Syamsuddin Radjab. (istimewa)

Syamsuddin Radjab. (istimewa)

Ada Apa dengan ‘‘Jokowi Undercover‘‘?

Senin, 09 Jan 2017 | 14:46 WIB | Opini

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Saya sudah membaca secara cepat buku yang sedang heboh saat ini berjudul "JOKOWI UNDERCOVER" karangan Bambang Tri. Dari bacaan saya, secara metodelogi memang tidak memenuhi kelayakan syarat akademik sebagai sebagai karya ilmiah seperti instrumen data, jenis data, analisis data yang digunakan termasuk sumber datanya. 

Sebagian besar narasi deskriptifnya disampaikan penuh amarah dan tendensius terhadap sosok yang ditulisnya, yaitu Jokowi. termasuk mencoba menguraikan latar sejarah G-30S/PKI dengan data dan cerita-cerita dari sumber yang tidak jelas (tidak dapat diverifikasi), dan nampaknya dia pembela sejati Soeharto.

Padahal sejarah PKI sangat banyak sumber saat ini baik yang pro maupun kontra, penulis dalam atau luar negeri berseliweran dimana-mana yang dapat diakses secara gratis melalui website penyedia buku dan jurnal online.

Saya makin dibuat bingung dengan analisis-analisis soal jari, dagu, hidung, dahi, rahang, alis, kumis dan bibir yang dia bandingkan ayah asli atau palsu Jokowi,ibu kandung atau ibu tiri dan tak lupa menganalisis bentuk dan lekuk tubuh Jokowi sendiri.

Dalam pikiran saya, ini orang ahli juga dalam soal lekuk-lekuk tubuh orang, atau jangan-jangan dia ahli sesmiologi yang mampu menangkap fenomena getaran bumi sebelum gempa terjad, atau titisan Mbah Marijan yang melampaui geolog sekelas Surono saat gempa Yogya 2006 lalu.

Dari keseluruhan jumlah halaman buku sebanyak 658 hanya 11 halaman yang terkait pembahasan Jokowi dihubungkan dengan PKI, dari halaman 72-83. Selebihnya membahas macam-macam judul dan soal suksesi Pilpres 2014 mendapat porsi terbesar dalam buku itu mulai pencalonan, kampanye, penghitungan suara, lembaga survei sampai hakim mahkamah konstitusi di ulek-ulek kesana-kemari. 

Isi buku ini pun sangat dipenuhi gambar-gambar dari medsos yang juga kita sering lihat atau baca. Pendek kata, sebagai pelengkap rak buku Anda, bolehlah disimpan sebagai hiasan tapi kualitas isinya jangan mudah dipercaya.

Sebagai sebuah karya, saya tetap mengapresisasi dengan semangat dan kecapean pengetikannya apalagi pembiayaannya. Hingga saat ini, penulisnya sudah diamankan menurut polisi dengan tuduhan penyebaran berita bohong, pelanggaran UU ITE,UU Penghapusan diskriminasi Ras dan Etnik dan Pasal 207 KUHP. 

Tuduhan Pasal-pasal di atas menurut saya akan sangat pelik pembuktiannya di kemudian hari apalagi menggunakan Pasal 207 yang sangat elatis tafsirannya. 

Rumusan delik "Penghinaan terhadap Penguasa", Penguasa itu siapa?, apakah buku bisa dianggap penghinaan?, siapa yang memberi otoritas dan kesahihan bahwa tafsir penguasa adalah Presiden? sementara normanya "penguasa", apakah saat buku atau tulisan itu dipublis Jokowi sudah penguasa?, dan lain-lain.

Dalam kaitan itu, saya lebih setuju dengan pendapat beberapa pakar pidana lain agar menggunakan Pasal 310 KUHP yang rumusannya lebih jelas terkait dengan "menyerang kehormatan dan nama baik seseorang dengan menuduhkan sesuatu hal". Dalam hal isi buku tersebut Jokowi jelas dituduh sebagai anak PKI. 

Tapi untuk kondisi kekinian sebenarnya dari anak siapapun, apakah dia anak Masyumi, anak PKI, anak Parkindo, anak PSI dan lain-lain tidak menjadi masalah dan berhak mencalonkan diri dan menjadi pejabat apapun di negara ini sepanjang memenuhi syarat dan dipilih secara demokratis.Yang pasti, Jokowi memang beda cara menghadapi para pengkritiknya dengan SBY saat diserang dengan buku "Gurita Cikeas" karya Alm. George Aditjondro. Wallahu A'lam Bissawab

Penulis adalah Direktur Jenggala Center dan Dosen UIN Alaudin Makassar, Chairperson, Indonesian Legal Aid And Human Rights Association Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI).


Penulis : Syamsuddin Radjab
Editor : Marcel Rombe Baan