• News

  • Opini

Wahai Guru dan Sekolah, Kembalilah ke Jalan yang Benar!

Ilustrasi tawuran antar pelajar
istimewa
Ilustrasi tawuran antar pelajar

JAKARTA, NNC - Seorang pegiat pendidikan alternatif di Indonesia pernah berkata kepada penulis, “Setelah menelusuri pemikiran tokoh-tokoh pendidikan di seluruh pelosok dunia, ternyata konsep pendidikan yang paling dalam justru telah disodorkan oleh tokoh yang ada di depan mata kita.”

Gejala lain juga pernah penulis alami ketika bertanya pada seorang guru, “Siapakah Bapak Pendidikan Indonesia?” Dengan percaya diri, guru itu menjawab, “Ki Hadjar Dewantara.” 

Bila dicecar lebih jauh, “Apa istimewanya tokoh ini?” Guru itu menjawab dengan lantang, “Penggagas falsafah Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.”

Guru itu dicecar semakin dalam, “Lalu apa lagi?” Kali ini, guru itu tampak geragapan. Mulutnya tiba-tiba menjadi gagap dan wajahnya celingukkan. Kepalanya menengok ke kanan-kiri, seolah mencari contekkan.

Boleh-boleh saja seorang guru atau pegiat pendidikan mendalami berbagai konsep tentang filosofi pendidikan dari mancanegara. Siapapun tokohnya, pasti akan menambah referensi pengetahuan kita.

Namun, sebelum ke mana-mana, ada baiknya selamilah konsep pendidikan dari Bapak Pendidikan Indonesia terlebih dahulu.

The Founding Fathers tentu memiliki alasan yang kuat mengapa Ki Hadjar Dewantara disebut sebagai Bapak Pendidikan Indonesia.

Gagasan among di Taman Siswa

Sejak berdiri pada 3 Juli 1922, Taman Siswa berusaha mengejawantahkan gagasan among yang artinya “mengabdi dengan membimbing.”

Dalam catatan berjudul “Leidende Gedachten bij het z.g. Amongsysteem van de Taman Siswa Scholen” yang ditulis oleh S Mangoensarkoro pada 1938, disebutkan bahwa istilah among yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantara bagi Taman Siswa memiliki makna yang sangat mendalam.

Dalam budaya sehari-hari orang Jawa, gagasan among sering dijumpai dalam kisah pewayangan yaitu relasi antara punakawan, khususnya Semar dalam pengabdiannya kepada ksatria Arjuna.

Gagasan among dalam Taman Siswa memiliki penjabaran dan pandangan yang lebih jauh lagi yaitu terkait dengan konsep tugas manusia di dunia ini. Tugas apakah itu?

Manusia secara kodrat “hanyalah” suatu pemberian “Kekuatan Alam” namun memiliki bakat, pemikiran (akal budi) yang membedakan dengan makhluk lain, sehingga menjadi faktor yang secara sadar berevolusi menuju ke kesempurnaan.

Manusia memiliki tugas bersama dan sekaligus mengabdi kepada “Kekuatan Alam” yang Maha Agung atau Tuhan melalui karya bersama dan bagi sesama. Dalam proses ini, manusia sekaligus diantar menjadi dekat pada Tuhannya.

Keyakinan dan kesadaran ini menyebabkan manusia melakukan segala perbuatan dengan diliputi kerendahan hati menuju kesucian dan kehidupan yang bermartabat.

Bertolak dari sini, Taman Siswa selalu mengajak anak untuk sadar terhadap tujuan akhir dari semua bentuk kehidupan. Cita-cita akhir itu tak lain berupa persatuan dengan Tuhan dan dinyatakan dalam semboyan “Suci Tata Ngesti Tunggal”.

Anak tangga menuju nasionalisme dan kebangsaan

Gagasan among dalam Taman Siswa, mendidik anak menjadi manusia yang merdeka, sehat jasmani dan rohani, serta berinteraksi secara vertikal dan horizontal secara seimbang.

Setiap anak diajak memiliki watak patuh kepada Tuhan (relasi vertikal) yang diraih secara perseorangan (hubungan intim bersifat pribadi) dan harus pula mengarah kepada pengabdian terhadap umat manusia.

Dalam hal ini, Mangoensarkoro menggarisbawahi, “Kekuatan negeri itu jumlahnya kekuatan orang-orangnya.” Semakin teguh kepribadian orang per orang, semakin kuat masyarakatnya.

Dalam mengabdi sesama (relasi horizontal), setiap pribadi mendasari dirinya pada rasa cinta yang harus diwujudkan dalam perbuatan nyata.

Indikator perbuatan nyata dapat dilihat jika setiap pribadi terbiasa saling membantu dan bekerja sama atau gotong royong.

