• News

  • Persona

‘Kiai Katolik‘ Franz Magnis Suseno di Usia 81 Tahun

Ilustrasi Franz Magnis Suseno.(dok.Ist,)
Ilustrasi Franz Magnis Suseno.(dok.Ist,)

Berita Terkait

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Siapa yang tak kenal dengan sosok ini. Dia adalah seorang imam atau pastor Katolik dengan ordo Yesuit, tetapi dia digelari kiai-sebuah sebutan ulama dalam agama Islam. Itulah yang terjadi dengan sosok pria disebut pula Jerman beretika Jawa ini, Franz Magnis Suseno.

Prof. Dr. Franz Magnis Suseno, SJ (nama asli: Franz Graf von Magnis atau nama lengkapnya Maria Franz Anton Valerian Benedictus Ferdinand von Magnis, lahir di Eckersdorf, Silesia, Polandia (kini Bożków, Nowa Ruda, Polandia), 26 Mei 1936 lalu. Jadi, hari ini, Jumat, 26 Mei 2017, Romo Franz Magnis genap 81 tahun.

Seperti dilansir tokohindonesia.com, Franz Magnis mengaku kagum dan menjadi bersemangat jika melihat betapa terbukanya lingkungan intelektual Indonesia. Dia yang "Romo" Katolik digelari oleh teman-teman Islam sebagai "Kyai berKatolik". Dia terus saja diundang oleh para cerdik pandai Islam ke ceramah-ceramah khususnya ceramah menyangkut ideologi dan filsafat modern.

Franz Magnis melihat kalangan intelektual muda Islam, khususnya dari kelompok studi filsafat dan agama, amat gandrung dan menaruh minat besar terhadap filsafat. Intelektual muda Islam itu sadar, Islam dalam 500 tahun pertama keemasannya telah menghasilkan cerdik pandai dan ahli filsafat berkelas dunia namun kemudian macet. 

Zaman Renaissance (masa kelahiran kembali) serta masa Pencerahan, telah mengorbitkan Eropa (dan kemudian Amerika) menjadi pemimpin kekuatan intelek zaman modern. Intelektual muda Islam itu berkeyakinan Islam hanya bisa tampil lagi sebagai kekuatan intelek di arena internasional jika filsafat dan pemikiran kritis dimekarkan kembali.

Franz Magnis punya pengalaman menarik tentang hal itu di tahun 1989. Dia menulis sebuah artikel tentang hal tersebut secara kritis di harian "Kompas", tak lama sebelum DPR membicarakan RUU Peradilan Agama. Artikel itu menimbulkan reaksi yang sangat tajam dari kalangan Islam. 

Berbagai artikel tanggapan ditulis oleh para tokoh Islam, sebagian di antaranya menyinggung masalah pribadi Franz Magnis. Teman-teman Islam lantas memberitahu dia, bahwa nama Franz Magnis telah disebut-sebut dalam kotbah pagi di masjid-masjid. Di kelompok berbeda lain lagi yang dialami, nama Franz Magnis menjadi tabu untuk disebutkan.

Namun dua bulan sesudah peristiwa itu Franz Magnis diundang ke seminar dua hari bertema "Filsafat Islam Persia", di universitas Islam IAIN Syarif Hidayatullah, Ciputat. Dia diterima dengan sangat ramah. Dan ketika istirahat, para peserta muda Islam tampak ingin mengetahui langsung mengapa Franz Magnis menulis artikel demikian. 

Tanya jawab berlangsung dalam suasana akrab dan toleran, suasana yang hingga kini tetap bisa dirasakannya. Artikel itu dibicarakan secara santai dan tenang, tidak didiamkan begitu saja, telah membuat Franz Magis merasa gembira. Bagi dia hal itu merupakan salah satu tanda paling jelas bahwa di Indonesia, seperti pada orang Islam muda itu, toleransi bukanlah rumusan kosong.

Sebagai seorang imam Katolik dan rohaniwan, Franz Magnis-Suseno menyebutkan seluruh karyanya di Indonesia hanya mungkin terjadi kalau didasarkan iman. Dia menyebutkan dirinya bukan seorang romantikus yang entah kenapa lalu jatuh cinta begitu saja pada Indonesia. 

