• News

  • Politik

Amien Rais Mau Jewer Haedar, Ini Sikap Mahasiswa Muhammadiyah 

Penasihat Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Amien Rais.
Dokumentasi NNC/Dominikus Lewuk
Penasihat Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Amien Rais.

JAKARTA, NNC - Penasihat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Amien Rais mengatakan dirinya akan menjewer Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, apabila membebaskan warga Muhammadiyah untuk memilih siapa saja capres-cawapres di Pilpres 2019 mendatang.

Pernyataan Amien dikritik oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Mereka menilai, apa yang disampaikan Amien bertentangan dengan khitah atau cita-cita organisasi tersebut.

"Pernyataan yang dikeluarkan oleh Pak Amien bertentangan dengan semangat khittah yang sudah dipernah digagas dalam muktamar Muhammadiyah tahun 1971 di Makasar yang menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak terikat dengan partai politik apapun, dan menjaga jarak yang sama dengan semua partai politik," kata Ketua Umum IMM, Najih Prasetyo dalam keterangan tertulisnya, Selasa (20/11/2018).

Menurutnya, hasil muktamar di Makasar kemudian ditetapkan lagi pada tanwir Muhammadiyah pada tahun 2002 di Denpasar, Bali, yang secara prinsip menegaskan Muhammadiyah berbeda dengan partai politik. 

"Di Khittah Denpasar juga ditegaskan kalau ada hal-hal yang genting, Muhammadiyah menjalankan peran sabagai  interest groups, kelompok kepentingan, atau menyampaikan opini, atau mendesakkan sikap Muhammadiyah," ujarnya.

Untuk itu, DPP IMM menegaskan, Muhammadiyah sesuai dengan Khittah tidak dukung mendukung pasangan calon seperti halnya partai politik.

"Sepemahaman kami, di dalam khittah Muhammadiyah, tidak ada anjuran Muhammadiyah harus melakukan penyeragaman pilihan politik dalam perhelatan pilpres," tegas Najih.

Sebab, lanjutnya, jika sampai fatwa dikeluarkan, dikhawatirkan Muhammadiyah akan terseret ke dalam pusaran politik praktis yang kontraproduktif bagi Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah.  

"Bila dukung-mendukung dilakukan lalu apa bedanya Muhammadiyah dengan tim sukses ataupun parpol pendukung calon presiden? Sekali lagi Muhammadiyah adalah rumah bersama bagi seluruh elemen bangsa itu," ungkapnya.

Untuk itu, Najih menyebut DPP IMM lebih mendukung sikap Haedar Nashir yang menjaga netralitas Muhammadiyah dan tetap berada di tengah sebagai ummatan wasathon (tengahan), yaitu dengan tidak memberi dukungan kepada salah satu capres. 

"Siapa pun yang akan terpilih menjadi presiden, kami yakin Muhammadiyah tetap akan menjadi mitra kritis pemerintah," pungkasnya.

Sebelumnya, Ketum PP  Muhammadiyah, Haedar Nashir menyatakan, secara kelembagaan Muhammadiyah tidak terjun dalam politik praktis di Pilpres 2019. Pihaknya membebaskan warga Muhammadiyah untuk memilih pasangan capres-cawapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin atau Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

"Muhammadiyah secara kelembagaan, organisasi, tidak masuk ke arena politik praktis. Muhammadiyah sebagai warga bangsa sudah cerdas, sudah punya pilihan politik dan visi politik yang jadi hak warga negara," kata Haedar, Rabu (5/9/2018) lalu.

Menanggapi hal itu, Amien Rais mengaku tidak setuju dengan pernyataan Haedar. Hal tersebut disampaikan Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) ini saat Tabligh Akbar dan Resepsi Milad ke-106 Masehi Muhammadiyah di Islamic Center Surabaya, Selasa (21/11/2018). 

"Di tahun politik, tidak boleh seorang Haedar Nashir memilih menyerahkan ke kader untuk menentukan sikapnya di pilpres. Kalau sampai seperti itu, akan saya jewer," kata Amien. 

Mantan Ketum PP Muhammadiyah ini mengungkapkan, sikap pimpinan Muhammadiyah yang menyerahkan kepada kadernya untuk memilih capres masing-masing, bukan fatwa. 

PP Muhammadiyah, disebut Amien, tidak boleh diam saja atau tidak jelas sikapnya untuk menentukan pemimpin bangsa ini di periode 2019-2024.

"Sekali lagi, kalau sampai itu dilakukan, maka akan saya jewer. Pemilihan presiden ini menentukan satu kursi dan jangan sampai bilang terserah," tegas mantan Ketua MPR itu.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Nazaruli

Apa Reaksi Anda?