• News

  • Opini

Refleksi Hari Santri Nasional

Ilustrasi santri.
Islam Indonesia
Ilustrasi santri.

JAKARTA, NNC - Anak pesantren saat ini tak lagi ketinggalan zaman, karena pesantren jaman now sudah bermetamorfosis menjadi modern. Setiap pesantren sudah memiliki sekolah formal, dari taman kanak-kanak, bahkan hingga perguruan tinggi. Pesantren yang dulu dipandang terbelakang, saat ini dipandang sebagai lembaga pendidikan yang menjadi garda terdepan dalam menjaga moralitas bangsa.

Anak pesantren yang biasa kita sebut santri, bukan lagi menjadi anak yang terbelakang secara pendidikan, terisolasi dalam pergaulan, antimodernitas, miskin pengalaman, konservatif dalam pemikiran, sakit-sakitan, dan tak punya masa depan. Tetapi, santri masa kini merupakan santri yang terdididik, sedang ditempa untuk menjadi guru, ulama, pengusaha, pengacara, birokrat, dan pemimpin masa depan bangsa.

Santri yang dulu dianggap kampungan, kini telah menjadi anak bangsa yang diperhitungkan. Bukan hanya dibutuhkan ketika kampanye capres dan cawapres semata, tetapi santri memang dibutuhkan kiprahnya oleh bangsa, baik kiprah ketika di pesantren maupun ketika sudah berada di masyarakat. Pesantren merupakan kawah candra dimuka bagi kaum santri dalam berkiprah di pentas nasional dan internasional.

Sudah tak terhitung banyaknya alumni pondok pesantren yang menjadi pemimpin di negeri ini, baik di eksekutif, legislatif, maupun yudikatif. Ini membuktikan bahwa santri sangat diterima dan dibutuhkan oleh negara. Karena begitu besarnya peran dan sumbangsih santri terhadap republik ini, baik ketika berjuang merebut kemerdekaan RI tahun 1945, dalam menjaga NKRI, dan dalam mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang positif, kreatif, dan inovatif.

Sudah sewajarnya jika santri harus dihormati, dimuliakan, disayangi, dicintai, dimengerti, dihargai, diangkat harkat dan martabatnya, ditinggikan derajatnya, ditempatkan di tempat yang tinggi, mulia, serta terhormat. Penghormatan kepada kaum santri merupakan bagian dari investasi negara dalam menjaga moralitas dan karakter bangsa.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang memuliakan dan menghormati kaum santri. Bukan hanya menghormati jasa para pahlawan, seperti yang Bung Karno pernah katakan.
Melupakan santri adalah kerugian. Menghiraukannya adalah kemunafikan. Menindasnya adalah kedzoliman. Menafikannya adalah kebodohan. Mengingkarinya adalah kekerdilan. Membodohinya adalah pengkhianatan. Merendahkannya adalah kesombongan. Membusukinya adalah kekeliruan. Menuduhnya adalah kepongahan. Memperalatnya adalah kejahatan. Mendustakannya adalah kekejaman.

Joko Widodo Presiden RI ke-7 yang telah menjadikan santri menjadi yang terhormat dan bermartabat. Santri tidak lagi menjadi kaum pinggiran. Santri bukan lagi menjadi kelompok termarjinalkan. Santri bukan lagi anak pesantren yang terbelakang yang tak punya masa depan. Santri bukan lagi kaum sarungan yang menjadi beban. Santri bukan lagi anak bangsa yang terkungkung dalam pesantren. Namun, mereka menjadi santri yang sungguh membanggakan.

Penjaga moral bangsa
Saat ini, kaum santri boleh berbangga karena Jokowi sejak tahun 2015 melalui Keputusan Presiden RI No 22 Tahun 2015, telah menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Ya, Hari Santri Nasional. Salah satu pertimbangannya yaitu negara ingin menghormati santri dan kyai dari kalangan pesantren yang sudah berdarah-darah dan berjasa dalam merebut kemerdekaan RI, mempertahankan, dan menjaga keutuhan NKRI dengan harta, jiwa, dan raga.

Salah satu lembaga pendidikan yang masih orisinil dan steril dalam menjaga moral bangsa adalah pesantren. Santri, ustad, dan kyai masih menjadi garda terdepan dalam menjaga moralitas di republik ini. Rusaknya moralitas bangsa ini karena banyak orang baik, pasif, dan tidak terlibat dalam urusan politik. Sedangkan politik dikuasai oleh orang-orang yang mengusung pragmatisme dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan dan jabatan.

Jika bangsa ini tidak ingin terlalu rusak moralitasnya, maka santri, kyai, dan ustad sejatinya harus turun gunung dalam membangun dan mengembangkan politik kenegaraan, kebangsaan, keadaban, kesopanan, kesantunan, kebaikan, dan pelayanan. Bukan politik yang melanggengkan kemunafikan dan mengembangkan "nyinyiran". Bukan politik yang saling menghantam dan menafikan persaudaraan.

Jika yang dikembangkan adalah politik tanpa moralitas, tanpa nilai, dan tanpa visi, maka tunggulah kehancuran bangsa ini. Sejatinya bukan hanya tugas para santri, kyai, dan ustaz dalam menjaga moralitas bangsa, tapi tugas kita semua. Ya, tugas kita semua dalam menjaga dan memelihara moral di negeri tercinta ini.
 
Dengan moralitas, politik akan aman, damai, dan menyenangkan. Namun tanpa moralitas, politik akan rusak. Politik hanya akan dikuasai oleh kaum pemburu rente kekuasaan.

Hari Santri Nasional harus menjadi momentum kebangkitan kaum santri dalam berperan dan berkiprah di pentas nasional dan internasional. Suatu kebanggaan jika kaum santri dapat mengisi pos-pos pemerintahan. Semakin banyak kiprah dan kontribusi kaum santri terhadap negara, maka negara ini akan terjaga, terpelihara, dan tertata. 

Di tahun politik ini, tidak heran dan tidak aneh jika para capres dan cawapres secara khusus melakukan road show ke pesantren-pesantren, karena pesantrenlah tempatnya kaum santri menimba ilmu. Buka hanya puluhan, ratusan, dan ribuan. Tapi jutaan santri mengisi pesantren-pesantren di seluruh pelosok negeri.

Dengan banyaknya jumlah santri dan ditambah dengan besarnya pengaruh kyai, maka pesantren menjadi tempat berebut meraih simpati dan dukungan bagi para politisi. Berbanggalah menjadi santri. Jangan pernah minder apalagi keder, karena sejarah tak akan pernah melupakan kaum santri.

Ketika Hari Santri Nasional sudah ditetapkan, maka berbuat terbaiklah untuk bangsa ini. Republik ini membutuhkan santri-santri yang bukan hanya cerdas dalam pemikiran, pekerja keras, rajin ibadah, menghormati guru, kyai, dan orang tua, serta melayani sesama, tetapi juga membutuhkan santri-santri yang mau dan mampu untuk mengisi kemerdekaan dengan berbakti kepada masyarakat, bangsa, dan negara.

Politik santri adalah politik pengabdian dan pelayanan. Bukan politik praktis. Selamat Hari Santri Nasional!

 

 

 

Penulis : Ujang Komarudin, Dosen FISIP Universitas Al-Azhar Indonesia, Jakarta.
Editor : Y.C Kurniantoro

Apa Reaksi Anda?