Dia juga bukan seorang good doer atau seorang penolong negara berkembang. Dia merasa terdorong untuk membantu gereja di Indonesia dan memberikan kesaksian yang ditugaskan kepadanya. Hanya saja, kesaksian iman itu tak bisa bersifat verbal dan tidak bersangkut paut dengan dengan hal mencari penganut bagi agamanya sendiri.

Dia menyebutkan, penawaran keselamatan Tuhan menurut iman Katolik tidak terikat pada keanggotaan dalam gereja yang kelihatan. Kesaksian yang menjadi panggilan setiap orang Kristen tidak berupa kegiatan mendapatkan penganut. 

Roh Allah sendirilah yang akan menetapkan kepada siapa saja Ia membuka hatinya. Juga apakah Ia memanggil seseorang kepada pegetahuan yang jelas dan membahagiakan tentang cinta Allah dalam Yesus Kristus. Kesaksian kristiani harus berupa usaha agar cinta dan keadilan Allah dihadirkan di dunia sekarang ini, dan terserah kepada siapa saja bagaimana mau menanggapi.

Menurutnya, kesaksian yang seharusnya diberikan oleh Gereja, sebagaimana dia melihat panggilan pribadi kepadanya, adalah kesaksian tentang cinta, perdamaian, kejujuran, keadilan, dan kepercayaan akan kekuatan Allah yang tanpa menggunakan kekerasan, manipulasi, kekuatan politik, bujukan, pemerasan terhadap yang lemah, pembualan, dan sebagainya. 

Hal itulah yang seharusnya disaksikan oleh orang Kristen lewat kehidupannya, lewat ia menjalankan profesi dan pekerjaannya, dan lewat cara ia mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat.

Dia telah berusaha melakukan hal-hal demikian dengan menempatkan keahliannya yang sangat terbatas ke alam pengabdian kepada perdamaian, keadilan, dan kebenaran. Itu pulalah yang dia utamakan setiap kali menjelaskan sesuatu, mengkritik, memberi semangat, dan bertemu dengan orang lain. 

Itulah yang terpenting bagi dia kalau berkomunikasi dengan orang beragama lain, juga kalau dia mengkritik ketidakadilan, penindasan, dan kebohongan yang bercorak ideologis dan kekuasaan politik.

"Karena keyakinan itulah maka saya telah datang ke Indonesia dan menjadi orang Indonesia. Ini tidak berarti Indonesia menjadi sebuah proyeksi religius. Kalau iman kristiani mengakibatkan sesuatu, maka, bahwa ia benar-benar membuka hati, sehingga orang lain tidak menjadi sarana demi tujuan religius lebih lanjut, melainkan ia diterima demi dirinya sendiri," kata Franz Magnis. 

"Termasuk keyakinan dan agamanya sendiri. Begitulah saya belajar menghormati dan mencintai negeri ini dan orang-orangnya, dari semua agama, dan saya berterimakasih bahwa saya boleh termasuk di dalamnya," tambah Franz Magnis.

Pengalaman Franz Magnis dengan Indonesia dan dengan orang-orang Indonesia telah membuatnya optimis akan masa depan Indonesia. Itu, barangkali ada hubungannya dengan iman dia sebagai imam rohaniwan Katolik. Dia mengharapkan Indonesia, sekalipun bukan tanpa macam-macam kesulitan, akan dapat memecahkan masalah-masalahnya.

Setelah memperoleh tugas pertama di Indonesia mengajar pelajaran Agama di SMA Kolese Kanisius, Jakarta antara tahun 19662-1964 serta merangkap Kepala Asrama Siswa yang membuatnya mengenal dan hafal nama 500 remaja binaannya, Franz Magnis-Suseno, SJ lalu ditugaskan belajar studi teologi ke Institut Filsafat Teologi Yogyakarta, di Yogyakarta antara tahun 1964 hingga 1968. 

