• News

  • Pendidikan

Dies Natalis ke-65, Rektor: UKI Turut Cerdaskan Kehidupan Bangsa Indonesia

Sidang Senat Terbuka di Perayaan HUT Universitas Kristen Indonesia ke-65
NNC/Martina Rosa
Sidang Senat Terbuka di Perayaan HUT Universitas Kristen Indonesia ke-65

JAKARTA, NNC - Universitas Kristen Indonesia (UKI), pada 15 Oktober 2018, merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) yang ke 65. Menurut Rektor UKI Dhaniswara K Harjono, pihaknya telah turut cerdaskan kehidupan Bangsa Indonesia.

Sekarang ini UKI telah memiliki Program Pascasarjana dan delapan fakultas. Fakultas yang baru ini diklaim menjawab kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) dan terampil serta profesional sesuai dengan kebutuhan pasar kerja, yaitu Fakultas Vokasi. Fakultas Vokasi ini menghimpun semua program Diploma 3 yang ada untuk mengantisipasi kebutuhan SDM Indonesia.

"Dalam kiprahnya selama 65 tahun, UKI juga telah menghasilkan alumni yang telah berkontribusi kepada negara melalui perannya di DPR, MPR, kabinet Presiden dan di berbagai instansi baik negeri maupun swasta di Republik ini. Selain itu, tidak sedikit alumni UKI juga yang sukses sebagai wirausahawan," kata Rektor UKI saat memberi kata sambutan.

Pernyataan ini disampaikan Rektor UKI saat Dies Natalis ke-65 UKI yang mengangkat tema: "Dengan Semangat Kebersamaan, Komitmen, dan Koordinasi, Kita Membangun UKI Sebagai Universitas Unggulan", Senin (15/10/2018).

Turut hadir dalam acara tersebut, Presiden Joko Widodo (Jokowi), Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir, Ketua Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Illah Sailah, Ketua Yayasan UKI Salomo Panjaitan dan Civitas Akademika UKI.

UKI miliki visi, “Menjadi universitas unggul dalam bidang pendidikan; penelitian, pengabdian dan pelayanan kepada masyarakat di Indonesia dan Asia sesuai dengan nilai-nilai kristiani dan Pancasila pada tahun 2034". UKI bertekad untuk menghasilkan lulusan yang tidak saja kompeten di bidangnya, namun juga mampu menjawab tantangan dunia kerja yang amat dinamis.

"Soft skills yang amat diperlukan sewaktu masuk ke dunia kerja, seperti communication skills, leadership, teamwork, diperkenalkan kepada mahasiswa di dalam maupun di luar kelas. Kami juga memberikan perhatian pada pembangunan SDM di daerah-daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) dengan memberikan kesempatan untuk kuliah di UKI dengan beasiswa yang diupayakan oleh universitas maupun para alumninya," jelas Rektor UKI.

Mahasiswa 3T ini berasal dari kabupaten-kabupaten yang berada di Nias, Mentawai, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, NTT, dan Papua. Kata Rektor, UKI terus berupaya untuk meningkatkan fasilitas agar dapat meningkatkan pelayanan kami kepada mahasiswa di kampus kasih “Bhinneka Tunggal Ika".

Lebih lanjut Rektor sampaikan, UKI juga memberikan perhatian khusus pada kegiatan kewirausahaan, khususnya business start up. UKI menjalin kerja sama dengan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) dan Himpunan Pengusaha Putera Indonesia (HIPPI) untuk mendorong semangat kewirusahaan dan membangun tumbuhnya business start up di kalangan mahasiswa.

Untuk diketahui, UKI dengan mottonya, “Melayani Bukan Dilayani” didirikan oleh Prof. Dr. Sutan Gunung Mulia, Meester in de Rechten Yap Thiam Hien, dan Benyamin Philips Sigar, dan dicatatkan dihadapan Notaris Kadiman di Jakarta. Tanggal 15 Oktober 1953 juga menjadi hari pertama dilaksanakannya perkuliahan di UKI.

Sejarah kelahiran UKI, yang berangkat dari Maklumat Sidang Raya Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI) Ke-2 di Ambon, Juli 1953, tentang perlunya didirikan sebuah universiteit kristen di Indonesia, sebagai wujud partisipasi masyarakat Kristen Indonesia untuk turut mencerdaskan kehidupan bangsa lndonesia, negara yang baru saja merdeka ketika itu.

"Kiranya Tuhan Yang Maha Kuasa memberkati semua upaya dan kerja keras kita untuk memajukan pendidikan tinggi dan mendidik calon-calon pemimpin di negeri ini. Selamat merayakan Lustrum ke-13 Universitas Kristen Indonesia. Tuhan memberkati kita semua," kata Rektor menutup kata sambutannya.

Pada kesempatan yang sama, Salomo mengajak para sivitas akademika UKI untuk lebih meningkatkan perhatian pada institusi pendidikan yang lebih berkualitas, semua dosen melakukan tridarma sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing untuk meningkatkan profesionalisme. Upaya ini perlu dilakukan sehingga dapat mengemban amanah yang sangat mulia sebagai tenaga pendidik.

"Mari kita jadikan kegiatan ini, sebagai bagian dari proses evaluasi untuk membangun kebersamaan, komitmen dan koordinasi kita untuk meningkatkan kualitas akademik dan non akademik di lingkungan UKI yang kita cintai," ajak Salomo.

Untuk menjadikan UKI menjadi salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) unggul memang bukanlah pekerjaan yang mudah, sehingga harus memiliki semangat kebersamaan, komitmen tinggi dan koordinasi serta menuntut konsistensi.

Berkaitan dengan itu masih banyak hal-hal yang harus kita perbaiki dan tingkatkan secara terus menerus. Antara lain proses belajar mengajar, penelitian, pengabdian kepada masyarakat.

Selain itu perlu diperhatikan rasio kecukupan dosen yang memiliki jenjang jabatan akademik, sarana, perkuliahan yang lebih baik untuk pendukung proses belajar mengajar, kualitas SDM untuk menghasilkan pelayanan terbaik, akreditasi terbain dari masing-masing program studi yang merupakan tolok ukur kualitas pengelolaan kegiatan institusi dan program studi dan menjadi daya tarik untuk mahasiswa baru bergabung ke UKI, serta menjadikan lulusan program studi mampu bersaing dengan lulusan PTS lain.

"Untuk itu kami dari Pengurus Yayasan UKI akan selalu berupaya untuk mendukung baik secara moril maupun materil," tukas Salomo.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Irawan.H.P

Apa Reaksi Anda?