• News

  • Rebranding

Rebranding Sri Lanka, Menyisakan Jejak Indonesia

Ilustrasi negara Sri Lanka
Aroohatours
Ilustrasi negara Sri Lanka

JAKARTA, NNC - Sri Lanka awalnya bernama Sailan. Di masa pendudukan Inggris, lebih sering disebut Ceylon. Negara ini sempat dijajah bangsa Eropa selama berabad-abad, setelah kekuatan feodal berhasil ditumbangkan.

Negara dengan luas 65.610 kilometer persegi ini mayoritas penduduknya adalah suku bangsa Sinhala yang beragama Buddha (69,3 persen). Kemudian disusul orang Tamil India dan Tamil Sri Lanka yang beragama Hindu (15,5 persen). Selebihnya adalah keturunan Moor dan umat Islam lainnya (10 persen).

Tahun 1972, dengan dukungan rakyat, Presiden William Gopallawa mengubah nama Ceylon menjadi Sri Lanka. Perubahan nama negara bukanlah tanpa tujuan, selain untuk mempertegas identitas negara, rebranding tersebut diharapkan mampu membangkitkan nasionalisme, khususnya bagi bangsa Sinhala dan Tamil.

Tujuan tersebut tidaklah serta merta mudah dicapai. Hal ini terbukti dengan sulit dan lambatnya mengubah nama lembaga yang masih menggunakan kata "Ceylon". Hingga 2011, proses tersebut masih terus berlangsung. Perubahan terkendala, baik dari sisi hukum maupun administrasi, di tingkat lokal maupun di tingkat internasional.

Beberapa lembaga yang terakhir berhasil diubah antara lain, Ceylon Electricity Board, Bank of Ceylon, dan Ceylon Fisheris Corporation. Dengan menghapus kata Ceylon, dan mengubahnya menjadi Sri Lanka (dari bahasa Sanskrit yang berarti daratan yang gemerlapan), pemerintah berusaha semakin mendekatkan diri pada budaya dan identitas khas Sinhala dan Tamil.

Tak tanggung-tanggung, pemerintah juga membentuk kementerian khusus yang bertugas untuk memastikan semua lembaga yang masih menggunakan kata Ceylon agar segera diubah. Dalam laporannya, kemungkinan hanya satu lembaga yang tidak mungkin diubah, yaitu "The Ceylon Tea". Perusahaan teh ini sudah terlanjur menjadi brand ekspor teh unggulan Sri Lanka dan sudah dikenal dunia internasional.

Sejarah Sri Lanka, Erat dengan Indonesia
Di era feodal, Sri Lanka dikenal dengan nama Sailan. Daerah ini menjadi perebutan beberapa kerajaan, antara lain Pandyan dan Chola dari India, Kerajaan Kandy, serta Kerajaan Tamil.

Tahun 1505, armada Portugis mendarat di Ceylon. Mereka mengincar kayu manis yang kala itu menjadi idola komoditi. Portugis berhasil memonopoli perdagangan setelah menundukkan Kerajaan Kandy. Portugis mencengkram Sailan hingga tahun 1656.

Tahun 1656, datanglah armada Belanda dengan kekuatan 2.000 tentara, di bawah pimpinan Kapten Wilhelm Jacobs Coster. Mereka menggempur Portugis beberapa hari dengan dibantu Kerajaan Kandy. Armada Portugis kalah dan pergi ke arah Timur.

Armada Belanda mengambil alih monopoli perdagangan. Mereka sempat membangun benteng, memperkuat tangsi militer, menikah dengan warga setempat (di Nusantara bernama gundik atau nyai). Keturunan mereka bernama “burgher”. Proses percampuran melahirkan bahasa campuran Belanda dan Sinhala.

Antara tahun 1656 sampai 1796, Sailan tercatat mempunyai ikatan erat dengan Nusantara. Daerah ini menjadi tempat pengasingan para pembangkang yang melawan Belanda (VOC) di Nusantara. Ada beberapa tokoh istana, kalangan ningrat, hingga alim ulama di buang ke negeri ini.

Terdapat 176 tahanan politik pada 1790. Dari semua tahan itu, 23 orang di antaranya adalah keluarga dari Nusantara, yaitu Sultan Gusman Usmandan (Raja Gowa), Hulu Balang Kaya (pejabat Kerajaan Gowa), beserta keluarga mereka. Mereka tinggal di daerah kaum Moor yang menganut agama Islam.

Tokoh lainnya adalah Susuhunan Amangkurat III dari Kerajaan Mataram. Tokoh ini dibuang ke Sailan pada tahun 1723. Amangkurat III dibuang bersama 44 pangeran Mataram setelah kalah perang melawan VOC di Batavia, hingga wafat di Sailan tahun 1734.

Tahun 1796, Sailan jatuh dalam kekuasaan armada Inggris. Inggris datang dengan teknologi kapal dan persenjataan lebih canggih. Mereka menggempur armada Belanda tanpa kesulitan. Setelah Belanda terusir, Kerajaan Kandy sempat melawan Inggris selama 25 tahun, tapi kalah.

Pada era pendudukan Inggris, Sailan diubah menjadi Ceylon. Semua orang pun wajib menggunakan bahasa Inggris. Perbudakan yang sebelumnya berjalan juga dihapuskan. Selain itu, perkebunan teh dibuka. Lembaga eksekutif dan legislatif dibentuk dengan melibatkan kelompok suku Sinhala, Tamil, Burgher, dan kelompok muslim.

Memasuki abad ke-20, seiring humanisme merebak di tanah Jawa, di Sailan juga tumbuh kesadaran nasionalisme. Kongres Nasional Sailan dengan nama Ceylon National Congress menjadi kendaraan perjuangan kemerdekaan. Salah satunya adalah perjuangan mendapatkan kursi mayoritas dalam badan legislatif bagi rakyat Sailan .

Pasca-Perang Dunia II memberikan angin segar bagi Sailan. Pada 4 Februari 1948, Ratu Inggris memberikan kemerdekaan dengan menjadikan Sailan sebagai wilayah "British Commonwealth".

Tokoh pergerakan nasionalisme Sri Lanka antara lain, Sirimavo Bandaranaike. Ia tokoh perempuan yang masuk dalam dunia politik. Tokoh lain adalah Sir John Kotelawala, Perdana Menteri Sri Lanka yang ikut dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung, 1955.

Keturunan Nusantara Menjadi Tokoh di Sri Lanka
Ikatan sejarah Sailan dengan Nusantara, meninggalkan beberapa jejak. Ada cukup banyak keturunan Nusantara, kini menjadi penduduk Sri Lanka. Salah satunya adalah Brigadir Jenderal (Purnawirawan) Tuan Samayraan Buhary Sally, mantan pejabat tinggi militer Sri Lanka.

Leluhurnya adalah bangsawan Madura yang dibuang ke Sailan karena menentang Belanda. Hingga kini, ia masih cukup fasih berbahasa Indonesia. Bila ia diundang Kadubes Indonseia di Sri Lanka, ia tak lupa menanyakan kampung halamannya, Madura. Ia mengaku rindu dengan leluhurnya di Madura.

Brigjen Sally hanyalah salah satu keturunan orang Indonesia yang menjadi orang penting di Sri Lanka. Masih ada beberapa tokoh lain. Hal ini menunjukkan bahwa antara bangsa Indonesia dan Sri Lanka mempunyai ikatan khusus.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro
Sumber : Dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?