Abdillah Toha. (Satuharapan.com)

Abdillah Toha. (Satuharapan.com)

Abdillah Toha: Mega Tabuh Genderang Perlawanan ‘’Silent Majority’’

Rabu, 11 Jan 2017 | 16:47 WIB | Politik

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Komentar atas pidato politik Megawati Soekarnoputri dalam ulang tahun ke-44 Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) di Jakarta Convention Center Senayan Jakarta, Selasa (10/1/2017) terus mengalir. Komentar itu khususnya yang menyangkut seruan Megawati agar ''Silent Majority'' bangkit.

Politisi senior Partai Amanat Nasional (PAN) Abdillah Toha lewat pesan twitternya dengan akun ‏@AT_AbdillahToha, Rabu (11/1/2017) menulis begini:

Pidato ibu Megawati kemarin merupakan genderang perlawanan dari the silent majority. Mari kita dukung bersama dengan ikut bersuara lantang. 

Abdillah pun sebagai bagian dari Silent Majority menunjukkan bahwa dia merespons atau tergugah untuk bangkit seperti seruan Megawati tersebut. Karena itu, Abdillah Toha juga mengajak kaum ''silent majority lainnya untuk mendukung seruan itu dengan bersuara lantang, tidak diam atau tiarap.

Seperti dimuat online ini, dalam pidato yang disiarkan langsung beberapa televisi swasta tersebut, Megawati lebih awal memaparkan betapa kondisi bangsa Indonesia saat ini sedang dirongrong oleh sebuah kekuatan intoleran. Kelompok intoleran itu jelas-jelas ingin mengganti ideologi Pancasila yang lahir 1 Juni 1945.

Dalam pidatonya, ia mengajak seluruh elemen bangsa yang selalu setia kepada Pancasila untuk bangkit membela pancasila di tengah maraknya kekuatan politik tertentu yang mencederai pancasila sebagai asas kehidupan berbangsa.

"Kita tidak perlu reaksioner, tetapi sudah saatnya silent majority bersuara dan menggalang kekuatan bersama," ujar Megawati.

Seruan Megawati tersebut bukan tanpa asap. Megawati menyerukan kebangkitan silent majority sebagai keprihatinan akan situasi terkini bangsa ini yang sedang mendekati lampu kuning. 

Sebagai mantan presiden dan anak biologis dari Ir Soekarno, Proklamator yang melahirkan ideologi Pancasila dan juga Presiden pertama Republik tercinta ini, adalah sangat wajar dan seharusnya demikian Megawati mengingatkan dan membangunkan masyarakat Indonesia akan bahaya yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sebenarnya Megawati juga membaca sinyal bahwa sebenarnya kelompok yang intoleran itu secara kuantitas jumlahnya kecil. Tetapi, dengan permainan media sosial yang masif yang dimanfaatkan kelompok intoleran, seolah kelompok itu besar. 

Seruan Megawati itu tentu didasari keyakinan bahwa masih lebih besar masyarakat Indonesia yang toleran, cintai damai, menerima perbedaan dan kebhinekaan serta ideologi Pancasila. Hanya saja, selama ini seolah masih diam, dan kinilah saatnya bangkit, bukan dengan perang atau perlawanan secara fisik, tetapi dengan pencerahan.

 


Editor : Marcel Rombe Baan