• News

  • Persona

Angkie Yudistia: Tunarungu, yang Mampu Menembus Batas

Angkie Judistia, tunarungu CEO Thisable Enterprise. (Dok:Pribadi)
Angkie Judistia, tunarungu CEO Thisable Enterprise. (Dok:Pribadi)

Berita Terkait

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Hari Tunarungu Internasional (International Deaf Day), baru akan diperingati pada 28 September. Jika mengingat peringatan tersebut, maka akan terbayang wajah perempuan tunarungu cantik benama Angkie Yudistia.

Tak ada manusia yang sempurna, namun tak ada satu makhluk Tuhanpun yang tak berguna. Sepertinya ini terjadi pada Angkie Yudistia, Founder dan CEO Thisable Enterprise.

Kecantikannya tengah mengubah dunia disabilitas untuk tetap bisa berkarya. Menjalani kehidupan sebagai perempuan peneliti memiliki tantangannya tersendiri, dan jawaban atas tantangan tersebut pun beragam. Sederhananya, formulasi antara hasrat dan pengorbanan kerap menjadi bagian dalam proses kehidupan perempuan seperti Angkie.

Angkie tak pernah berputus asa, sekalipun mengidap penyakit tak bisa mendengar atau tuna rungu sejak kecil, justru membangkitkan dirinya untuk berkarya dan membangun negeri. Namun pencapaian sukses perempuan kelahiran Medan, 5 juni 1987 itu tak dengan mudah dilaluinya. Melainkan penuh caci dan diskriminasi hingga pernah membuatnya depresi

Dikisahkan, angkie mengalami tunarungu sejak berusia 10 tahun. Meski hal itu membuatnya terguncang, namun ia dan keluarga tetap memutuskan agar dirinya menempuh pendidikan di sekolah umum

Praktis, keterbatasan angkie itu menimbulkan banyak masalah selama belajar di sekolah dasar hingga SMA. Tak jarang ia mengaku sering kali menerima cacian dan hinaan. “Dulu aku diledekin, dikatain budek, tuli itu sering banget di lingkungan. Ketika itu, rasa malu memang membuat Angkie menutupi jati dirinya sebagai penyandang tunarungu

“Kalau ditanya, aku bilang, nggak apa-apa kok. Alat bantu dengar aku tutupi terus pakai rambut. Tapi nggak bisa dibohongi ya, dan bikin orang curiga kau kenapa. Aku sering dipanggil nggak denger, guru ngomong, nggak dengar,” sambungnya lagi.

Pernah menyalahkan kondisi? “Itu sering banget. Kenapa sih Tuhan aku harus begini? Itu pertanyan yang sering aku ucapkan. Tapi aku mau menyalahkan siapa? Orangtuaku pun nggak pernah memperlakukan Aku berbeda dengan anaknya yang lain,” ujar Angkie seperti diceritakan ke Dian Larasati dalam blognya, beberapa waktu lalu.

Hingga suatu ketika, seorang Bapak di kereta api menyadarkannya untuk bangkit. Singkat cerita, sejak saat itu angkie pun mulai bisa menerima keadaan dan berusaha menemukan jati dirinya yang sesungguhnya. Bungsu dari dua bersaudara itu pun berusaha bangkit dan mengejar ketertinggalan. Agar tak tertinggal pelajaran di sekolah, ia belajar dua kali lebih keras dari teman-temannya yang lain hingga lulus

“Aku sadar Aku sulit mengikuti pelajaran di sekolah umum. Makanya setiap pulang sekolah aku pasti les. Banyak baca buku juga. Jadi dua kali belajar dari yang lainnya dan itu aku benar-benar jalani sampai lulus,” terangnya.

Dilema dihadapi Angkie saat lulus SMA. Dokter yang merawatnya menyarankan agar ia tidak melanjutkan kuliah karena stress bisa memperparah kondisi pendengarannya

Saat itu, telinga kanan Angkie hanya mampu mendengar suara 70 desibel sedangkan yang kiri 98 desibel. Sementara, rata-rata percakapan pada manusia normal berada di 40 desibel. “Itulah yang membuat aku divonis dokter sebagai tunarungu pas usia 10 tahun. Makanya aku bisa dengar hanya kalau pakai hearing aid (alat bantu dengar) saja,” ungkapnya

Namun Angkie ngotot untuk tetap meneruskan pendidikannya. Ia kemudian kuliah dan menyelesaikan studinya di jurusan periklanan di London School of Public Relations (LSPR), Jakarta, dan lulus dengan indeks prestasi 3.5
Tekad Angkie yang kuat dan kemauan untuk terus menggali potensi diri, membuatnya tumbuh menjadi anak yang penuh percaya diri.

Angkie tercatat sebagai finalis Abang None mewakili wilayah jakarta barat tahun 2008. Selain itu ia juga berhasil terpilih The Most Fearless Female Cosmopolitan 2008, serta Miss Congenially Dari Natur-E, serta berbagai prestasi lainnya

Kecintaan Angkie di dunia pendidikan pun mengantarkannya meraih gelas master setelah lulus dari bidang komunikasi pemasaran lewat program akselerasi di LSPR. “Dunia komunikasi dan public speaking memang sudah menjadi passion aku,” katanya seraya tersenyum.

Pemilik tinggi 170 cm dan berat 53 kg itu pernah pula bekerja sebagai humas di beberapa perusahaan. “Tapi bukan berarti aku nggak pernah ditolak kerja ya, sudah sering banget. Alasannya karena waktu mereka tahu aku tunarungu dan nggak bisa pakai telepon,” kisahnya.

Pengalaman Angkie didiskriminasi itu kemudian memotivasinya untuk membuat thisable enterprise bersama rekannya. Perusahaan ini fokus pada misi sosial, khususnya membantu orang yang memiliki keterbatasan fisik alias difable (different ability people) seperti dirinya

“Ketika aku sekarang sudah nyaman dengan diri aku sendiri, sekarang giliran aku untuk membantu orang yang sama seperti aku dulu. Membantu menyadarkan orang juga agar jangan mendiskriminasi kami,” tukasnya

Kepeduliaannya tak berhenti sampai di situ. Berbagai pengalaman hidupnya mencari jati diri kemudian dituangkannya lewat buku berjudul “invaluable experience to pursue dream”(perempuan tuna rungu menembus batas) akhir 2011.

Sosok Angkie dan segudang prestasinya itu menunjukkan bahwa setiap orang, bahkan yang punya cacat fisik sekalipun bisa jadi luar biasa. “keterbatasan bisa jadi kelebihan. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya asal ada kemauan,” ucapnya

Lantas, masih adakah penyesalan sebagai penyandang Tunarungu? “nggak. Sekarang nggak ada yang Aku tutup-tutupin lagi. Aku cukup bangga dilahirkan seperti ini. Aku memang beda tapi Aku yakin ada maksud dan Tujuan Tuhan kenapa Aku seperi ini,” tandasnya.

Editor : Sulha Handayani

Apa Reaksi Anda?