• News

  • Opini

Agama Politik

Direktur Eksekutif Jenggala Center Syamsuddin Radjab
Istimewa
Direktur Eksekutif Jenggala Center Syamsuddin Radjab

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kampanye akbar pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden Prabowo-Sandi pada Minggu (7/4/2019) di stadion utama GBK dipenuhi sesak peserta bak lautan manusia, meluber diluar stadion hingga ke jalan-jalan utama seputar Senayan. Mereka berdatangan dari pelbagai daerah sejak malam hari lalu shalat malam dan shalat subuh berjamaah.

Saya memantau kegiatan kampanye politik tersebut melalui media online dan siaran langsung salah satu media tv nasional ditengah jelajah perjalananku di utara Kalimantan. Di salah satu warung kopi bersama masyarakat menyaksikan perhelatan akbar capres 02 itu menyampaikan orasi politiknya dengan gaya bahasa khasnya; agitatif, propagandis dan menggugah massa.

Pernyataan retoriknya berupaya memancing emosi massa didepannya menyentil lautan manusia akan hidup semakin susah, korupsi pejabat, ketiadaan lapangan pekerjaan dan kemiskinan yang menurun. Menurun ke anak cucu dan cicit katanya. Sungguh dan benar-benar upaya membangkitkan emosi jiwa raga, menyudutkan kebijakan yang tak berpihak kepada rakyat kebanyakan. 

Saya bahkan berupaya merekam pidato sang capres melalui tape recorder yang selalu ditangan saat bepergian kemana saja supaya bisa diputar ulang dan menyimaknya secara seksama pesan-pesan politik bersejarah itu. Saya kira sang capres juga kali pertama berpidato politik didepan luberan manusia yang memenuhi stadion GBK.

Bayangan saya, seperti pidato-pidato para pesohor masyhur dunia lainnya menyampaikan orasi dengan suara lantang, memesona, dengan retorika tingkat tinggi yang mampu menggerakkan massa dan menggugah batiniah pendukungnya. 

Seperti Bung Karno berpidato pada rapat raksasa dilapangan Ikada 19 September 1945 ditengah tekanan penjajah Jepang. 

Suaranya menggelegar bak halilintar menyambar sukma rakyat berlawan koloni bercap sahabat, orasinya menyihir lautan manusia melalui kata-kata dan diksi yang menggerakkan. Ungkapannya apik tertata dengan kalimat padat penuh makna, narasi tersampaikan sistematis dan sesekali canda menghibur mengusir rasa jenuh.

Sayangnya, pidato Prabowo di kampanye akbar itu saya tidak menemukan pesan kuat kepada rakyat ke arah mana negara ini akan dibawa jika terpilih nantinya sebagai Presiden. Di atas panggung justeru terlihat sang Jenderal memarahi seorang peserta kampanye yang memintanya diam dengan nada suara agak keras. 

Struktur materi pidatonya kurang terarah, mengambang dan kehilangan pesan substantif.

Klaim peserta kampanye akbar dihadiri sekitar satu juta buat saya bukan masalah dan tak perlu diperdebatkan. Yang pasti dipenuhi lautan manusia dan meluber keluar stadion dan jalan-jalan utama. 

Sepanjang pengetahuan saya, hanya PKS, partai politik berbasis dakwah itu yang mampu memenuhi isi stadion GBK selama ini. Parpol lainnya belum mampu kecuali menggelontorkan duit milyaran membayar massa untuk hadir.

Motivasi Agama

Melihat lautan manusia yang hadir, terbesit dibenak saya pertanyaan hipotetik apakah mereka hadir karena ingin mengikuti kampanye dan mendengarkan pidato capres 02 atau karena motivasi ghirah perlawanan berdasarkan stigmatisasi ketertindasan umat Islam ?. 

Menjawab pertanyaan itu, dalam catatan yang ada setidaknya dalam kegiatan kampanye politik Prabowo pernah memakai stadion GBK pada Pilpres 2014 lalu, bedanya, dulu datang dengan menunggangi kuda kesayangannya sekarang memakai Jeep Rubicon dengan perbandingan massa sangat jauh.

Maka menjawab pertanyaan hipotetis diatas, jawabannya bukan karena ingin mendengarkan pidato sang capres melainkan stigmatisasi ketertindasan umat Islam selam rezim Jokowi yang terus digoreng oleh pendukung capres 02. Tesis itu semakin mendekati kebenarannya ketika secara khusus Prabowo menyilakan Habib Rizieq Shihab (HRS) diberikan kesempatan menyampaikan pidato melalui video live steaming dari Saudi Arabia.

Tidak sampai disitu, Prabowo pun menegaskan bahwa jika terpilih sebagai Presiden akan menjemput langsung HRS di Saudi, dengan pernyataan itu massa yang mendengarnya menyambut dengan tepuk tangan diiringi pekikan kalimat tauhid. Saya membayangkan, HRS seolah ingin memosisikan dirinya seperti Ayatullah Khomeini, pencetus revolusi Islam 1979 dan penggagas lahirnya negara Republik Islam Iran yang beraliran syiah. 

Munculnya gerakan Islam komunal-jalanan dengan dalih memberantas maksiat kian marak ketika Ahok menjabat Gubernur Jakarta dengan beberapa kebijakannya dinilai bertentangan dengan kepentingan umat Islam. Pelarangan pemakaian Monas terhadap kegiatan keagamaan dan larangan memotong hewan kurban dalam kota memantik antipati kepemimpinanya hingga jatuh dan dipenjarakan karena kekalahan pada pilgub 2017 dan penghinaan terhadap umat Islam.

HRS tampil sebagai pelawan utama gerakan itu, namun lalai menilai bahwa pengusung Ahok yang saat itu dipasangkan dengan Jokowi adalah partai Gerindra pimpinan Prabowo. Jika saat ini HRS bersekutu dengan Prabowo dalam pilpres 2019 tidak dapat dikatakan sebagai kepentingan politik agama tertentu melainkan kepentingan taktis demi kekuasaan politik.

Prabowo berkepentingan menarik suara massa ormas HRS meraih tahta kursi Presiden, sementara HRS ingin menjaga ketokohan Islam komunal-jalanan dengan gelar imam besar lebih eksesif di mata umat Islam Indonesia. Selain kelompok HRS, secara timing, bertepatan dengan pembubaran ormas HTI yang juga memiliki massa jutaan berkongsi dengan capres 02. Jadilah persekutuan politik berbalut motivasi agama.

Penulis : Syamsuddin Radjab
Editor : Firman Qusnulyakin

Apa Reaksi Anda?