• News

  • Opini

Politik Sontoloyo dalam Perspektif Psikologi Komunikasi Politik

Presiden Joko Widodo
Istimewa
Presiden Joko Widodo

JAKARTA, NNC - Ruang politik Indonesia mutakhir dihiasi oleh ungkapan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyentil perilaku politik sejumlah politisi dengan sebutan politik sontoloyo, yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti konyol, bodoh, dan tidak beres.

Lontaran politik sontoloyo dari Sang Presiden tersebut memang dialamatkan kepada para politisi yang selama ini berpolitik dengan menggunakan segala jurus untuk memperoleh simpati rakyat, termasuk menyerang lawan politik dengan cara yang tidak beradab dan tidak sesuai dengan tata krama dan tidak sehat dalam berpolitik.

Kata Jokowi saat itu, "Pada zaman yang semakin beradab, yang semestinya dikembangkan dalam kampanye politik adalah memaparkan kontestasi program, adu gagasan, ide, prestasi dan rekam jejak, bukan dengan cara adu domba, politik memecah belah, dan politik kebencian yang mengekspresikan politik sontoloyo."

Psikologi komunikasi politik Jokowi
Ungkapan politik sontoloyo Sang Presiden merupakan ekspresi spontan atau dalam istilah Sang Presiden sebagai kelepasan, dimana hal itu tidak hadir melalui ruang yang dimoderasi, dengan kemasan komunikasi politik yang formalistik dan elitis.

Menariknya, ungkapan capres petahana tersebut mungkin refleks naluriah, bentuk akumulasi hal-hal yang terpendam dan tidak terungkapkan sebelumnya. Bagi sebagian pejabat, mungkin itu bisa dikemukakan dengan nada marah.

Dalam psikologi komunikasi, kemarahan, dalam konten dan konteks yang sesuai, bisa menjadi kebijaksanaan. Karena ia bisa menempatkan momentum marah sebagai wujud karakter dan sikap tegas.

Banyak pejabat negeri ini kerap tampil di media massa dengan berlagak marah. Padahal, melontarkan amarah dalam berkomunikasi sebenarnya hanyalah mengekspresikan adanya persoalan personalitas dan ketidakmampuan dalam mengelola emosi.

Lalu, bagaimana memaknai "kemarahan" Presiden Jokowi kali ini? Dengan begitu beratnya beban yang dipikul Sang Presiden, ditambah lagi dengan suasana politik yang semakin memanas menjelang Pemilu 2019, terutama dari lawan politiknya, dapat melahirkan ungkapan politik sontoloyo tersebut.

Ungkapan politik sontoloyo, tidak lain secara rasional sebagai bentuk antitesis atas realitas sengitnya wajah perpolitikan kita. Dalam perspektif kepemimpinan, ungkapan politik sontoloyo, oleh sebagian kalangan dikatakan sebagai ungkapan emosional ala Jawa yang santun.

Seperti yang kita lihat saat ini adalah derap langkah sikap dan komunikasi politik yang serba elitis dari para politisi dengan alur politik yang saling serang, bahkan saling menjatuhkan.

Kepentingan publik pun hanya lahir sebagai negosiasi elit dan hasil kompromi. Persoalan publik pun tercerabut kepentingannya secara substantif di tengah debat yang hanya bernuansa artificial.

Dalam politik yang serba artificial yang diutamakan adalah pencitraan, dan di sana tidak pernah terbangun diskursus yang mencerdaskan seperti penawaran ide, gagasan, dan program sebagaimana yang disesali Jokowi.

Disayangkan, para politisi kita abai dalam hal ini, sehingga politik rakyat pun terus terjebak dalam fallacy ad hominem atau ikut saling serang atas individu, termasuk ad populum -yang membelah publik dalam dua kelompok yang ikut saling menyerang dan menjatuhkan.

Membangun politik etis
Persoalan kini adalah bagaimana caranya agar publik tidak ikut-ikutan ber-sontoloyo ria, lewat bangunan komunikasi politik yang mencerdaskan, bukannya ikut saling sikut-sikutan dan saling menjatuhkan.

Untuk itu, yang diharapkan saat ini adalah tampilnya semua pihak, terutama media massa untuk menghadirkan pencerahan dalam komunikasi politik. Media massa harus ikut membantu literasi informasi bagi publik, bahwa pemilu merupakan bagian penting dan niscaya dari demokrasi dalam rotasi kepemimpinan.

Lebih jauh lagi, media massa harus terus menyajikan berita yang mengajak publik untuk dapat bersikap kritis kepada para elit politik, dengan membangun komunikasi politik yang etis dan bertatakrama.

Penulis : Thomas Koten
Editor : Y.C Kurniantoro

Apa Reaksi Anda?