• News

  • Opini

Ibu Pertiwi Berprestasi vs Ibu Pertiwi Diperkosa, Anda Pilih Mana?

Capres nomor urut 01 Joko Widodo dan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto
antara-foto
Capres nomor urut 01 Joko Widodo dan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Begitulah politik. Berebut pengaruh dan harus mampu meyakinkan rakyat agar memilihnya. Perdebatan antara kubu capres 01 (Jokowi) vs capres 02 (Prabowo) semakin seru.

Capres 01 adalah capres petahana, maka wajar bila ia menonjolkan keberhasilannya selama empat tahun terakhir memimpin. Ia meneriakan bahwa Ibu Pertiwi, yang tak lain adalah personifikasi bangsa Indonesia, saat ini meraih banyak prestasi.

Namun bagi kubu lawan, sebagai kubu penyerang, maka menurutnya saat ini bangsa Indonesia sedang menderita. Bangsa Indonesia sedang diperkosa oleh sistem pengelolaan negara yang tidak baik.

Sebagai penantang dimana tampuk kekuasaan masih dikuasai lawan, maka capres 02 memang harus benar-benar tampil agresif. Hal ini bisa kita lihat saat capres 02 berpidato di tengah jutaan pendukung yang mengelu-elukannya di Gelora Bung Karno pada Minggu (7/4/2019).

Prabowo bersyukur kepada Tuhan, katanya, “Kau (Tuhan red) beri kesempatan untuk melawan angkara murka, untuk melawan ketidakadilan, untuk melawan pemimpin-pemimpin yang menipu rakyatnya sendiri."

Menurutnya, saat ini bangsa Indonesia sedang sakit. Serunya, “Negara kita sedang sakit, saudara-saudara sekalian. Ibu pertiwi sedang diperkosa, saudara-saudara sekalian!"

Dan Indonesia, masih menurutnya, semakin digerogoti kekayaannya oleh segelintir orang. "Kekayaan kita diambil terus, hak-hak rakyat diinjek-injek, kepala desa dipanggil, diancam-ancam. Kiai-kiai, ulama, dikejar-kejar. Emak-emak ditangkap," kata Prabowo.

Demikain kampanye capres 02 yang mencoba meyakinkan dan mengajak rakyat membuka mata atas kondisi perekonomian yang sulit dan dirasakan oleh rakyat kecil. Lapangan kerja terbatas. Harga bahan pokok sangat tinggi, dan sebagainya.

Menanggapi kampanye capres 02, memang wajar dan sudah semestinya bila capres petahana membantahnya. Menurut capres 01, Ibu Pertiwi saat ini bukan sedang diperkosa, tetapi sedang berprestasi.

Pernyataan itu disampaikan Jokowi di tengah acara deklarasi komunitas olahraga, pemuda, influencer, dan disabilitas di ICE BSD, Tangerang, Minggu (7/4/2019).

"Dalam beberapa tahun ini kita melihat bahwa negara kita terus mendulang prestasi-prestasi. Jangan sampai ada yang ngomong ibu Pertiwi sedang diperkosa, yang benar Ibu Pertiwi sedang berprestasi," terang Jokowi.

Selanjutnya, ia menjabarkan beragam prestasi yang dimaksud antara lain di bidang olearaga hingga keamanan.

"Coba kita lihat Asian Games peringkat 4, sebelumnya peringkat 16-17. Di Asian Para Games kita masuk ke peringkat 5. Kemudian juga kita baru saja sepakbola kita menjuarai AFF di U-22 juara, terakhir prajurit terbaik TNI kita jadi juara 1, ini prestasi," ungkap Jokowi.

Jadi, rakyat bisa melihat bagaimana situasi H-9. Hari pencoblosan semakin mendekat dan perang argumen serta perang program yang disampaikan di berbagai medan kampanye terbuka, saling bersahutan laksana permainan voli.

Keduanya saling mengirimkan smash untuk menusuk pertahanan lawan. Dan bagaimana kerasnya perdebatan tercermin melalui dua kata ini: "berprestasi" vs "diperkosa".

Kubu 01 berusaha selalu tampil bahwa apa yang sudah berjalan selama empat tahun ini sudah baik (berprestasi) dan tinggal dilanjutkan. Oleh sebab itu, diperlukan sekali periode lagi untuk memastikan agar kesejahteraan bangsa bisa tercapai (berprestasi).

Sedangkan di kubu 02, menyatakan bahwa yang sudah berjalan adalah gagal karena membuat rakyat menderita dan hanya memperkaya segelintir orang (diperkosa). Maka hentikan apa yang sudah berlangsung selama empat tahun terakhir.

Kemudi harus dipindahkan-haluan sehingga tidak perlu melanjutkan apa yang sudah ada, tetapi memulai lagi dengan cara dan arah berbeda. Karena cara yang dibangun oleh capres 01 sebagai petahana, tidak baik. Apabila mulai dari titik nol, tidak perlu ditakuti.

Bila logika ini benar, maka pihak capres 02 wajib menjelaskan secara gamblang bagaimana teknis tahap demi tahap, ketika haluan itu dimulai dari titik nol.

Sebagai contohnya adalah mengenai pembangunan infrastruktur. Jika titik nol itu diartikan sebagai tindakan menghentikan proyek pembangunan infrastruktur yang sudah berjalan dan dana dialihkan ke pembangunan lainnya (mulai dari awal dengan cara baru), berapa banyak proyek akan mangkrak?

Dengan logika yang sama, bisa juga diterapkan untuk pembangunan sektor lain. Maka sebagai penantang pemilu 2019,  kubu 02 harus mampu lebih agresif dan cerdas bila ingin membuat rakyat Indonesia menjadi pemilih yang cerdas. Sehingga ketika memilih capres 02 didasari pemahaman akan program yang memang tepat sasaran.

Masih ada waktu tersisa. Masih ada sekali lagi acara debat capres-cawapres yang diselenggarakan KPU. Kedua kubu bisa manfaatkan kesempatan yang tersisa dengan sebaik-baiknya.

Tugas rakyat harus mencermati dan mengkritisinya secara bersama-sama. Tentu tidak boleh melupakan prinsip-prinsip politik yang beretika.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?