• News

  • Politik

Setelah Ngabalin dan Yusril, Akankah Fahri Juga Ditarik Kubu Jokowi?

Fahri Hamzah disebut berkemungkinan ditarik ke kubu Jokowi.
NNC/Dominikus Lewuk
Fahri Hamzah disebut berkemungkinan ditarik ke kubu Jokowi.

JAKARTA, NNC - Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hermawan Sulistyo mengatakan, manuver politisi di Pilpres 2019 dari kawan menjadi lawan ataupun sebaliknya, adalah hal yang biasa terjadi di dunia politik.

Menurutnya, hal ini sebagaimana adanya istilah bahwa dalam politik tak ada kawan dan lawan abadi, karena yang abadi hanyalah kepentingan.

"Ya biasa aja. Semua politisi itu gak ada yang bisa kita pegang kepalanya. Siapa yang bisa pegang kepalanya. Selama kepentingan bisa terjaga, mereka pasti akan merapat. Kalau (kepentingan) tidak terjaga lagi ya lepas," kata Hermawan Sulistyo di Jakarta, Selasa (6/11/2018).

"Tidak ada yang permanen dalam politik. Jadi tidak ada kawan permanen, musuh permanen dalam politik. Yang permanen itu adalah kepentingan. Jadi hari ini lawan, besok kawan, lusa lawan lagi, itu biasa aja," ujarnya.

Hermawan menyampaikan hal tersebut dalam menyikapi sejumlah politisi yang kini ditarik untuk membela capres petahana Joko Widodo (Jokowi), padahal sebelumnya mereka menjadi oposisi dan lantang mengkritik pemerintah.

Sebagai contoh ia menyinggung nama Ali Mochtar Ngabalin dan Yusril Ihza Mahendra.

Selain Ngabalin dan Yusril, menurut Hermawan, politisi yang juga kerap menyerang rezim saat ini, seperti Fahri Hamzah dan Fadli Zon, juga berpeluang ditarik oleh kubu Jokowi.

"Jadi Ngabalin diambil, Yusril diambil, sekarang yang rese lagi siapa, Fadli Zon, ambil misalnya, bisa aja. Terus kayak Fahri Hamzah juga," ungkap Hermawan Sulistyo.

"Fahri Hamzah kan bisa jadi bola liar, wong dia gak punya partai, lewat PKS gak bisa, terus lewat mana, ditawarin mau gak jadi komisaris ini daripada gak dapat apa-apa nanti bisa saja. Sangat mungkin, siapapun sangat mungkin," tandasnya.

Lebih jauh, Hermawan Sulistyo menjelaskan, meski ditariknya politisi kontroversial seperti itu tidak berdampak pada elektoral, namun kehadiran mereka dipakai sebagai 'tameng' ataupun 'penyerang' untuk membungkam lawan politik.

"Jadi orang-orang seperti Ngabalin, Yusril dan segala itu tidak punya pendukung tapi dia bisa 'ngerusak' (lawan politik). Bisa ganggu, spoilers. Kalau dia nyerang dengan isu-isu hukum, ini segala macam kan (lawan) keganggu. Membungkam lawan. Kalau dukung belum tentu dapat suara," pungkasnya.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Irawan.H.P

Apa Reaksi Anda?