• News

  • Rebranding

Perlukah Lagu Kebangsaan Kita Diubah Seperti yang Dilakukan Rusia?

Ilustrasi 'Indonesia Raya'
GilangAjip
Ilustrasi 'Indonesia Raya'

JAKARTA, NNC - Setiap negara memiliki lagu kebangsaan. Lagu tersebut senantiasa memiliki nilai historis dan pasti mengandung makna yang kaya, baik di dalam syair, melodi, maupun lagunya.

Indonesia memiliki lagu kebangsaan yang sangat bersejarah yaitu “Indonesia Raya”. Lagu gubahan WR Soepratman ini sudah lahir sebelum Indonesia merdeka dan hingga kini tetap menjadi simbol kebanggaan bangsa Indonesia.

Namun, karena Indonesia adalah negara yang beragam budaya, tidak semua unsur budaya Nusantara bisa terakomodir dalam lagu ini. Misalnya, unsur budaya masyarakat Papua, apakah benar-benar terwakili?

Mengkaji ulang bukan hal tabu
Tak ada salahnya, kita mengkaji ulang tentang fungsi Lagu Kebangsaan "Indonesia Raya". Isinya sebenarnya sangat kaya. Selalu dinyanyikan sejak kecil oleh setiap warga Indonesia. Namun, mengapa jiwa ke-Indonesia-an masih sulit menjadi ciri kepribadian bangsa?

Buktinya, penggalan syair “tanah tumpah darahku” tak mampu membuat setiap orang yang mengaku bangsa Indonesia menjadi malu ketika mengkhianati bangsanya. Praktik korupsi dengan mengemplang uang rakyat masih saja terus terjadi.

Saat oknum tersebut ditangkap dan diadili, tak pernah ada tanda-tanda merasa bersalah. Saat sudah bebas dari tahanan, mereka seringkali tetap bisa hidup makmur, bahkan ada yang kemudian kembali mencalonkan diri dalam pemilu legislatif maupun pilkada.

Situasi di Indonesia benar-benar sangat kontras dengan budaya Jepang yang menghargai arti “malu”. Bahkan, di Jepang, bila terbukti korupsi, menyengsarakan rakyat, berani melakukan harakiri.

Jadi, tak ada salahnya bila kita berani menengok dan mengkaji ulang fungsi dan nilai guna lagu kebangsaan kita. Bila memang diperlukan untuk mempertajam jiwa bangsa Indonesia, bukan hal tabu membicarakan dan menggagas perubahan lagu kebangsaan kita.

Kita juga bisa belajar dari negara-negara lain yang pernah mengubah lagu kebangsaannya. Bukan sekadar meniru atau sekadar gagah-gagahan, yang lebih utama adalah menciptakan momentum untuk mengasah ketajaman rasa dan jiwa ke-Indonesia-an.

Kita bisa mengambil salah satu contohnya, yaitu negara Rusia. Negara ini berulangkali mengubah lagu kebangsaan. Mengapa bangsa Rusia mengubahnya? Bagaimana proses mengubahnya?

Rebranding lagu kebangsaan Rusia
Lagu kebangsaan Rusia pertama kali berjudul “Molitva Russkikh” yang berarti “Doa Rakyat Rusia”. Lagu ini dipilih pada 1816 oleh Tsar Aleksander I.

Kala itu, melodi lagu ini hampir sama dengan lagu kebangsaan Inggris yang berjudul “God Save the King”. Bedanya, lagu “Molitva Russkikh” lebih mengagung-agungkan Sang Tsar, penguasa Rusia.

Pengganti Tsar Aleksander I adalah Nikolay I. Penguasa ini merasa bosan dengan lagu “Molitva Russkikh”. Pada 1833, ia memutuskan mengubahnya dengan lagu baru yang lebih gagah. Judulnya “Bozhe, Tsarya Khrani!” yang artinya “Tuhan, Lindungi Tsar!”.

Memasuki 1917, terjadi perubahan sistem politik di Rusia. Monarki Rusia berhasil digulingkan. Lahirlah pemimpin baru yang menginginkan agar lagu kebangsaan menyemangati rakyatnya, bukan hanya bagi kemuliaan penguasa.

Lahirlah lagu yang memuat semangat revolusi. Judulnya “Rabochaya Marseleza”. Lagu ini sebenarnya merupakan versi Rusia dari lagu kebangsaan Prancis yang berjudul “La Marseillaise”.

Kekhususan lagu ini adalah pernyataan bahwa tsar yang sebelumnya dianggap paling kuat dan mulia, berubah menjadi sosok “drakula”. Tsar adalah musuh rakyat dan harus ditumpas.

Tahun 1922, terjadi perubahan lagi. Masa ini, Rusia bernama Uni Soviet yang terkenal dengan sistem komunisnya. Pemerintah mengadopsi “Internationale” sebagai lagu kebangsaan. Sebenarnya lagu ini menyuarakan persatuan kaum buruh di dunia.

Dalam setiap acara negara, lagu persatuan buruh dunia ini rutin dinyanyikan. Dalam syairnya terdapat pernyataan bahwa seluruh dunia yang kelaparan dan diperbudak harus bangkit bersatu untuk menggulingkan kapitalisme.

Pada 1944, perubahan terjadi lagi. Penggagasnya adalah Josef Stalin. Kali ini lagunya benar-benar baru, hasil kolaborasi Sergey Mikhalkov dan Gabriel El-Registan sebagai pencipta lirik, sedangkan Aleksander Aleksandov sebagai penggubah musik. Judulnya "Gimn Sovetskogo Soyuza" atau “Himne Uni Sovyet”.

Stalin sengaja mengubah lagu “Internationale” karena ingin menunjukkan kepada negara-negara sekutunya bahwa Uni Soviet tidak ingin merebut wilayah mereka. Ia ingin bekerja sama dalam menghadapi musuh mereka, yaitu Amerika Serikat.

Lagu ini juga ditujukan untuk membakar semangat Tentara Merah dalam melawan musuh. Memang, masa itu sedang berlangsung Perang Dingin. Lagu ini bertahan cukup lama hingga Uni Soviet runtuh pada 1991.

Uni Sovet berakhir dan lahirlah Rusia. Lahirlah lagu kebangsaan yang baru, yaitu berjudul “Patrioticheskaya Pesnya” atau “Lagu Patriotik”. Lagu ini merupakan sebuah komposisi tanpa teks karya Mikhail Glinka dan digunakan selama tahun 1991 sampai 2000.

Sejak awal, lagu ini sebenarnya ditolak oleh Partai Komunis. Selain terasa aneh karena tanpa teks, Partai Komunis sebenarnya menghendaki agar kembali menggunakan lagu kebangsaan Uni Soviet.

Saat Vladimir Putin terpilih sebagai presiden pada tahun 2000, ia berhasil melobi parlemen agar mau menggunakan lagu kebangsaan yang lama tetapi mengubah liriknya dan disesuaikan dengan situasi Rusia yang baru. Lagu itu berjudul “Gosudartsvenny gimn Rossiyskoy Federatsii” yang artinya “Lagu Kebangsaan Federasi Rusia”.

Hingga sekarang, lagu terakhir ini masih dinyatakan sebagai lagu kebangsaan Rusia. Lagu ini belum diubah walau rakyat Rusia mempunyai pandangan yang berbeda-beda terhadap lagu ini.

Ada sebagian yang terkesan karena mengingatkan masa keruntuhan Uni Soviet. Ada pula yang terkenang atas kekejaman pemerintah di masa Pemerintahan Josef Stalin. Kekejaman itu diharapkan tidak pernah terjadi lagi di manapun juga.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro
Sumber : Dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?