• News

  • Politik

Demokrat di Tengah Isu Mahar Politik 500 M dan Dukungan untuk Prabowo-Sandi

Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca Panjaitan
NNC/Adiel Manafe
Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca Panjaitan

JAKARTA, NNC - Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca Panjaitan mengatakan, cuitan Wasekjen Demokrat Andi Arief yang menyebut Sandiaga Uno memberikan mahar politik kepada PKS dan PAN sebesar  Rp500 miliar per partai agar mendukungnya menjadi cawapres Prabowo Subianto, merupakan bagian dari dinamika politik.

"Dalam politik kan biasa. Itu adalah refleksi dari kader yang bereaksi. Kita ingin mengatakan dalam politik selalu ada diskusi-diskusi muncul. Dan itu menarik kan bagi teman-teman (wartawan), kalau gak kan datar-datar saja," kata Hinca di depan Gedung KPU, Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (10/8/2018).

Saat disinggung apakah yang disampaikan Andi mewakili Partai Demokrat, Hinca menjawab jika ada kader yang membuat pernyataan, maka hal itu tak bisa dipisahkan dari partai, namun bukan berarti itu adalah sikap partai.

"Andi Arief itu wakil sekjen siapa yang bisa bilang dia bukan Demokrat. Jadi tidak perlu ditanyakan, misalnya saya pakai Demokrat terus saya katakan itu pernyataan pribadi, gak," tegas Hinca.

Sebelumnya, Andi Arief menuding Sandiaga Uno membayar PAN dan PKS untuk mendukungnya menjadi cawapres mendampingi Prabowo Subianto di Pilpres 2019.

"Sandi Uno yang sanggup membayar PAN dan PKS masing-masing Rp500 miliar menjadi pilihannya untuk cawapres," kata Andi kepada wartawan, Rabu (8/8/2018).

"Di luar dugaan kami ternyata Prabowo mementingkan uang ketimbang jalan perjuangan yang benar. Benar-benar jenderal di luar dugaan," tandasnya.

Pernyataan Andi ini membuat Ketua DPP PAN Yandri Susanto geram dan  menyebut Andi telah memfitnah partainya, karena PAN tidak tidak pernah menerima uang dari Sandiaga.

"Itu tidak benar dan fitnah, ya. Dan mulut comberan Andi Arief itu harap disetop itu," kata Yandri dihubungi wartawan, Rabu (8/8/2018).

Yandri mengultimatum Andi supaya mencabut pernyataannya dan berhenti menebar fitnah. Jika tidak, pihaknya tak segan-segan membawa masalah ini masalah ini ke jalur hukum.

"Kalau nggak, kita akan kita tuntut dia di meja hukum. Tolong dicabut secepatnya itu. Mumpung masih ada waktu klarifikasi. Itu pernyataan tak mendasar," tegas Anggota DPR ini.

"Memang nggak ada itu. Itu kan sesuatu yang tidak ada sama sekali. Jadi kita minta Andi Arief cabut pernyataan itu. Kalau tidak, akan kita tuntut secara hukum," pungkasnya.

Reaksi yang sama juga disampaikan PKS. Ketua DPP PKS Ledia Hanifa mengatakan, pihaknya akan melaporkan Andi Arief ke polisi karena pernyataan itu adalah fitnah yang keji.

"Pernyataan Andi Arief jelas fitnah keji. Ini tudingan tidak main-main yang memiliki konsekuensi hukum terhadap yang bersangkutan," ujar Ketua DPP PKS Ledia Hanifa dalam keterangan persnya, Kamis (9/8/2018).

Tak beda jauh dengan PAN dan PKS, Gerindra juga membantah tudingan Andi bahwa Prabowo mementingkan uang sehingga memilih Sandi sebagai wakilnya.

Ketua DPP Partai Gerindra Sodik Mudjahid mengungkapkan, jika Gerindra lebih mementingkan uang ketimbang yang lainnya, maka Prabowo akan jauh lebih memilih Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Sebab, logistik AHY jauh lebih besar daripada Sandiaga Uno.

"Kalau atas dasar pertimbangan uang, maka Prabowo‎ Subianto lebih memilih AHY daripada SU. Logistik dan uang AHY jauh lebih besar. Tapi, bukan itu pertimbangannya. P‎S dan Gerindra tidak pernah menjadikan uang sebagai dasar pertimbangan utama, apalagi satu-satunya dasar," ujar Sodik.

Menariknya, meski hubungan wasekjen Demokrat dengan elit Gerindra, PAN, dan PKS memanas, namun justru kini Demokrat berkoalisi dengan tiga partai tersebut untuk mengusung Prabowo-Sandi di Pilpres 2019.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Wulandari Saptono

Apa Reaksi Anda?