• News

  • Rebranding

Belajar dari Kanada, Mengubah ‘Indonesia Raya‘ Tidak Boleh Semena-Mena

Penggalan lagu kebangsaan Kanada 'O Canada'.
CHFI
Penggalan lagu kebangsaan Kanada 'O Canada'.

JAKARTA, NNC - Setelah bertahun-tahun mendapat kritikan kelompok liberal, lagu kebangsaan Kanada berjudul “O Canada” kemungkinan akan segera berubah. Hal ini ditandai dengan adanya hasil keputusan usulan perubahan lagu oleh para senator dalam parlemen Kanada, pada 31 Januari 2018.

Namun, pascapenetapan keputusan tersebut masih tetap menimbulkan kontroversi. Pro dan kontra masih tetap mewarnai pandangan masyarakat Kanada terhadap usulan perubahan lagu kebangsaan tersebut.

Menyimak dinamika politik dan kebangsaan terkait rencana perubahan lagu kebangsaan Kanada, sebenarnya sangat menarik. Bagi Indonesia, dinamika tersebut bisa memperkaya wacana dan kedalaman kesadaran hidup berbangsa dan bernegara, terutama dalam melihat ulang keberadaan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”.

Perubahan lagu kebangsaan Kanada
Lagu “O Canada” merupakan hasil dari aransemen musik karya Calixa Lavalee pada 1860. Lagu tersebut kemudian diberikan lirik berupa syair berbahasa Perancis oleh Adolphe Basile Routhier pada 1880. Disusul kemudian, lirik berupa syair puisi berbahasa Inggris oleh Robert Satnley Weir pada 1908.

Sebagai salah satu negara persemakmuran Inggris, sebelumnya lagu kebangsaan yang digunakan adalah “God Save the Queen”. Baru pada 1980, parlemen Kanada dengan dukungan rakyat mengganti lagu tersebut dengan lagu “O Canada”. Sejak itu, lagu tersebut sering dinyanyikan dalam dua bahasa, yaitu Perancis dan Inggris.

Menginjak sekitar tahun 1950, muncul pendapat miring terkait beberapa kata dalam lirik karya Robert Satnley Weir. Kata-kata yang dimaksud adalah pada baris “in all thy sons command” yang berarti “dalam diri putramu”.

Lirik tersebut mengandung ketidaksetaraan atau bias gender dan disorot sebagai salah saru bentuk diskriminasi. Oleh sebab itu, sejumlah tokoh politik mengusulkan agar baris lirik tersebut diganti menjadi “in all thy sons command” yang artinya “diri kami semua”.

Sepanjang tahun 2010 hingga 2016, gagasan perubahan itu kembali gencar dibahas. Tarik ulur terjadi dalam parlemen dan sempat berubah-ubah keputusan antara diganti dan batal diganti. Dinamika itu terjadi karena muncul pro dan kontra antara kelompok konservatif dengan kelompok liberal yang tiada henti.

Namun, pada Rabu (31/1/2018), sidang para senator menghasilkan rekomendasi mengejutkan, yaitu mengesahkan permintaan perubahan lirik "in all thy sons command" menjadi "in all of us command". Usulan parlemen ternyata juga mendapat dukungan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau yang cenderung pro-Liberal.

Pro dan kontra masih terjadi, tetap diakomodir
Pada 2018, banyak pengamat politik memandang bahwa parlemen Kanada saat ini didominasi oleh kelompok liberal. Maka tak heran apabila menghasilkan usulan agar dilakukan perubahan lagu untuk mempertegas jatidiri bangsa Kanada yang antidiskriminasi dan menentang ketidaksetaraan gender.

Parlemen juga diperkuat dengan keberadaan Perdama Meteri Justin Trudeau. Namun, bukan berarti negara tersebut menutup mata terhadap suara rakyat. Hingga kini, masih tetap ada sebagian rakyat yang kurang setuju dengan keputusan tersebut.

Rupanya, parlemen dan pemerintah Kanada tetap sabar untuk menuju proses selanjutnya. Artinya, perubahan tidak dilakukan secara otoriter. Maka, dilakukanlah polling. Hasilnya, memang tidak semua rakyat Kanada mendukung keputusan perubahan lirik lagu kebangsaan mereka.

