• News

  • Opini

Meniti Tahun 2019 dengan Senyum Manis dan Optimisme

Perayaan Tahun Baru 2019
pojoksatu
Perayaan Tahun Baru 2019

“Januari mengeras di tembok itu juga.

Lalu Desember

Musim pun masak sebelum menyala cakrawala

Tiba-tiba kita bergegas pada JEMBATAN itu.”

 

JAKARTA, NNC - Itulah kutipan bait puisi karya sastrawan Sapardi Djoko Damono yang berjudul ”Buat Ning”. Pusi tersebut merupakan potret tentang pergantian tahun yang selalu dirayakan oleh seluruh umat manusia di planet bumi ini.

Kita telah merayakan pergantian tahun dalam aneka macam cara dan bentuk. Aneka macam cara dan bentuk perayaan itu  terekspresi dalam lagu, puisi, doa, ibadah, yang dihiasi kembang api dan tiupan terompet.

Semua tampak bersukacita mensyukuri atas berbagai kegagalan dan keberhasilan yang sudah kita lewati pada tahun sebelumnya. Semua yang merayakan juga tidak lupa untuk merajut harapan agar meraih  segala yang lebih baik pada tahun yang akan datang.

Antara Memori dan Impian

Kegagalan dan keberhasilan di masa lampau sudah kita alami dan rasakan sendiri sebagai sebuah lukisan indah tentang pahit manisnya kehidupan. Lalu, apa yang akan terjadi esok, tidak ada yang tahu.

Namun ada satu yang pasti. Ibarat berjalan kita terus melewati sebuah perjalanan yang tanpa akhir, the journey never end.

Untuk meraih hari esok yang lebih sukses, kita kini seolah mulai meniti labirin tanpa terminal akhir di "ujung jembatan". Tahun politik yang dipastikan memanas di tikungan jalan demokrasi, membuat pertanyaan tentang kegagalan atau keberhasilan di tahun 2019. Dan sepertinya, tidak ada jawaban yang pasti.

Lalu, apa yang mesti dilakukan? Yang jelas, putus asa bukanlah jalan keluar dari persoalan-persoalan yang terus menggumpal.

Pengalaman pahit (memory passionis) di masa lampau harus dijadikan tantangan untuk segera bertindak secara baru untuk sukses. Memori kekecewaan, penderitaan, kegagalan harus diganti dengan memori kebangkitan untuk maju meraih sukses (memory resurrection)

Bangkit untuk maju meraih hari esok yang lebih baik dalam rajutan mimpi utopian adalah jalan indah yang mesti dilewati. Persoalan barangkali terletak pada sejauh mana kita memiliki memori dan mimpi-mimpi.

Menurut futurolog Friedman, yang menjadi indikasi keberhasilan yaitu apakah kita memiliki lebih banyak memori ketimbang mimpi atau sebaliknya.

Kolumnis Imam Cahyono menulis begini, “Jika kita memiliki lebih besar memori ketimbang mimpi, yang terjadi adalah romantisme.” Kita hanya menghabiskan waktu untuk melihat ke belakang (looking backward), memaknai masa kini dengan mengagungkan masa silam.

Nyatanya memang kita lebih terlena oleh kisah indah akan keberhasilan masa lampau, meski itu kecil ketimbang  membangun kehendak yang kuat dengan imajinasi yang tinggi untuk mengukir masa depan yang lebih baik.

Singkatnya, tanpa disadari, kita pun terus terpenjara oleh masa lampau, lalu lupa untuk menatap masa depan yang lebih indah dengan lalai untuk mewujudkan rencana-rencana indah yang sudah dibangun.

Harapan Utopis

Kalau begitu, keberhasilan pun menjadi sebuah utopia kosong seperti harapan-harapan akan kesuksesan yang hanya terpahat di dinding kosong tanpa makna. Juga tak ada janji-janji yang mencoba memberikan sekelumit semangat untuk terus berjuang.

Belum lagi aneka bencana yang terus menghimpit, seperti yang dialami oleh bangsa kita belakangan ini, yang terus berpejal dalam bahaya kehidupan, tanpa peduli kalau kita memang sudah kelelehan dalam menghadapinya.

Padahal, kita semua tahu bahwa pengalaman akan kegagalan masa lampau adalah guru terbaik bagi masa kini. Pengalaman adalah sumber sejarah inspiratif pembelajaran dan tumbuh kembang menuju kesuksesan.

Kata Kolh Berg, Sang Penggagas the clenical eksperiental learning model di Amerika, bahwa pengalaman nyata masa lampau dan masa kini adalah titik pembelajaran dan tumbuh kembang hari esok yang akan dialami oleh bangsa yang mau belajar mengubah nasibnya, mau terus belajar, dan ingin maju.

Dalam kaitan dengan kehidupan bangsa ini, menjadi menarik terlihat dalam lukisan detail Ernest Renan lewat artikel pendeknya, What is a nation?. Kebangsaan hari esok mesti dipahami sebagai suatu bentukan solidaritas moral yang dipupuk dan dipertahankan melalui kesadaran sejarah yang khas.

Kehendak sadar hari ini merupakan titik temu dari evalusasi pengalaman kehidupan berbangsa dan bernegara di masa lampau dengan proyeksi kehidupan berbangsa di masa depan. 

Keindahan Mimpi

Untuk Indonesia, apa pun yang harus dilakukan, tidak lain bahwa mimpi indah harus diciptakan. Harapan harus diwujudkan. Kebernasilan akan selalu menunggu di seberang perjuangan kita untuk mewujudkan cita-cita indah kebangsaan.

Kata Bung Karno, kemerdekaan adalah “jembatan emas” yang di seberangnya akan terwujudkan keadilan dan kemakmuran bangsa. Kita harus terus membangkitkan keinsafan rakyat tentang pemikiran “masa silam yang indah, masa kini yang gelap gulita dan janji-janji suatu masa depan yang melambai-lambai, berseri-seri.”

Memang, masa depan seperti kata Eleanor Roosevelt, adalah milik mereka yang percaya akan keindahan mimpi-mimpinya. The future belongs to those who believers in the beauty of their dreams.

Marilah kita merajut harapan di tahun 2019 ini dengan senyum manis dan penuh optimisme!

Selamat Tahun Baru 2019.

Penulis : Thomas Koten
Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?