• News

  • Rebranding

Rebranding Kazakhstan, Ingin Tinggalkan Citra Negara Miskin

Peta negara Kazakhstan.
Dreamstime
Peta negara Kazakhstan.

JAKARTA, NNC - Negara yang satu ini jarang dikenal masyarakat awam. Dalam suatu kesempatan di Jakarta, Duta Besar Kazakhstan untuk Indonesia, Askhat Orazbay, mengakui negaranya jarang menjadi pemberitaan media internasional. Demikian pernyataannya seperti dilansir NNC, 4 Februari 2017 lalu.

Untuk itu, ada baiknya kita semua mencoba mengenali negara ini secara lebih mendetail. Apa pentingnya? Kita bisa belajar dari berbagai kekayaan dan keunikannya.

Kazakhstan Selayang Pandang
Negara ini merupakan negara yang relatif stabil dan tidak memiliki konflik. Walaupun jarang diberitakan media internasional, perlu diketahui, negara ini merupakan negara yang lebih luas dibanding Indonesia, yaitu 2,7 juta kilometer persegi.

Memang, jumlah penduduknya jauh lebih kecil, yaitu tidak sampai 10 persen dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 18,3 juta jiwa. Namun hebatnya, pendapatan domestik bruto negara ini ternyata tak kalah dengan negara kita. Pendapatan utama diperoleh dari tambang minyak (60 persen).

Sebagian besar wilayah Kazakhstan masuk kawasan Asia Tengah dan sebagian kecil lainnya masuk Eropa Timur. Negara ini sering disebut sebagai  “Virgin Lands", karena ada wilayah yang tidak ditinggali dan belum tersentuh peradaban manusia.

Di sebelah Utara dan Barat adalah wilayah Rusia. Di sebelah Timur adalah wilayah Republik Rakyat Tiongkok. Di sebelah Selatan berjajar negara Uzbekistan, Turkmenistan, Kirgistan, dan Laut Kaspia.

Mayoritas penduduk Kazakhstan adalah Suku Bangsa Kazakh. Mereka adalah keturunan Kabilah Turki dan Mongol. Ditengok dari pemeluk agama, 70,2 persen beragama Islam, 26,6 persen beragama Kristen, dan selebihnya adalah memeluk agama Budha serta Yahudi.

Pada awal abad ke-18, Kazakhstan dikuasai Rusia. Pada tahun 1920, Kazakhstan menjadi salah satu wilayah Uni Soviet. Namun, tatkala Uni Soviet bubar, Kazakhstan pun memerdekakan diri, tepatnya pada 16 Desember 1991. Jadi, usianya relatif masih muda.

Upaya Memajukan Kazakhstan, Memindahkan Ibukota Negara hingga Rebranding
Langkah pertama setelah merdeka adalah menentukan ibukota Kazakhstan. Saat di bawah kendali Uni Soviet, ibukota Kazakstan adalah Almaty. Namun pada 1997, dengan didukung rakyatnya, pemerintah negeri ini memindahkan ibukota ke sebelah Utara Almaty, yaitu Kota Astana (berasal daribahasa Turki, artinya ibukota).

Presiden Nursultan Nazarbayev menyatakan bahwa Kota Almaty dianggap kurang strategis. Kota itu terlalu sempit, rawan gempa, dan lokasinya terlalu berdekatan dengan negara lain.

Dengan diliputi semangat perubahan, Presiden Nursultan Nazarbayev juga merencanakan perubahan nama negara. Ia mengusulkan kepada parlemen dan rakyatnya untuk mengganti nama Kazakhstan menjadi Kazakh Eli.

Gagasan perubahan nama negara tersebut disampaikan presiden pada 8 Februari 2014. Menurutnya, Kazakh Eli (mengandung arti "Negeri Orang Kazak") menghapus unsur kata “stan” yang berkonotasi seolah identik dengan negara tetangga yaitu Uzbekistan, Turkmenistan, dan Kirgistan.

