• News

  • Politik

Gaet Yusril, Petahana Mainkan Politik Gotong Royong Bukan ‘Babat Alas‘

Pengamat politik Emrus Sihombing
Indonesia Raya
Pengamat politik Emrus Sihombing

JAKARTA, NNC - Pengamat politik Emrus Sihombing menilai, cara kubu capres-cawapres Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amien menggaet pengacara kondang Yusril Ihza Mahendra menjadi kuasa hukumnya di Pilpres 2019, merupakan strategi politik gotong royong, bukan 'babat alas.'

"Lebih tepat disebut bahwa capres petahana menerapkan strategi politik gotong royong. Sama sekali belum cukup kuat bila dikonsepkan sebagai 'babat alas," kata Emrus dalam keterangan persnya yang diterima NNC, Jumat (9/11/2018).

Hal itu disampaikan Emrus menanggapi pendapat pengamat politik Hendri Satrio, bahwa kubu Jokowi menggunakan strategi 'babat alas' dengan merekrut tokoh-tokoh penting dalam menghadapi lawannya, Prabowo Subianto.

"Jelas terlihat bahwa tokoh-tokoh tersebutlah yang aktif ingin bergabung atas kesadaran sendiri. Lalu direkrut. Yusril Ihza Mahendra, misalnya, sebagai tokoh yang punya independesi mengambil keputusan untuk bergabung," ujarnya.

Direktur Emrus Corner ini juga tidak sependapat dengan pernyataan Hendri yang menyebut kubu Jokowi berupaya menggandeng semua media yang ada demi kepentingan politik Pilpres 2019.

"Lagi-lagi pada kutipan ini memposisikan media sebagai yang bisa dengan mudah direkrut oleh petahana.  Padahal, setiap media yang kredibel punya kebijakan redaksional yang jelas dan tegas yang membuat media itu bisa bersikap independen," jelas Emrus.

"Independen artinya, media harus berani mengambil sikap dan posisi yang berpihak kepada kepentingan rakyat, bangsa dan negara. Hal ini pernah dilakukan ketika Pers kita turut berjuang kemerdekaan. Sebagai sebuah institusi sosial, media memiliki kehendak bebas untuk berpihak kepada yang terbaik," sambungnya.

Karena itu, lanjut Emrus, dalam suatu kontestasi politik, seperti dalam rentang masa kampanye, media bisa saja mengambil garis yang jelas terhadap salah satu kekuatan politik sepanjang itu diyakini sebagai sesuatu yang mampu membuat perubahan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. "Biasanya garis keberpihakan itu dinarasikan dalam isi tajuk rencananya," pungkasnya.

Sebelumnya, kubu Jokowi-Ma'ruf Amin dinilai Hendri Satrio, menggunakan strategi 'babat alas' dalam menghadapi lawannya, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Jokowi disebut menyerap semua kekuatan politik demi memuluskan kemenangannya pada Pilpres 2019.

Sebagai contoh, Hendri menyinggung Jokowi yang memiliki kekuatan media, serta merekrut tokoh-tokoh penting, salah satunya Yusril Ihza Mahendra sebagai pengacara capres-cawapres nomor urut 01 itu.

Hendri menduga hal tersebut dilakukan Jokowi lantaran merasa posisinya tak aman menghadapi Pilpres 2019.

"Bergabungnya tokoh-tokoh penting ke kubu Jokowi ini ibaratnya persaingan dua tim sepakbola. Tim sepakbola yang satu ini merekrut semua pemain terbaik supaya semata-mata tim lain tidak memiliki tim yang bagus, sehingga mudah dikalahkan," kata Hendri, Kamis (8/11/2018).

"Misal merekrut semua media yang ada, tokoh-tokoh politik yang ada, kalau bisa semua parpol di Jokowi. Ini sebuah strategi babat alas yang menurut saya bagus. Mungkin saat ini Pak Jokowi merasa posisinya tidak aman, sehingga perlu melakukan strategi babat alas seperti ini," tuturnya.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Nazaruli

Apa Reaksi Anda?