Di situ dia mulai merasakan hidup dan studi nikmat bersama dengan para mahasiswa Yesuit lainnya. Ada yang warga negara Jerman, orang Indonesia, dan sebagian besar orang Jawa.Franz Magnis orang Jerman kelahiran Polandia ini pun digelari pula orang Jerman beretika Jawa. 

Kenapa? Yakni, sebuah kesempatan untuk secara amat leluasa bisa terus-menerus berhubungan dengan orang Jawa, sekaligus berkomunikasi dengan mereka tanpa dirusak oleh suasana hubungan kewibawaan seperti antara pastor dengan dengan umatnya, atau hubungan seperti antara orang ahli asing dari luar negeri dengan orang pribumi yang bukan ahli. 

Franz Magnis berbicara dengan semua mahasiswa dalam bahasa Jawa ngoko atau bahasa umum. Di kampus itu dia mulai mengenal betul kodrat asli orang Jawa. Sesudah lebih dari setahun kuliah, atau tepatnya setelah empat setengah tahun bermukim di Indonesia sejak 29 Januari 1961 dia mengalami sebuah goncangan kebudayaan atau culture shock. 

Dia merasa orang Jawa, sementara orang Tionghoa di antara mahasiswa Yesuit lainnya lain lagi memiliki pendirian, komunikasi, cara memandang masalah, situasi-situasi menentukan dan sebagainya, yang sama sekali berbeda. Dia agak shock lalu bertanya dalam hati, apakah dalam suasana demikian bisa mengembangkan identitas diri.

Untunglah hubungan-hubungan mereka sesama mahasiswa, khususnya dengan mahasiswa Jawa bagus sehingga hal-hal seperti itu dapat dibicarakan dalam batas-batas tertentu. Dia dapat melampaui krisis goncangan sekaligus berkesimpulan sudah berada di tempat yang benar.

Semua orang pada dasarnya menerima dia dengan utuh. Penerimaan itu dikukuhkan dengan sikap positif yang terus-menerus ditunjukkan oleh rekan-rekan seordo orang Indonesia. Bahkan, atasan Indonesia dalam Serikat Yesus dan Gereja berulang kali menyerahkan posisi-posisi penting yang penuh tanggungjawab kepada dia. Dia lalu memutuskan untuk terus maju menjadi orang Indonesia tanpa merasa sesal.

Dia melihat bahwa orang Jawa itu sopan dan ramah. Memang benar demikian, hal itu bukan sekadar penampilan luar saja. Walau demikian, kepada orang Jawa sekali-kali tidak boleh berusaha mendesak atau menyudutkan mereka. Orang Jawa rela bekerja sama asal bisa merebut hati mereka. Hormatilah kebebasan orang Jawa untuk mengambil keputusan sendiri, jangan memaksakan diri atau memanfaatkan sikap ramah dan kesopanan mereka untuk memperoleh kedudukan yang lebih baik. 

Bersikap sabar menghormati kebebasan orang lain, dan menaruh kepercayaan kepadanya, adalah cara-cara yang paling baik mengembangkan hubungan-hubungan yang langgeng, positif, jujur, dan sangat memuaskan dengan orang Jawa.

Persepsi dia tentang orang Jawa terus saja berkembang. Bahkan beberapa tahun kemudian, sekitar tahun 1975 dia mencoba mencari apa landasan teoritis terhadap pengalaman-pengalaman empirik dia berhubungan dengan orang Jawa, yang saat itu sudah berlangsung 14 tahun.

Landasan teoritis itu dia cari antara lain lewat studi literatur antropologi, sosiologi, sejarah kebudayaan, termasuk studi literatur Jawa klasik abad ke-18 dan 19. Hasilnya adalah sebuah buku berjudul "Javanische Weisheit und Ethik", diterbitkan oleh Oldenburg di tahun 1981.

Buku itu, setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berjudul "Etika Jawa", dan diterbitkan oleh Gramedia, terjual laris hingga mencapai oplag 15.000 eksemplar. Kepada Franz Magnis banyak orang Jawa lantas mengatakan, bahwa dalam buku itu mereka dapat menemukan sesuatu dari jati diri mereka sebagai orang Jawa. 