Salah satu tujuan perubahan nama adalah untuk melahirkan citra baru dan meninggalkan citra lama yang terkesan sebagai negara miskin. Presiden Nursultan Nazarbayev yakin bahwa Kazakhstan dapat menjadi negara maju, karena mempunyai potensi kekayaan berlimpah.

Kesan sebagai negara miskin telah melekat sejak zaman pendudukan Uni Soviet. Dengan merdeka, seharusnya negara ini mampu menunjukkan kemampuanya dengan disokong oleh sumber daya alam berupa minyak bumi yang melimpah.

Ia juga membandingkan dengan negara tetangganya di sebelah Barat, yaitu Mongolia. Di negara Mongolia, banyak wisatawan berdatangan mengunjungi keindahan negara itu dibanding ke negaranya.

Padahal, Mongolia hanya berpenduduk dua juta jiwa. Kenapa mereka tidak tertarik datang ke Kazakhstan? Sebab, kesan sebagai negara terbelakang masih kental di benak para wisatawan.

Selanjutnya, Presiden Nursultan Nazarbayev menyusun terobosan lainnya. Seperti dilansir Newsweek, 4 Desember 2017, ia meminta pemerintahnya untuk mempersiapkan perubahan alfabet Cyrillic dalam naskah Kazakh menjadi alfabet Latin.

Sejak merdeka, Kazakhstan masih menggunakan Bahasa Rusia dan Bahasa Kazakh sebagai bahasa resmi dengan alfabet Cyrillic. Rencana perubahan tersebut diharapkan sudah tuntas pada 2025. Tujuannya adalah agar Kazakhstan bisa lebih makin dikenal di kancah internasional.

Perubahan secara bertahap adalah pilihan paling logis, mengingat penggunaan alfabet Latin juga akan berdampak di semua bidang kehidupan. Dalam bidang pendidikan, kebutuhan untuk mengganti buku sekolah dengan alfabet Latin adalah salah satu konsekuensi yang harus dihadapi.

Namun patut kita cermati bersama, layaknya negara yang sedang bangkit dan belajar dewasa, selama dua dekade, pemilihan umum presiden belum pernah digelar. Dalam beberapa kesempatan Presiden Nazarbayev mengatakan bahwa pada saatnya, ia siap mengundurkan diri. Proses itu akan ia antar dengan sebaik-baiknya.

Upaya mengantar perpindahan kekuasaan, salah satunya melalu reformasi konstitusi. Seperti dilansir Tempo, 4 Februari 2017, Presiden Nursultan Nazarbayev telah mengeluarkan keputusan mereformasi konstitusi yang isinya cukup monumental.

Banyak penguasa di dunia berusaha mempertahankan kekuasaannya (otoriter). Mungkin karena belajar dari sejarah bahwa kekuasaan itu tak akan pernah kekal, presiden yang kini berusia 77 tahun itu justru mengeluarkan keputusan yang menyunat sejumlah kewenangannya.

Reformasi konstitusi yang ia cetuskan ditayangkan di televisi secara nasional pada 25 Januari 2017. Dalam pidatonya, ia memutuskan melimpahkan sebagian wewenangnya kepada kabinet dan parlemen.

Sejumlah proyek dan program sosial ekonomi yang sebelumnya dikelola oleh presiden dilimpahkan pada kabinet. Sedangkan sebagian kendali pemerintahan lainnya dilimpahkan kepada parlemen.

Gebrakan Presiden Nursultan Nazarbayev, secara perlahan terbukti mampu memajukan Kazakhstan. Ia berhasil menarik investor luar negeri. Dana pembangunan industri minyak bumi mengucur. Pendapatan negara pun berhasil meningkat dari tahun ke tahun.

Gebrakan dan upaya merubah citra serta upaya memajukan negara Kazakhstan, sepertinya memang patut menjadi pelajaran berharga bagi kita semua.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro
Sumber : Dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?