• News

  • Pendidikan

Teknisi Pesawat Semakin Langka, Lulusan MTC Semakin Diminati

Siswa BAMC MTC mengikuti praktik menggunakan mesin turboprop.
NNC/YC Kurniantoro
Siswa BAMC MTC mengikuti praktik menggunakan mesin turboprop.

SURABAYA, NNC - Tidak hanya pilot yang berperan penting dalam suatu penerbangan. Namun, ada profesi lain yang juga tak kalah pentingnya, yakni teknisi pesawat terbang.

Sebuah pesawat terbang harus diperiksa terlebih dahulu oleh teknisi sebelum pesawat tersebut dinyatakan layak untuk dioperasikan oleh pilot. Bahkan seorang pilot pun harus “tunduk” pada rekomendasi dari seorang teknisi jika ada persoalan teknis yang menyangkut keselamatan penerbangan.

Profesi teknisi pesawat di Indonesia bisa dikatakan masih langka. Dinilai langka karena teknisi dan tenaga ahli perawatan pesawat sangat dibutuhkan, sementara ketersediaannya terbatas.

Terbatas di sini tentu bukan berarti tidak ada. Namun, yang sangat dibutuhkan itu adalah tenaga-tenaga ahli berlisensi yang terampil dan berkualifikasi tinggi.

Bayangkan, setiap bulan di Indonesia terdapat penambahan 2-5 pesawat baru ukuran medium, seperti Boeing 737 dan Airbus A320. Maka, tak heran bila kekurangan tenaga teknisi di Indonesia mencapai ribuan.

"Teknisi di Indonesia ini kekurangannya (mencapai) ribuan, dan lulusan kita ini sangat diminati," kata General Manager Marketing and Business Development Merpati Training Center (MTC) Donny Rurut.

Untuk menjadi seorang teknisi dan tenaga perawatan pesawat berlisensi tentu ada sejumlah tahapan yang harus dilalui. Sebagai langkah awal adalah mengikuti Basic Aircraft Maintenance Course (BAMC) dengan persyaratan dasar telah lulus sekolah menengah umum atau sederajat, tidak buta warna, dan lulus sejumlah tes.

Di Indonesia, memang tidak banyak tempat yang menyelenggarakan pendidikan teknisi pesawat. Salah satu lembaga yang menyelenggarakan pendidikan BAMC adalah Merpati Training Center (MTC).

Pendidikan teknisi pesawat MTC yang berpusat di Jalan Juanda International Airport, Surabaya, Jawa Timur itu, mempunyai sejumlah fasilitas yang lengkap, bahkan tidak dimiliki oleh tempat pendidikan teknisi pesawat lainnya.

Selain memiliki fasilitas workshop yang lengkap, di MTC juga terdapat pesawat bermesin turboprop dan turbojet yang dapat digunakan sebagai fasilitas praktik para siswa.

Bahkan, sejumlah fasilitas di tempat workshop tersebut merupakan hasil karya para siswa bersama instruktur mereka, antara lain hydraulic test band, pneumatic test band, ground power unit, dan peralatan lainnya.

Tak hanya itu, MTC memiliki dua radome (bagian hidung pesawat yang berisi radar) milik pesawat Boeing 737-300 dan Fokker F28 untuk praktik siswa. Ini merupakan salah satu kelebihan MTC, karena tidak semua pusat pelatihan dasar teknisi pesawat memiliki peralatan radome yang dapat digunakan untuk praktik.

Siswa BAMC wajib mengikuti 3.000 jam pendidikan, berupa teori dan praktik, dengan kurikulum terkini yang mengacu pada aturan International Civil Aviation Organization (ICAO). Selama pendidikan, siswa akan dibimbing oleh intsruktur yang tidak hanya berpengalaman dalam mengajar, namun juga berpengalaman di industri penerbangan.

Proses pendidikan teknisi pesawat udara di MTC berlangsung selama 20 bulan. Mengawali pelatihan, para siswa diberi bekal Aviation Therminology yang menjadi bahasa Inggris baku antara pilot dan teknisi, agar tidak terjadi miskomunikasi antara keduanya. Hal itu dibekali mengingat semua pekerjaan di dunia penerbangan harus mengutamakan keselamatan.

Para siswa juga mempelajari Human Factor yang menjadi materi standar pada pendidikan teknisi pesawat. Selain itu, siswa juga akan menerima materi Store System yang merupakan bagian dari Material Management.

Salah satu kelebihan pendidikan BAMC di MTC adalah siswa juga akan mendapatkan materi Paper Presentation yang sebenarnya merupakan materi pada Basic Intructor Course.

Materi itu diberikan agar siswa mampu untuk mempresentasikan apa yang siswa ketahui, berani bertanya, dan berbicara di depan banyak orang. Bahkan, nantinya setelah lulus siswa juga akan mendapatkan lisensi Basic Instructor Course.

Selama mengikuti pendidikan di kelas (ground training), siswa diharapkan dapat benar-benar menguasai materi yang diberikan oleh instruktur. Pendidikan yang bersifat training memang berbeda dengan sistem yang biasa diterapkan di kampus pada umumnya.

Pendidikan yang bersifat training lebih menekankan pada pemahaman dan penguasaan materi. Dengan demikian, apa yang didapat selama pendidikan, sungguh-sungguh bermanfaat ketika siswa bekerja di suatu operator penerbangan.

"Kalau di tempat kita (MTC-red), kita itu punya tanggung jawab moral, bagaimana caranya siswa itu benar-benar paham," kata Manager Technical Training and Simulator Service MTC, Tri Cahyono, di Surabaya, beberapa waktu lalu. 

Selain mendapatkan pendidikan di kelas (ground training), siswa BAMC tentu juga harus mengikuti praktik yang terdiri dari tiga bagian, yakni general, airframe, dan powerplant.

Pada materi praktik, siswa juga akan merasakan bagaimana memperbaiki bagian badan pesawat hingga sampai pada teknik pengecatan pada badan pesawat. 

Setelah itu, para siswa berkesempatan mengikuti On the Job Training (OJT) di bidang heavy maintenance sebanyak 240 jam dan bidang line maintenance 60 jam. OJT tersebut dilakukan di Merpati Maintenance Facility (MMF), yang juga berada di Kompleks Bandara Juanda, Surabaya, Jawa Timur.

Setelah menjalani ujian atau check dari Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) para siswa BAMC MTC akan mendapatkan basic license untuk A1.4 airframe dan powerplant.

Tak hanya itu, siswa BAMC MTC masih mendapatkan pendidikan tambahan seperti dangerous good and ramp safety awarreness, swing compass, weight and balance, serta service exelence. Dengan demikian, lulusan MTC lebih advance atau memiliki nilai lebih dan siap bekerja di industri penerbangan.

"Jadi kesempatan (bekerja) setelah lulus dari sini itu banyak, karena siswa sudah mampu dan sudah dapat ilmunya," ujar Tri Cahyono.

Editor : Y.C Kurniantoro

Apa Reaksi Anda?