• News

  • Opini

Golput: Stupid, ‘Berenang di Kolam Kosong’, atau Bagian Demokrasi?

Ilustrasi golput
istimewa
Ilustrasi golput

JAKARTA, NETRALNEWS - Jagad media sosial atau medsos, beberapa hari terakhir menjadi semakin gaduh oleh adanya satu artikel karya Franz Magnis Suseno di harian Kompas tanggal 12 Maret 2019. Artikel itu berjudul, “Golput”.

Seperti yang sudah-sudah dan kita kenal, Franz Magnis Suseno (FMS) dikenal publik dengan pendapatnya tentang pemilu yaitu bahwa “Pemilu bukan untuk memilih yang terbaik, tapi untuk mencegah yang terburuk berkuasa.”

Mengutip tulisan FMS, istilah ”golput” atau golongan putih diciptakan sekitar tahun 1971 oleh Imam Waluyo. Golongan ini terdiri dari orang-orang yang tak mau memilih dan saat pemilu mencoblos bagian putih di surat suara.

Golongan putih di era Orde Baru  ini konon menolak keberadaan partai-partai sebagai kendaraan politik untuk meraih kekuasaan dalam sistem demokrasi yang berlaku kala itu.

Golput menolak memberikan suaranya. Pilihan politik ini memang dimungkinkan karena di undang-undang sistem pemilu kita, tidak mewajibkan warga negara harus memilih.

Dan hal ini dipersoalkan oleh FMS sebagai suatu tindakan yang tidak baik secara moral. Sikap pilihan itu, menurut FMS adalah sikap tidak bertanggung-jawab atau “tidak peduli politik”. Karena menurut FMS, pemilu adalah kesempatan bagi rakyat untuk mencegah yang terburuk berkuasa.

Dalam hal ini, FMS mengajak  masyarakat Indonesia untuk sadar dan “mewajibkan” dirinya untuk mau mencoblos atau menentukan pilihan politiknya pada 17 April 2019 mendatang.

Hanya saja, dalam tulisan tersebut, FMS menggunakan bahasa-bahasa yang rupanya semakin memancing kegaduhan menjelang  pemilu. Ia menggunakan kata-kata dan kalimat yang cukup keras dan cenderung seperti mengancam.  

Benarkah harus cara sedemikian keras agar rakyat sadar dan tidak ikut golput? Benarkah Indonesia di ambang ancaman orang buruk atau orang jahat berkuasa?

Ia menyebutkan, “meskipun sebenarnya dapat, tetapi Anda memilih untuk tak memilih atau golput, maaf, hanya ada tiga kemungkinan: Anda bodoh, just stupid; atau Anda berwatak benalu, kurang sedap; atau Anda secara mental tidak stabil, Anda seorang psycho-freak.”

Dan banjirlah tanggapan dalam dunia medsos. Para pendukung golput bersuara, ditimpali oleh pendukung FMS, dan disoraki pula oleh para pendukung capres-cawapres lainnya. Jagad medsos kembali banjir cacian.

Secara subtantif, FMS seperti kampanye kepada salah satu capres. Namun caranya dianggap menebar ketakutan, memakai kata-kata yang tak patut (stupid, bodoh), bahkan menjurus sikap merendahkan atau menghina orang yang memilih golput dengan cara yang kurang etis.

Bagi warga masyarakat pendukung golput, sikap tidak memilih adalah bagian dari sikap politik yang jelas, sambil tetap memperjuangkan demokrasi yang substansial.

Menurut pendukung golput, demokrasi yang sehat harus menyuguhkan pilihan yang baik dan bukan memberikan celah bagi orang buruk tampil menjadi pilihan.

Mengapa bisa terjadi ada pilihan atau capres dari orang jahat atau buruk? Bukankah sistem demokrasi yang sehat harus mampu menyaring dan mencegah yang jahat itu agar tidak menjadi pilihan? Bukankah ini bukti kegagalan sistem demokrasi kita?

Pernyataan FMS yang cukup keras dipandang justru merendahkan orang-orang yang berbeda pendapat. Dan itu justru menimbulkan kemerosotan intelektual.

Sementara di antara pendukung pemikiran FMS, di antaranya ada yang menggunakan penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) sebagai kacamata. Menurutnya, dalam pemilu 2019, orang yang diduga sebagai pelaku pelanggar HAM jangan sampai menjadi Presiden.

Dan ada satu lagi yaitu pendapat yang membandingkan golput di Indonesia dengan yang ada di Amerika. Menurutnya, pendukung golput di Indonesia itu sangat aneh. Mengapa?

Kalau pendukung golput di Amerika, semua tidak mau tahu dengan kegaduhan pemilu. Bagi mereka, tak ada pemilu sehingga mereka tak pernah ikut menimpali dan ikut membuat gaduh suasana. Mereka benar-benar murni tak peduli.

Namun pendukung golput di Indonesia, justru aktif bersuara mengomentari semua kubu walaupun tak ada wakil rakyat atau capres yang akan mewakilinya dalam sistem politik di Indonesia.

Mereka seolah ingin berenang menuju seberang di kolam yang tak ada airnya. Bagaimana caranya ia sampai seberang dengan berenang? Sementara ia ribut dan mengomentari para perenang di kolam yang berair bahwa mereka yang berenang itu dianggap bukan perenang.

Terlepas dari munculnya beragam pendapat di atas, semua pihak harus mampu menahan diri. Di tengah hingar bingar pemilu beserta kegaduhan yang mengikutinya, semua pihak harus tetap menjaga sikap dan hendaknya berpendapat dengan mengindahkan etika dan tata krama.

Semua juga harus sadar, dalam waktu satu bulan, di hati sebagian masyarakat Indonesia (diperkirakan sekitar 60 persen) sebenarnya sudah menentukan pilihan politiknya baik  sebagai pendukung nomor 01, 02, ataupun golput. Mereka tidak bisa diubah pilihannya hanya dengan dua halaman tulisan.

Sementara bila pendukung salah satu kubu ingin merebut hati kelompok swing voters yang jumlahnya diperkirakan sekitar 30-40 persen, perlu diperhatikan caranya.

Swing voter lebih dikenal sebagai perilaku pemilih yang berubah atau berpindah pilihan partai atau calon dari satu Pemilu ke Pemilu berikutnya, karena program para caleg atau capres dipandang tidak masuk akal.

Bila mereka juga merasakan kegaduhan tak ada juntrungnya dari antar kubu pendukung, bisa saja para pendukung kelompok swing voters justru semakin muak dan enggan menentukan pilihan alias golput.

Bila hal itu terjadi, apa yang dilakukan oleh FMS dan dampak ikutannya, justru akan  membuat swing voters  ikut menambah jumlah golput

Pada Pileg 2009 terdapat 29,3 persen golput, sebanyak 28,3 persen pada Pilpres 2009, 24,8 persen pada Pileg 2014, dan 29,1 persen pada Pilpres 2014. Akankah golput tahun 2019 semakin tinggi?

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?