• News

  • Pendidikan

Adakan Konvensi Nasional IV, Ini yang Dibahas 200 SPK di BPK Penabur

Konvensi Nasional IV Sekolah SPK Indonesia, di BPK Penabur Kelapa Gading, Jakarta, Jumat (1/3/2019)
Istimewa
Konvensi Nasional IV Sekolah SPK Indonesia, di BPK Penabur Kelapa Gading, Jakarta, Jumat (1/3/2019)

JAKARTA, NNC -- Ketua Panitia Konvensi Nasional IV Sekolah SPK Indonesia, Shirley Puspitawati mengatakan bahwa sebanyak 200-an Satuan Pendidikan Kerjasama (SPK) atau sebelumnya disebut sekolah internasional, mengikuti Konvensi Nasional IV Sekolah SPK Indonesia, di Sekolah BPK Penabur, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (1/3/2019). 

"Kegiatan ini untuk menjembatani komunikasi antara SPK dengan pembuat kebijakan mulai tingkat kementerian hingga dinas pendidikan di daerah," ungkap Shirley Puspitawati, saat ditemui Netralnews.com, Jumat (1/3/2019)

Shirley Puspitawati menambahkan, dalam sesi hari ini setidaknya hadir 200-an peserta dan 120 yayasan pendidikan dari berbagai daerah yang memiliki SPK di Indonesia. 

Selain itu, para anggota SPK yang tergabung dalam Perkumpulan Sekolah SPK Indonesia bisa berkolanorasi dengan sekolah-sekolah di lingkungan mereka. 

Shirley menambahkan, bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berharap adanya pengembangan guru."Dengan kualitas yang lebih tinggi di sekolah-sekolah SPK diharapkan memberikan dampak baik untuk diimbaskan ke sekolah-sekolah negeri, seperti bahasa Inggris atau teknologinya," ujarnya. 

Terakhir, Shirley Puspitawati mengatakan bahwa kegiatan yang diadakan di BPK Penabur dan sebagai salah satu penyelenggara tahun ini adalah merupakan contoh kecil dari kontribusi untuk berkolaborasi dengan Perkumpulan Sekolah SPK Indonesia.

Sementara itu, Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) , Supriano mengatakan, kegiatan konvensi SPK dilakukan untuk mencari pemecahan masalah selain karena mendorong kesetaraan sekolah lainnya yang ingin meningkatkan prestasi.

"Kreativitas dan inovasi bisa disalurkan kepada sekolah non-SPK, baik sekolah yang dikelola pemerintah maupun swasta. Kolaborasi itu misalkan dengan mencontoh program sekolah yang inovatif, materi yang mudah dibaca, menghubungkan ekosistem, dan peningkatan kompetensi," kata Supriano.

Editor : Tommy Satria Ismaya Cahya

Apa Reaksi Anda?