• News

  • Pendidikan

Gerakan Literasi Digital, Warga Tetap Butuh Konvensional

Gerakan digital gencar, namun tetap butuh konvensional. (Dok:Literasi)
Gerakan digital gencar, namun tetap butuh konvensional. (Dok:Literasi)

SEMARANG, NETRALNEWS.COM – Gerakan literasi digital bukan berarti meninggalkan literasi media konvensional, baik cetak, radio, maupun televisi. Koordinator Penelitian Jaringan Penggiat Literasi Digital (Japelidi) Semarang Doktor Liliek Budiastuti Wiratmo,  mengatakan warga tetap perlu melek media konvensional.

Terkait dengan literasi digital, Tim Peneliti Japelidi yang berasal dari Yogyakarta, Salatiga, Semarang, Surakarta, Malang Raya, Bandung, Banjarmasin, Bali, dan Jakarta, telah menyusun rekomendasi, menurut Liliek.

Dalam rekomendasi Japelidi yang disusun oleh 56 peneliti, tiga orang di antaranya berasal dari Semarang (STIKOM, Universitas Dian Nuswantoro, dan Universitas Islam Sultan Agung), disebutkan bahwa literasi digital harus diberikan dalam level keluarga, sekolah, dan negara.

Pada level keluarga, kata Liliek, orang tua harus menjadi contoh serta melibatkan anak sebagai partner dalam membuat kesepakatan-kesepakatan atas akses media digital.

Selanjutnya, pada level sekolah harus ada perubahan ke arah pendidikan berbasis digital, yaitu murid dan guru adalah setara dan harus menguasai konten pembelajaran bersama.

"Selain itu, orang tua juga harus berkolaborasi dengan guru dalam pendidikan anak, serta penyediaan laboratorium media digital,” ujar Liliek, yang juga dosen Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang, seperti dilansir Antara, Senin (25/09/2017).

Pada level negara, kata Liliek yang sejak lama melakukan literasi media, harus didorong transformasi digital dengan membangun infrastruktur digital yang demokratis, memperkuat e-governance, serta memberdayakan warga negara sebagai bagian dari kewarganegaraan digital.

Rekomendasi lain, pegiat literasi digital perlu bersinergi agar dapat meluaskan gerakan sehingga masyarakat lebih melek media digital. "Hal ini karena gerakan literasi digital di Indonesia cenderung bersifat sukarela, insidental, sporadis, dan belum ada sinergi antarpelaku gerakan," tutur Liliek.

Oleh karena itu, Japelidi memandang perlu lebih banyak pelaku kegiatan yang bukan berasal dari perguruan tinggi. Di samping itu, perlu lebih banyak eksplorasi ragam literasi digital yang bersifat kreatif dan "empowerment" (pemberdayaan).

Organisasi yang anggotanya sebagian besar adalah dosen Ilmu Komunikasi itu juga memandang perlu memperluas target sasaran literasi digital supaya tidak hanya tertuju pada kaum muda.

"Kami juga perlu kemitraan yang lebih banyak lagi, terutama dengan pemerintah, media, dan korporasi, mengingat kemungkinan besar masih banyak data dan informasi gerakan literasi digital yang belum terungkap.”

Liliek lantas berharap makin banyak pegiat yang bergabung, makin dapat bersinergi dan bersama-sama meluaskan gerakan literasi digital.

Editor : Sulha Handayani

Apa Reaksi Anda?