• News

  • Opini

Manusia Indonesia Suka Berbohong, Benarkah?

Kasus hoaks yang menyeret Ratna Sarumpaet telah menimbulkan kegaduhan publik
(dokumentasi NNC/Anhar Rizky Affandi)
Kasus hoaks yang menyeret Ratna Sarumpaet telah menimbulkan kegaduhan publik

Berita Terkait

JAKARTA, NNC - Masalah kebohongan publik, mencuat tajam belakangan ini, terutama terkait pencapresan. Bermula dari aksi bohong yang dilakukan oleh Ratna Sarumpaet (RS) dengan hoaks mengaku digebuki sekelompok orang di Bandung, aksi pembohongan publik masih terus berlanjut.

Tragisnya, kisah bohong RS sempat terlanjur disebarluaskan sejumlah elite politik. Kisah kebohongan itu pun langsung memenuhi akustik ruang publik negeri ini, yang disusul dengan genderang kebohongan lain yang ditabuh oleh berbagai aktor.

Publik tentu saja heran dengan kisah bohong yang dilakukan oleh RS. Ia dikenal berlatar belakang seniwati, aktris drama, terkenal vocal dalam mengritik pemerintah, namun kemudian melakukan tindakan yang konyol seperti itu.

Dan patut menjadi keprihatinan bersama, masalah kebohongan publik bukanya kemudian surut, tetapi malah semakin marak.

Baru-baru ini muncul kembali berita hoaks tentang tujuh kontainer surat suara pemilu tercoblos. Ini menjadi bukti bahwa hoaks terus menghiasi wajah kehidupan di negeri ini.  Lalu, apa yang hendak dikerling di sini?

Manusia Indonesia suka berbohong?

Persoalan kini adalah apakah kita hanya sekadar heran atau kaget dengan perilaku bohong RS dan pelaku hoaks lainnya? Jangan-jangan  perilaku berbohong itu sebenarnya sudah merupakan ciri manusia Indonesia yang sesungguhnya?

Mochtar Lubis, dalam ceramahnya, “Manusia Indonesia, Sebuah Pertanggungjawaban” di Taman Ismail Marzuki Jakarta, pada 6 April 1977, menyebutkan bahwa ada beberapa ciri manusia Indonesia.

Ciri itu antara lain: malas, korup, suka menerabas atau suka mengambil jalan pintas, senang takhayul, sukan berbohong, dan kurang serius dalam menjalankan hidup.

Menurut sastrawan sekaligus budayawan itu, salah satu ciri manusia Indonesia yang paling menonjol adalah hipokrisi. Manusia Indonesia suka berpura-pura, lain di depan, lain di belakang.

Manusia gemar mengemas kebohongan dengan bahasa-bahasa retorik, sehingga sulit dikenali realitas yang sebenarnya. Perilaku berbohong yang diperagakan manusia Indonesia ini tidak lain untuk bisa tetap eksis atau survive.

Contoh yang paling telanjang untuk ini adalah berbagai kasus hoaks yang dipertontonkan menjelang masa kampanye, dengan tujuan agar tetap eksis atau survive dalam pertarungan pilpres.

Apabila dilihat sepintas, kata-kata penilaian Mochtar Lubis itu, terkesan berlebihan, dan terlalu subyektif. Tetapi, apabila dicermati secara saksama, dan dikontekstualisasi dengan realitas sosial masyarakat selama ini, ternyata pernyataan itu memiliki relevansi faktualnya yang mendasar.

Selain perilaku bohong seperti yang dilakukan oleh RS dan para pelaku hoaks lainnya, jika diperluas, maka perilaku korupsi, politik uang,  dan lain-lain adalah bentuk-bentuk kebohongan yang telah menjadi salah satu ciri manusia Indonesia seperti yang dipaparkan Mochtar Lubis di atas.

Kenapa orang berbohong?

Mengapa manusia Indonesia suka berbohong? Charles Ford, dalam “Lies! Lies! Lies! The Psychology of Decent”, mengatakan orang berbohong memiliki motivasi yang beragam.

Ada yang ingin agar dirinya dikatakan sebagai orang hebat, supaya tetap survive atau tetap eksis, atau untuk menciptakan situasi menjadi lucu dan membuat orang tertawa, dan seterusnya.

Kebohongan yang paling mengerikan adalah untuk mendapatkan keuntungan materi, seperti melakukan korupsi. Dalam korupsi, biasanya orang melakukan kebohongan demi kebohongan lain atau untuk menutupi kebohongan sebelumnya.

Bukankah tidak ada koruptor yang benar-benar mengaku tindakan korupsinya?  Jelas tidak ada.

Padahal  kebohongan entah kecil atau besar, tidak ada untung secuil pun. Malah membuat si pembohong semakin terpuruk secara mental dan menggiring kepada kehancuran harga diri.  

Meskipun sang koruptor itu terlihat tegar dan selalu tersenyum, namun sesungguhnya itu hanya untuk membungkus perasaannya yang hancur dan untuk harga dirinya yang kandas.

Sehingga, oleh psikolog Bardyaev, dikatakan bahwa para pembohong seperti koruptor adalah sebagai orang-orang yang mengalami keterbelahan jiwa, sakit mental atau schizophrenia.

Kembali ke hati nurani

Bagaimana supaya orang tidak lagi berperilaku suka berbohong? Filsuf Immanuel Kant, mengatakan, “Perilaku berbohong hanya bisa dicegah dengan upaya menjernihkan dan menajamkan hati nurani.”

Dengan tajamnya hati nurani, seseorang akan dengan mudah mencegah keinginan untuk melakukan kebohongan. Dan dengan demikian, akan terbangun sikap jujur. Karena kejujuran hanya bisa lahir dari orang yang memiliki hati nurani yang bersih.

Hati nurani merupakan landasan dalam berperilaku secara moral. Orang bermoral sudah jelas memiliki hati nurani yang bersih. Orang bermoral dan berhati nurani yang bersih akan membentuk kepribadian yang bersahaja.

Sehingga, apabila hati nurani tidak bersih maka akan terus lahir berbagai bentuk kebohongan yang merusak tatanan kehidupan bersama. Dan bila itu dilakukan secara massal, dampaknya sungguh mengerikan.

 

Penulis : Thomas Koten
Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?