• News

  • Opini

Terapi Kejiwaan Masyarakat dari Traumatik Pasca-Bencana

Satuan Bakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos) mengajak bermain anak-anak pengungsi.
duajurai.co
Satuan Bakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos) mengajak bermain anak-anak pengungsi.

JAKARTA, NNC - Tidak ada gempa bumi, tiba-tiba tsunami menghempas kawasan pesisir pantai Provinsi Banten dan Lampung akibat erupsi Gunung Krakatau. Lebih dari 300 nyawa manusia melayang.

Termasuk ikut jadi korban adalah beberapa anggota grup musik Seventeen. Mereka sedang manggung di Pantai Carita saat tragedi tanggal 22 Desember itu terjadi.  

Indonesia pun kembali berduka. Ingat, belum lama ini, tragedi bencana juga terjadi di Lombok dan Palu.  Entah sampai kapan duka-duka akibat bencana alam ini dapat  berakhir.

Sangat sulit mendapatkan jawaban yang pasti mengingat Indonesia terletak di cincin api yang sangat rentan dengan bencana alam seperti gempa bumi dan letusan gunung api, serta hempasan gelombang yang dahsyat.

Sebagaimana yang kita lihat dan rasakan, setiap kali bencana menerjang, pemerintah dan masyarakat tergerak hatinya, langsung menurunkan bantuan logistik dan material kebutuhan untuk membantu meringankan para korban.

Namun, apakah itu sudah cukup? Ingat bahwa di balik itu semua, dapat dipastikan ada ratusan ribu, bahkan jutaan warga yang mengalami trauma akibat bencana.

Trauma psikologis itu tentu berbeda antara satu dengan yang lainnya. Besar kecilnya tergantung pada efek bencana yang mereka dapatkan dan kekuatan benteng psikologis para korban itu sendiri.

Masyarakat Traumatik

Ironisnya, masyarakat yang mengalami trauma psikologis itulah, sebagaimana masyarakat di berbagai daerah yang selama ini ditimpa bencana alam, selalu mengalami nasib yang sama, yaitu kurang mendapatkan perhatian dalam proses penyembuhan luka-luka batin  melalui psikoterapi kejiwaan.

Perlu dicatat bahwa masyarakat pasca bencana adalah masyarakat  traumatik. Masyarakat traumatik adalah masyarakat yang mengalami gangguan kejiwaan akibat pengalaman tragis yang dialami saat bencana.

Pengalaman tragis kemudian mencuatkan perilaku sindrom atau fenomena kejiwaan abnormal yang selalu membelenggu perasaan para korban bencana. Apalagi, para korban itu kemudian mengalami beban psikologis yang mengerikan akibat kehilangan anggota keluarga dan hancurnya harta benda.

Perasaan traumatik tersebut menimbulkan berbagai kecemasan, ketakutan, dan putus asa. Hal itu akan sangat berpengaruh pada  perilaku mereka dalam menghadapi berbagai masalah di masa mendatang.

Bahkan, banyak pula yang mengalami perasaan traumatik sangat tinggi, yang dapat membundel pada sikap dan perilaku sadistik, seperti bunuh diri.

Tentang perilaku tragis bunuh diri pasca gempa itu, mungkin masih ada pembaca yang ingat kasus Mardi,  warga  Gunung Manuk, Salam Pathuk, yang bunuh diri pasca gempa Yogyakarta 2006 silam.

Sosok Mardi diyakini pasti bukan hanya satu. Pasti ada Mardi-Mardi lain di negeri yang akrab dengan bencana alam ini.

Apabila fenomena kejiwaan atau “sakit jiwa” masyarakat tersebut tidak ditangani secara serius, akan dapat melahirkan aneka penyakit sosial atau ketentraman sosial-moral kolektif.

Keberadaan masyarakat seperti itu, tidak bisa hanya dilihat dalam aneka perilaku individual, melainkan suatu fakta sosial keterpurukan masyarakat banyak dalam aneka perilaku ketidakberdayaan dalam menghadapi penderitaan dan kesulitan-kesulitan lainnya.

Masyarakat traumatik juga kerap disebut sebagai anomic suicide, yaitu masyarakat yang terperangkap dalam kegalauan sosial di mana semuanya mengalami kebingungan dan tidak tahu lagi apa yang mesti dilakukan.

Situasi ini ini terjadi tatkala harmoni dalam menjalani siklus kehidupan yang normal mekanistis, diubah secara tiba-tiba oleh guncangan bencana alam.

Memang, guncangan bencana hebat yang menyergap secara tiba-tiba telah menciptakan sebuah realitas “kekosongan” hidup akibat kehilangan banyak hal. Sanak keluarga dan harta benda musnah akibat bencana.

Itulah yang membuat para korban bencana mengalami realitas psikologis, kehilangan keseimbangan psikologis, dan dapat mencuatkan perilaku sindrom atau ke suatu situasi gangguan psikologis yang parah, yang disebut sakit jiwa serius.

Sebuah kondisi psikologis dari para penderita “sakit jiwa” pasca bencana tersebut, dikuasai oleh struktur yang disebut sebagai addiction, avoidance, dan violence. Sewaktu-waktu, hal itu mencuat dengan sendirinya ke permukaan diri  dan sulit dikendalikan oleh alam bawah sadar para korban.

Dalam istilah sang psikoanalis Sigmund Freud, disebut ego traumatik telah kehilangan aspek rasional dari kesadaran yang dimiliki ego normal, sehingga sang penderita sulit mengontrol dirinya sendiri.

Itulah yang kemudian menimbulkan hubungan sosial dan perilaku menyimpang di tengah masyarakat. Bila dibiarkan kemudian akan berujung pada lahirnya kerentanan sosial dan moral kolektif hingga melahirkan aneka kriminalitas.

Perlu dicatat juga bahwa kriminalitas merupakan perilaku publik yang abnormal di mana itu sebenarnya disebabkan oleh tidak diselesaikannya berbagai persoalan masa lalu yang kemudian menjadi sumber bayangan para korban dalam mengarungi kehidupannya.

Terapi Kejiwaan Publik

Yang perlu ditegaskan di sini bahwa penyembuhan atau psikoterapi masyarakat traumatik merupakan suatu keharusan, selain bantuan logistik atau material lainnya. Hanya, bahwa semua itu harus dilakukan dengan menerapkan sejumlah langkah yang tepat.

Pertama, perlu dilakukan langkah penelitian publik untuk menakar  sejauh mana gangguan mental yang dialami masyarakat pasca bencana, kemudian mengidentifikasinya secara tepat.

Kedua, dilakukan pendampingan sebagai bentuk dukungan, percakapan penguatan, dan kemudian diambil tindakan penyelesaian atau mengatasi masalah.

Langkah kedua itu, masuk dalam tindakan konseling, terapi publik, dan pendampingan rohani sebagai umat beragama di mana menjadikan Sang Khalik sebagai sandaran utama dan sumber serta kekuatan hidup.

Dengan itu, masyarakat traumatik dapat diarahkan kepada keserasian dan keseimbangan hidup lahir bathin. Suatu cara dan langkah terapi yang  membangkitkan kesadaran sosial-publik  (social self awareness) hingga ke derajat equilibrium, menuju tahap akhir, yaitu penyembuhan.

 

Penulis : Thomas Koten
Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?