Malah, mereka melanjutkan, boleh dikatakan untuk pertamakali mereka sempat melihat diri dalam jarak, mereka sempat memproyeksi diri. Tujuan Magnis mencari landasan teoritis dan menerbitkan buku, itu memang dimaksudkan untuk menggambarkan sebuah "tipe ideal" seorang Jawa Tengah yang "klasik". Dia lalu merumuskan tipe atau tipos itu secara tertulis sekaligus mengukirnya sebagai figur.

Pada tahun 1977 die resmi dinyatakan sebagai warga negara Indonesia, setelah tujuh tahun menunggu. Namanya pun "diindonesiakan" menjadi Franz Magnis-Suseno, SJ. 

Peristiwa itu adalah sebuah langkah penting baginya sebab ditempuh dengan kesadaran penuh. Bagi dia, menjadi warga negara Indonesia sesungguhnya bukanlah berarti penolakan terhadap masa silam Jerman dia yang, selama 24 tahun pertama adalah masa-masa pembentukan dan paling menentukan dalam hidupnya. Dia tak bermaksud dan tidak bisa menanggalkannya.

Orang-orang Indonesia pun sesungguhnya tidaklah mengharapkan dia menjadi orang Indonesia atau orang Jawa tulen. Dia, justru menjadi sangat diterima sebagai seorang "Kasman", atau bekas Jerman. Dia yakin, setiap orang pasti tidak mampu memasuki hubungan positif dengan dunia baru 

jika orang itu mempunyai hubungan yang tidak beres dengan tanah asalnya semula, dengan sejarah kehidupan pribadinya, dan dengan kehidupan sosialnya sendiri. Pelarian dari masa lalu adalah jaminan yang buruk untuk suatu masa depan yang positif. Kecuali, pelarian dari masa lampau itu secara objektif menakutkan dan mengerikan sekali sehingga sungguh-sungguh sangat memerlukan awal yang baru sama sekali.

Ia berasal dari sebuah keluarga bangsawan. Magnis-Suseno juga dikenal sebagai seorang Direktur Program Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Sebagai seorang pastur Magnis-Suseno memiliki panggilan akrab Romo Magnis.

Magnis-Suseno datang ke Indonesia pada tahun 1961 pada usia 25 tahun untuk belajar filsafat dan teologi di Yogyakarta. Tiba di Indonesia, dia langsung mempelajari bahasa Jawa untuk membantunya berkomunikasi dengan warga setempat. Setelah ditahbiskan menjadi Pastor, ia ditugaskan untuk belajar filsafat di Jerman sampai memperoleh gelar doktor di bidang filsafat dengan disertasi mengenai Karl Marx.

Sebelum menjadi warganegara Indonesia pada tahun 1977, Magnis-Suseno adalah seorang warga Jerman yang bernama Franz Graf von Magnis. Saat berganti kewarganegaraan, dia menambahkan 'Suseno' di belakang namanya.

Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan dalam bentuk buku dan artikel. Buku "Etika Jawa" dituliskan setelah ia menjalani sabbatical year di Paroki Hati Kudus Yesus di Sukoharjo Jawa Tengah. Buku lain yang sangat berpengaruh adalah "Etika politik" yang menjadi acuan pokok bagi mahasiswa filsafat dan ilmu politik di Indonesia. 

Magnis dikenal kalangan ilmiah sebagai seorang cendekiawan yang cerdas dan bersahabat dengan semua orang tanpa pandang bulu. Banyak kandidat doktor yang merasa dibantu dalam menyelesaikan disertasinya. Franz Magnis mendapat gelar doktor kehormatan di bidang teologi dari Universitas Luzern, Swiss.

Franz Magnis Suseno dianugerahi Bintang Mahaputra Utama pada 13 Agustus 2015 (berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 83/TK/TaHUN 2015 tanggal 7 Agustus 2015) oleh Pemerintah RI atas jasa-jasa dia di bidang kebudayaan dan filsafat. Selamat ulang tahun Kiai, eh maksudnya Romo Franz Magnis.

 

Reporter : Marcel Rombe Baan
Editor : Tommy Satria Ismaya Cahya

Apa Reaksi Anda?