Oleh sebab itu, dalam pendidikan Taman Siswa setiap anak selalu diberikan kesempatan secara intensif bergaul dalam perkumpulan (berorganisasi) sesuai bakat atau perannya masing-masing dengan diliputi semangat gotong royong.

Semangat perkumpulan adalah landasan semangat kebangsaaan atau nasionalisme. Dan semangat nasionalisme bukan untuk membenci bangsa lain.

Bergaul dalam perkumpulan menjadi semacam anak tangga menuju pergaulan bangsa yang dilandasi prinsip kemanusiaan dan cinta kepada sesama. Dan hal ini tercermin dalam semboyan asas Taman Siswa  yaitu "kemanusiaan dengan sifat kebangsaan.”

Kekeluargaan dan kegotongroyongan di tengah masyarakat

Filosofi Ki Hadjar Dewantara saat mendirikan Taman Siswa, selalu mendasarkan pada asas pertumbuhan alami, yaitu, “Anak dididik sesuai keadaan alamiah, sesuai bakat alamiah, dan dengan keadaan alamiah.”

Pusat terpenting pendidikan adalah keluarga. Relasi ayah dan ibu kepada anak adalah sesuatu yang alamiah dan harus menjadi landasan. Relasi ini diadopsi menjadi sistem among yang dialihkan ke Taman Siswa.

Artinya, Taman siswa bertindak sebagai “keluarga besar dan suci” sesuai hakikat dan tugas keluarga suci yang ditandai dengan persatuan dan relasi utuh orangtua dan anak.

Taman Siswa harus memiliki hubungan “sebatin”.  Para anggotanya wajib bertindak sebagai sesama saudara yang saling meneguhkan dan bukan berupa persaingan saling menonjolkan diri dengan prestasi individualnya.

Prestasi dan keunggulan tak bisa seolah berdiri sendiri. Prestasi adalah hasil dari kerja dan relasi bersama dalam arti menjadikan diri kita berguna untuk mengabdi sesama.

Guru adalah “bapak” dan “ibu” seperti di dalam keluarga. Dan agar suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan bisa diwujudkan secara nyata maka sekolah dikondisikan menyerupai “rumah tangga keluarga.”

Gedung sekolah tempat belajar adalah kesatuan antara tempat beraktivitas (menari, membaca, melukis, meneliti, dan lain-lain) juga menyatu dengan tempat tinggal.

Istilah kesatuan gedung sekolah dalam Taman Siswa adalah “pondok-asrama”. Istilah ini merujuk seperti sistem pondok pesantren umat Islam. Namun Taman Siswa bersifat lintas agama sehingga bisa disebut juga sebagai “rumah-sekolah”.

Guru sebagai orangtua dan siswa sebagai anak kemudian berposes bersama dalam “pondok-asrama” seperti layaknya keluarga. Dan dibuatlah pengelompokan proses belajar berdasar usia (Taman Anak, Taman Taman Muda, dan Taman Dewasa).

Selain mempelajari keilmuan (bahasa, budi pekerti, berhitung, sejarah, seni, dan lain-lain), proses belajar tiap kelompok selalu tak lepas dari persoalan keseharian dan menjawab kebutuhan nyata masyarakat di sekitarnya.

Proses belajar dalam “pondok-asrama”  juga berinteraksi, merawat, dan memajukan objek-objek kebudayaan seperti seni, adat, budaya, tradisi, tata nilai, cagar alam, cagar budaya yang ada dan dianut oleh masyarakat setempat  (kebudayaan benda dan kebudayaan tak benda).

Segenap penghuni “pondok-asrama” juga harus berinteraksi dan terlibat aktif dengan semua lembaga di sekitarnya, baik formal maupun non formal seperti tokoh adat, ketua RT, RW, seniman, kepala suku, dan lain-lain.  

Pendidikan nasional saat ini mengarah ke mana?

Dengan membandingkan beberapa pokok sistem among dalam Taman Siswa dengan kondisi pendidikan nasional saat ini, rasanya terdapat perbedaan yang mencolok. Pertanyaannya, sebenarnya pendidikan nasional Indonesia mau ke arah mana?

Jelas bahwa sekolah dan guru mempunyai tugas mulia membentuk generasi berkarakter dan berjiwa kebangsaan. Kalimat ini mudah diucapkan, namun dalam prakteknya apakah sudah demikian?

Sekolah dan guru adalah “agen kebudayaan nasional” Indonesia. Keberadaannya tidak boleh membuat generasi justru tercerabut dari akar kebudayaannya (terpisah, menjauh, dan tidak terlibat dalam memajukan kebudayaan setempat).

Bila para guru dan sekolah masih sepakat bahwa Ki Hadjar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Indonesia, dan apabila selama ini arah guru dan sekolah justru menjauh dari gagasan Ki Hadjar Dewantara, maka sebaiknya segera kembalilah ke jalan yang benar!

 

Selamat Hari Guru!

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?