• News

  • Politik

Soal Istilah Cebong dan Kampret, Ketua MUI DKI Diingatkan untuk Bertobat

KH Munahar Muchtar.
beritajakarta
KH Munahar Muchtar.

JAKARTA, NNC - Jelang Pilpres 2019, Jaringan Aktivis Reformasi Indonesia (JARI 98) menyoroti penyebutan 'cebong atau kecebong' untuk para pendukung capres petahana Joko Widodo (Jokowi), dan 'kampret' bagi pendukung capres nomor urut 02 Prabowo Subianto.

JARI 98 menilai, sebutan cebong dan kampret ini sangat meresahkan masyarakat. Apalagi jika itu keluar dari ulama yang seharusnya jadi panutan umat.

Hal itu disampaikan Korwil JARI 98 Jakarta Utara, Donny Fraga Wijaya, menanggapi penggunaan istilah kecebong oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta, Munahar Muchtar saat memberikan sambutan di acara Maulid Nabi SAW di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) beberapa hari lalu.

“Apa yang disampaikannya dengan melabeli kata-kata cebong menurut kami beliau perlu disadarkan kembali dan bertaubat. Ini sama saja tidak menghargai Tuhan yang telah menciptakan manusia,” ungkap Korwil Jari 98 Jakarta Utara Donny Fraga Wijaya, Kamis (17/1/2019).

Menurutnya, ucapan itu sangat tidak pantas ditambah lagi dengan menggunakan istilah hewan untuk mendegradasi atau merendahkan manusia. Ia menyebut, dalam Islam tidak mengajarkan demikian.

“Itu tidak sesuai dengan akhlak Islam. Siapa pun itu, baik pihak ini ke sana, pihak ini ke situ, apalagi ini sekelas ulama. Harusnya Ketua MUI DKI ini bisa berdiri ditengah-tengah, bagaimana bisa menyejukkan kalau bahasanya demikian,” ucap dia.

Ditegaskan Donny, Islam sangat menghormati semua manusia, termasuk kepada para nonmuslim. Jari 98 mengaku prihatin atas penyampaian pentolan MUI DKI ini yang dinilainya memunculkan benih permusuhan. Dia berpesan agar Munahar bisa menjaga silaturahmi meski berbeda pandangan, tidak menghina kelompok lain, dan berlomba dalam kebaikan.

“Manusia itu siapapun, adalah makhluk ciptaan Allah. Agama menyebutkan ‘karamna bani Adam, kami memuliakan bani Adam, bukan hanya muslim, bukan hanya mukmin’,” paparnya.

Donny pun mengingatkan agar ulama yang harusnya jadi publik figur bisa mencerminkan nilai dan keadaban islam. Dalam konteks keadaban islam harus punya tutur bahasa menyejukkan, bukan sebaliknya. “Keadaban Islam itu mengharuskan kita untuk menyampaikan nasehat yang baik bukan dengan mengujat,” terangnya.

Lebih jauh Donny mengungkapkan, tutur kata santun seorang dai maupun ulama saat memberi nasihat merupakan hal yang wajib dalam agama, termasuk bila penyampaian itu bertujuan untuk mengkritik. “Bernasihat itu harus dengan cara yang baik, tidak hanya substansinya baik, tapi caranya pun harus baik, jangan ngawur. Mengayomi seluruh umat, bukan memusuhi,” ujar Donny.

Pihaknya pun mempersilakan kritikan Munahar dan kelompoknya itu berbicara politik di masjid pada tahun politik ini sepanjang didasari niat untuk ibadah dan kemaslahatan umat. Kendati demikian, fungsi masjid sebagai tempat ibadah harus dikembalikan. Ibadah bukan hanya kegiatan ritual yang diharuskan oleh agama, melainkan juga kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kemaslahatan umat.

“Kalau niatnya sudah syahwat politik untuk berkuasa di negeri ini ya ngawur itu namanya. Masjid kan fungsinya untuk ibadah. Ibadah ada dua. Satu, ibadah mahdhah yaitu ibadah langsung secara vertikal lewat kegiatan-kegiatan ritual yang diharuskan oleh agama. Kedua, ibadah ghairu mahdhah. Kelihatannya bukan ibadah, tetapi untuk kemaslahatan umat itu ibadah,” pungkasnya.

Diketahui, Munahar Muchtar menyebut istilah kecebong saat memberikan sambutan di Maulid Nabi SAW yang digelar kantor DPP PKS, Minggu (13/1/2019). Sambutan Munahar juga diunggah di YouTube oleh akun KH Munahar Muchtar.

Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta itu menyelipkan istilah kecebong ketika ia menyampaikan apresiasi kepada PKS yang dinilai sebagai partai politik yang menjadi motor pergerakan umat.

"Atas nama MUI kami mengucapkan selamat kepada partai keadilan sejahtera, sekarang ini selaku motor utama pergerangan umat islam dari kalangan partai, mudah-mudahan partai islam lainnya, mudah-mudahan enggak jadi kecebong, mudah-mudahan kembali ke jalan yang benar," ujar Munahar dikutip dari YouTube.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Wulandari Saptono

Apa Reaksi Anda?