Bagi kalangan pendukung kaum konservatif berpendapat bahwa perubahan lirik lagu bisa mengakibatkan Kanada kehilangan jati diri mereka di mata dunia. Selain itu, perubahan lagu juga dianggap sebagai bentuk kemunduran semangat nasionalisme dan patriotisme Kanada.

Masih melalui proses “Royal Assent”
Walaupun usulan perubahan sudah diputuskan parlemen, bukan berarti secara otomatis  lirik lagu kebangsaan Kanada berubah. Masih ada proses yang harus dilalui bersama yaitu berupa “Royal Assent".

"Royal Assent" bisa juga disebut sebagai bentuk persetujuan Kerajaan Inggris dalam arti pengukuhan yang dilakukan oleh Gubernur Jenderal Kanada bersama Usher of the Black Rod dan senator-senator parlemen untuk pengesahan terakhir kalinya sebelum dijalankan atau prosedur protokoler terakhir.

Dalam tahap ini, peran Gubernur Jenderal sebagai perwakilan Britania Raya, Ratu Elizabeth II di Kanada ikut menentukan sikapnya. Adapun Gubernur Jenderal Kanada saat ini dijabat oleh David Lloyd Johnston. Artinya, usulan parlemen akan diuji sekali lagi, jangan sampai lebih banyak mudaratnya dibanding manfaatnnya.

Hikmah bagi Indonesia
Upaya mengubah “hanya beberapa kata” dalam lirik lagu kebangsaaan ternyata harus memalui proses yang panjang dan melelahkan. Diperlukan jiwa besar, kesabaran, tetap diliputi semangat persatuan, dan bukan menjadi ajang saling menjatuhkan serta merugikan negara.

Dilihat dengan kacamata kesabaran saja, bangsa Indonesia harus bisa belajar. Pentingnya pemahaman soal kesetaraan gender bagi Kanada begitu penting dan perdebatan tetap dalam situasi kondusif. Kesabaran memberikan kesempatan bagi rakyat Kanada baik yang pro maupun yang kontra adalah wujud pendewasaan jiwa bangsa.

Kita tahu bahwa di Indonesia, titik tolak dan cara pandang terhadap persoalan perjuangan kesetaraan gender, masih sangat beragam. Kelompok masyarakat yang bertitik tolak atau berdasarkan sudut pandang ajaran agama tertentu berdebat dengan kelompok pendukung feminisme atau pendukung hak asasi manusia saja, pasti membutuhkan dialog yang sangat panjang. Apalagi bila disulut sentimen SARA.

Namun, panjang pendeknya proses perdebatan dalam suasana kondusif adalah wujud pendewasaan bangsa. Wacana digulirkan dan muncul pro dan kontra. Keduanya berdialektika hingga di suatu titik mencapai titik temu pada visi yang ingin dituju.

Mungkin pada akhirnya tidak didukung 100 persen, tetapi minimal benar-benar didukung mayoritas rakyat yang sadar maksud dan tujuan perubahan tersebut. Bukan mendukung tetapi tidak paham maksudnya.

Untungnya, dalam lirik lagu “Indonesia Raya”, tampaknya tidak ada unsur bias gender. Walau begitu, bisa saja suatu ketika muncul kebutuhan untuk melakukan perubahan lirik lagu “Indonesia Raya”, seperti pernah diusulkan Ricky Sutanto, pendiri Blossom Group sekaligus salah satu pendiri NNC.

Berulang kali di berbagai kesempatan, Ricky Sutanto mengusulkan perubahan kata mulai dari kata “Indonesia”, bendera Sang Saka Merah Putih, hingga perubahan beberapa kata dalam lirik lagu “Indonesia Raya”.

Jika suatu ketika bangsa Indonesia berkenan melakukan perubahan lirik “Indonesia Raya”, seyogyannya dilakukan melalui proses penuh kesabaran, mendidik dan mendewasakan bangsa, memperkaya jiwa bangsa, serta bukan semata-mata mengejar target cepat berubah.

Artinya, perubahan bukanlah hasil dari keputusan semena-mena dan otoriter. Bangsa Indonesia harus bisa belajar dari bangsa Kanada

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro
Sumber : Dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?