• News

  • Opini

Bayi Yesus Adalah Simbol Cinta Tuhan kepada Umat Manusia

Ilustrasi perayaan Natal
voaIndonesia
Ilustrasi perayaan Natal

JAKARTA, NNC - Natal dengan segala pernak-pernik dan aksesorisnya kembali datang. Tanggal 25 Desember senantiasa dirayakan oleh umat Kristiani sebagai hari kelahiran Yesus Kristus, Sang Juru Selamat bagi umat manusia.

Merayakan kelahiran Yesus adalah sebuah perayaan yang sangat manusiawi. Perayaan  itu menyiratkan nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi dan mengandung religiositas yang tak terbatas dalam rangka memuji kebesaran dan keagungan Tuhan.  

Dalam keyakinan umat Kristiani, Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Suci, Sang Raja alam semesta, dan Maha Sempurna, berkenan turun dan menjelma menjadi manusia. Tuhan menyatu dalam kehidupan manusia biasa yang hidupnya penuh dengan lumpur dan aneka bentuk dosa.

Keyakinan dan ajaran itulah yang membersitkan sebuah rahasia terbesar dan teragung dalam sejarah kehidupan umat manusia, terutama bagi umat Kristiani. Mungkin hal itu sulit dipahami bagi orang yang tidak mengimani dan hal itu bisa dimaklumi. 

Landasan substansial perayaan Natal

Segala hal yang menyangkut iman, tidak akan bisa dijelaskan secara logis dan matematis. Artinya, segala yang tidak mungkin bagi manusia, bagi Tuhan serba mungkin dan pasti bisa terjadi.

Dalam Kitab Suci Umat Kristiani (Alkitab),  kebenaran tentang Tuhan yang menjelma menjadi sosok Yesus sebenarnya merupakan simbol nyata perwujudan cinta kasih atau kasih sayang Tuhan (Allah) bagi umat manusia.

Artinya, kelahiran Yesus Kristus adalah sebuah momentum inkarnasi Tuhan yang menjadi manusia. Peristiwa itu ingin mengatakan bahwa Tuhan mencintai dan menyayangi umat manusia. Caranya dengan “menghinakan” diri-Nya, untuk menyapa dan bersolider dengan umat manusia.

Tuhan itu Maha Suci (Kudus) dan Maha Tinggi. Namun ia berkenan ikut tenggelam dalam kehidupan dan bahkan berkenan merasakan penderitaan umat manusia. Penderitaan umat manusia ada banyak bentuknya.

Ada yang disebabkan karena akibat himpitan ekonomi, menjadi korban manipulasi politik, terbonsai oleh arogansi keagamaaan yang sempit, terepresi oleh brutalisme kekuasaan dengan sistem yang menindas, dan sebagainya.

Aloysius Pieris dalam bukunya, “An Asian Theology of Liberation menulis bahwa Yesus sengaja mengambil jalan kemiskinan, bukan sebagai protes negatif atau sekadar kesetiakawanan pasif dengan kaum miskin, papa, para gelandangan dan orang-orang terlantar, teraniaya dan terpinggirkan dari kehidupan masyarakat.

Yang patut dipahami secara mendalam adalah bahwa Tuhan mewujud menjadi sosok manusia bernama Yesus adalah merupakan wujud strategi aktif untuk menghadirkan solidaritas Tuhan kepada umat manusia.

Berikutnya, dengan kelahiran seperti itu, Tuhan menghadirkan sebuah perlambang rekonsiliasi dengan umat manusia. Tuhan ingin kembali menjalin hubungan mesra dengan menyejajarkan aneka perbedaan, serta menyatusaudarakan seluruh jagat dan alam semesta ini dalam keserasian-Nya. 

Keangkuhan, keserakahan, dan egoisme manusia telah memutus rantai relasi yang penuh kasih antara Tuhan dengan segenap ciptaan di bumi. Dan itu harus diperbaharui.

Manusia bukan hanya saling membinasakan dalam sistem pertarungan untuk membuktikan siapa yang kuat (menang) dan siapa yang lemah (kalah). Manusia juga seringkali begitu kejam dalam mengeksploitasi alam semesta secara brutal.

Akibatnya, lahirlah segala bencana yang menghempaskan aneka rupa dan makhluk ciptaan Tuhan dalam kematian yang prematur.

Padahal, alam  semesta ini, seperti dalam lukisan Santo Agustinus dalam satu risalahnya sebagai Vestigio Dei, Bekas Kaki Allah, merupakan gugusan alam semesta raya yang begitu indah dan menjadi pantulan dari Sang Perancang-Nya yang sebenarnya tidak dibatasi masa hidupnya oleh waktu (kekal).

Namun akibat keangkuhan, keserakahan, dan egoisme manusia (dosa), sifat kekal itu telah ternodai.   

Apa yang mesti dilakukan?

Tidak ada jalan atau cara lain yang lebih indah selain jalan bagi manusia untuk memaknai peristiwa historis yang bersifat imanen melalui perayaan Natal.

Solidaritas Tuhan dalam wujud manusia (Yesus) mengalami puncaknya dalam membuktikan cinta dan kasih sayang Tuhan terhadap manusia adalah dengan mengorbankan diri-Nya demi keselamatan abadi bagi umat manusia (karya penebusan dosa) di atas kayu salib.

Dan hal ini menjadi tantangan bagi manusia dalam merayakan Natal. Manusia diajak untuk merajut dan merekatkan kembali dari segala bentuk keterputusan hubungan dan persatuan dengan Tuhan akibat nafsu liar manusia yang terbalut dalam sikap egoisme, individualisme, keserakahan, dan sebagainya.

Secara khusus, bagi masyarakat Indonesia, Natal memberi pesan yang sangat aktual untuk menumbuhkan persatuan, perdamaian, saling menyayangi di atas segala perbedaan budaya, agama, suku, ras.

Umat manusia diajak untuk menghormati segala bentuk, warna-warni, dan perbedaan. Bila itu diwujudkan akan melahirkan situasi yang begitu indah.

Manusia yang satu bersujud di masjid, yang lainnya berlutut di gereja, di wihara, yang lainnya lagi bersimpuh di sinagoga, dan semuanya dalam sikap penghormatan yang sama, yaitu tertuju kepada Tuhan, Sang Sumber Cinta dan Perdamaian.

Akhirnya, semoga Natal yang identik dengan “Salam Damai” bagi dunia, semoga dapat memercikan keindahan warna-warni perbedaan dan keanekaragaman yang tumbuh di persada Nusantara.

Cinta dan kasih sayang Tuhan kepada manusia melalui kelahiran bayi Yesus yang diyakini umat Kristiani sebagai Sang Juru Selamat, dan kemudian akan menanggung penderitaan di kayu salib untuk menebus (memperbaharui relasi manusia dan Tuhan), benar-benar memberikan semangat untuk mewujudkan perdamaian di seluruh dunia. Amin.

Kepada seluruh Umat Kristiani, “Selamat Merayakan Natal!”

 

Penulis : Thomas Koten
Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?