh keberadaan semesta.

Menyitir Paul Budi Kleden, seorang teolog muda yang kini bertugas di Vatikan, dalam sebuah tulisannya, "Tuhan mengguncang bumi agar manusia tersentak dari keamaman dirinya. Tuhan menuangkan air dari langit, dengan demikian mengikis rasa percaya diri manusia. Tuhan mengguncangkan gelombang laut-Nya untuk menghancurkan keangkuhan manusia."

Dengan cara itu, Tuhan menyapa dan menegur mereka pada jalannya yang sesat, berusaha mengembalikan mereka pada fitrah diri yang benar sebagai makhluk ciptaan.

Bencana itu sungguh bukan sebuah kutukan terhadap manusia atas segala perilakunya yang congkak atau sombong di hadapan segenap makhluk hidup lainnya, tetapi ia menyadarkan manusia tentang segala keterbatasan dan ketidakberdayaannya di tengah semesta. Untuk itu, segala kesombongan dan kecongkakan manusia tak mendapat arti dan makna apa pun dalam kehidupan ini.

Tuhan di puing-puing itu
Di gerbang kemajuan manusia dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologinya, sesungguhnya terpahat kematian manusia yang membius, dengan momen kematiannya yang selalu tak terduga.

Lebih lanjut, di atas puing-puing bangunan yang diterjang bencana alam super dahsyat, terkuak ketidaksepurmaan manusia dan keterbatasan kemampuan akan kecerdasan manusia. Bencana juga seperti membungkam dan menggagapkan penguasa negara dalam mengarahkan bangsanya untuk menguasai alam dan lingkungan.

Dengan bencana dan ketidakberdayaan manusia, mengarahkan manusia pada satu titik kehidupan bahwa semua itu hanya bisa dihadapi dengan sikap pasrah dalam doa dengan meneguhkan diri dari ayat-ayat suci-Nya untuk menemukan kekuatan dalam meneruskan kehidupan ini dengan sikap iman yang teguh, tidak lain.

Di saat Tuhan menunjukkan kebesaran dan kekuasaanNya, lewat dan di atas puing-puing yang hancur itu, kita hanya bisa berpasrah dalam doa, “Tuhan, kami tidak jemu meminta pada-Mu. Bila satu pintu-Mu Kau tutup, kami akan jongkok, dengan wajah dan jiwa tunduk, di depan pintu-Mu yang lain.”

Juga seperti diungkapkan Chairil Anwar, “Dan kami pun tidak bisa berpaling.” Sebagai ekspresi pasrah dan hormat kepada Sang Pemilik Jagat ini.

Karena itu, oleh banyak teolog dikatakan bahwa semua misteri bencana itu hanya bisa dihadapi dengan satu kekuatan iman, dan datangnya bencana hingga merenggut nyawa hanya bisa diterima dengan penuh kepasrahan yang dapat berujung kekuatan dan kebahagiaan.

Dengan kepasrahan itulah kita teringat pada para anggota keluarga korban bencana gempa bumi dan tsunami di Palu, Sigi, dan Donggala, juga di Lombok beberapa waktu lalu, dengan mengutip penyair Perancis,
Jangan menangis
Saudaraku
Juga dari puing-puing itu,
Setangkai anggrek akan bersemi

Penulis : Thomas Koten
Editor : Y.C Kurniantoro

Apa Reaksi Anda?