• News

  • Politik

Tragedi Penculikan Aktivis 98, GARBI: Adili Prabowo di Pengadilan HAM!

Tragedi penculikan aktivis 98, GARBI: Adili Prabowo di pengadilan HAM.
Istimewa
Tragedi penculikan aktivis 98, GARBI: Adili Prabowo di pengadilan HAM.

JAKARTA, NNC - Massa dari Gerakan Aktivis Reformis Bela Indonesia (GARBI) dan Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK), berunjuk rasa di depan Istana Negara, Kamis (17/1/2019), untuk mempertanyakan penyelesaian kasus pelanggaran HAM 98.

Dalam aksinya, GARBI menyerukan agar pemerintah membentuk Pengadilan HAM Ad Hoc untuk mengadili Prabowo Subianto terkait dugaan kasus penculikan aktivis yang terjadi menjelang peristiwa reformasi 98.

"Sejarah paling horor penculikan aktivis 20 tahun lalu masih mencatat luka lama yang belum terobati dan membekas. Keluarga korban aktivis yang diculik pastinya tidak akan lupa. Adili Prabowo di Pengadilan Ham Ad Hoc," kata Koordinator Aksi, Faris dalam orasinya.

Apalagi, disebut Faris, dokumen-dokumen yang pernah dirilis ke publik oleh lembaga Arsip Keamanan Nasional (NSA) mengemukakan berbagai jenis laporan pada periode Agustus 1997 sampai Mei 1999, serta sebanyak 34 dokumen rahasia Amerika Serikat itu mengungkap rentetan laporan pada masa prareformasi, salah satunya bahwa Prabowo Subianto disebut memerintahkan Kopassus untuk menghilangkan paksa sejumlah aktivis pada 1998.

"Karena nama Prabowo tersangkut di beberapa dokumen Komnas HAM misal kasus penculikan, penghilangan paksa belum clear karena masih ada sembilan orang yang belum jelas statusnya, jadi bagaimana mungkin jika dia berkuasa bisa menuntaskan kasus HAM," sambungnya.

Menurut Faris, 20 tahun reformasi yang masih berjalan telah menyisakan pertanyaan yang belum terjawab soal keberadaan belasan aktivis prodemokrasi. Padahal keluarga hanya ingin kejelasan soal nasib para aktivis tersebut.

Wiji Thukul adalah salah satu aktivis yang hingga kini masih belum diketahui keberadaannya. Aktivis yang juga penyair itu hilang di awal 1998, menjelang jatuhnya rezim Orde Baru.

Selain Wiji, aktivis lainnya yang masih hilang adalah Petrus Bima Anugrah, Herman Hendrawan, Suyat, Yani Afri, Sonny, Dedi Hamdun, Noval Al Katiri, Ismail, Ucok Siahaan, Hendra Hambali, Yadin Muhidin, dan Abdun Nasser.

"Presiden Jokowi harus berani menuntaskan kasus aktivis hilang di rezim Soeharto. Jangan biarkan terduga pelanggar HAM (Prabowo) ini kembali berkuasa," tegas Faris.

Faris memastikan keluarga korban pelanggaran HAM berat kecewa dengan Prabowo yang bisa lolos berkompetisi di Pemilu 2019. "Benar kata mereka jika Pemilu ini terasa hampa. Jika memilih golput, sama saja membiarkan pemimpin era orde baru bangkit kembali," pungkasnya.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Sulha Handayani

Apa Reaksi Anda?